RSS

PENDIDIKAN DAN DISKONTINIUTAS

Dalam memahami materi ini penulis menganalisis beberapa point penting dalam menjelaskan topik ini,antara lain:

  1. A.    Konsep Dasar  Pendidikan dan Diskontiniutas

Kita telah ketahui dan pahami bila kita berbicara mengenai pendidikan,pasti pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, untuk itu penulis berkesimpulan bahwa Pendidikan adalah  menanamkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pada masing-masing generasi dengan menggunakan pranata-pranata, seperti sekolah-sekolah yang sengaja diciptakan untuk tujuan tersebut.

Setiap masyarakat telah menemukan bahwa menyampaikan pendidikan mereka tidak dibiarkan terjadi secara kebetulan saja. Anggaplah bahwa anak-anak menyerap kebudayaan dari berbagai pengalaman hidup sehari-hari, namun asimilasi informasi yang demikian tidak dapat menjamin bahwa anak-anak menerima elemen-elemen budaya yang tepat, yang diyakini oleh masyarakat yang seharusnya mereka miliki, sekiranya mereka harus mengenalkan atau memperbaharui kebudayaan tersebut untuk itu

Diskontinuitas adalah ketidaksinambungan antara tradisi dan kebudayaan yang baru dan  dapat menimbulkan kesenjangan antara kaum tua dan kaum muda, diskontinuitas menimbulkan karakteristik baru yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya masih global

Oleh karena itu pendidikan termasuk dalam proses umum yang dikenal sebagai enkulturasi. Dalam  kamus lengkap bahasa Indonesia, Enkulturasi memiliki arti sebagai Pembudayaan. Adapun enkulturasi dapat dimisalkan seorang anak yang bertumbuh diinisiasikan ke dalam cara hidup dari masyarakatnya. Untuk mengerti dinamika enkulturasi, karena enkulturasi mempengaruhi pendidikan kita harus menoleh ke antropologi. Kita mengetahui bahwa setiap kebudayaan berbeda dalam tingkat diskontinuitas pendidikan yang mereka bebankan antara masa kanak-kanak dan kedewasaan.

Dalam beberapa kebudayaan peningkatan ke arah kedewasaan berjalan lancar dan tidak terputus sedang dalam kebudayaan lain seperti kebudayaan kita, remaja secara mendadak diharuskan untuk menyesuaikan cara hidupnya ke alam kedewasaan sehingga mengakibatkan ketertekanan dan ketengangan. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan bagi pendidikan.

Satu dari sifat yang sangat menarik dari proses enkulturasi dalam masyarakat industri modern ialah pemisahan yang tajam antara kepribadian yang matang dengan kepribadian yang belum matang. Dalam berbagai cara masyarakat-masyarakat ini membedakan perilaku dan nilai yang tepat untuk anak-anak dari sikap dan perbuatan yang diharapkan dari orang-orang dewasa. Dalam masyarakat setiap remaja menghadapi diskontinuitas yang besar yang tiba-tiba masuk dalam proses pertumbuhan mereka. Bagi banyak orang umur belasan sudah merupakan masa perubahan biologis dan psikologis yang sangat mengganggu, beban yang ditambahkan untuk berpindah dari satu cara hidup ke cara hidup yang lain merupakan ketegangan yang akut dan panjang.

Tidak semua masyarakat secara sengaja memisahkan proses pertumbuhan. Dalam banyak masyarakat sederhana proses enkulturasi bergerak dengan lancar dan berkelanjutan menuntun anak-anak untuk matang secara berangsur-angsur tanpa tekanan yang tiba-tiba dan keras. Dari pada mengahadapinya dengan tiba-tiba kepada tuntutan kedewasaan, mereka membimbingnya dengan melalui beberapa tahap, tiap tahap denga peran tertentu.

  1. B.     Diskontinuitas dalam Kebudayaan Amerika

Diskontinuitas paling hebat yang dialami anak Amerika ialah antara keluarganya dan dunia yang lebih  luas Dalam masyarakat Amerika anak-anak dibesarkan hampir oleh satu orang tua yaitu ibunya.ibunyalah yang mendisiplinkan, menghadiahi, dan menyanyanginya. Hari-hari seorang ayah kurang nyata dan kurang berpengaruh kepada kehidupan anaknya. Sedangkan dalam masyarakat sederhana adalah sebaliknya, anak-anak diasuh oleh berbagai kerabat dan dalam semua masyarakat sederhana dia diperhatikan oleh semua saudara-saudaranya. Di Amerika sekarang masa kanak-kanak dan kedewasaan juga terpisah sangat tajam sebab anak-anak tidak punya tanggungjawab social dan ekonomi. Di kota-kota terutama, permainannya tidak mempersiapkannya untuk sebuah pekerjaan.

 

  1. C.    Pendidikan dan Diskontiniutas yang Didorong Secara Budaya

Dalam menjelaskan dan memahami mengenai topik ini,dalam topik ini akan dibahas beberapa point antara lain.

  1. 1.      Diskontinuitas dan pendidikan Karakter

Pada umumnya antropolog menganggap  masalah remaja sebagai hasil tekanan budaya. Psikoanalitis, pada segi lain menganggapnya bersumber dari hal yang bersifat biologis. Oleh karena itu kesulitan remaja dapat di atasi jika pola budaya mendorongnya dapat berubah. Margaret Mead  dalam Manan (1989: 80) mengatakan bahwa tekanan dan ketegangan semasa bertumbuh disebabkan oleh tuntutan budaya dan tidak mempunyai dasar biologis sama sekali.

Pandangan Mead tentang diskontuitas yang didorong oleh kebudayaan mempunyai arti bahwa di rumah dan juga sekolah dimana ketergantungan anak diperpanjang secara artificial (tidak alami) untuk meningkatkan disiplin, anak-anak harus diperlakukan  lebih sebagai orang dewasa yang potensial, mengasimilasi nilai-nilai dan perilaku sama seperti yang diharapkan kelak jika mereka dewasa. Cara satu-satunya bagi sekolah untuk mempengaruhi gerakan kebudayaan umum ialah dengan mendidik untuk membentuk kepribadian yang lentur. Menurut Mead untuk membangun kepribadian yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah mempunyai keluarga yang toleran yang anggota-anggotanya dapat berbeda pendapat dengan ketegangan emosi.

  • Aliran Progresif dan Konservatif

Aliran progresif menekankan untuk membela bahwa dari awal kehidupannya anak- anak harus mempraktekkan kebebasan dan tanggung jawab yang besar. Menurut aliran ini peran guru bukan memerintah tetapi bekerja sama dengan murid-murid terutama  bila mereka merasa murid-murid memerlukan guru. Pendidikan progresif  juga membuat sekolah bertanggung jawab bagi persiapan social anak-anak dengan mengajar mereka bagaimana bertingkah laku terhadap lawan jenis.

Aliran Konservatif menekankan Golongan konservatif menyetujui diskontinuitas ini atas dasar bahwa moral yang longgar dari banyak orang dewasa tidak menjustifikasi penurunan standar-standar yang diajarkan kepada anak-anak. Betapa banyakpun kita menyesalkan diskontinuitas ini, kata mereka, cara untuk menghilangkan bukan dengan cara menurunkan nilai perilaku anak-anak, tetapi dengan memperbaiki perilaku orang dewasa. Golongan konservatif juga mengatakan bahwa anak-anak harus diajar standar nilai moral yang tegas, bukan dibiarkan membentuk standar sendiri. Mereka menekankan bahwa nilai-nilai demikian adalah universal dan bahwa dalam hal apapun, anak-anak kurang pengalaman untuk menimbang dengan kebijaksanaan untuk dirinya menyangkut hal-hal moral.

  1. 2.      Diskontinuitas dan pertumbuhan intelektual

Cara yang terbaik untuk mengurangi diskontinuitas dalam pertumbuhan intelektual adalah dengan mengajar sesedikit mungkin segala yang harus dilupakannya nanti, dengan cara yang terbaik untuk melakukan ini ialah dengan mengajar anak bagaimana, berfikir, tidak apa, berfikir itu. Ini adalah tujuan yang semua pendidik masa kini akan menyetujuinya, hanya mangenai cara-caranya mereka berbeda pendapat Dalam pandangan kaum progresif, siswa-siswa harus mempelajari bagaimana berfikir terutama melalui kajian ilmiah mengenai isu-isu masa kini, yang dialami mereka sebagai permasalahan yang sesungguhnya dengan perhatian sendiri.

Pendidik progresif juga Pendidik –pendidik konservatif menolak bahwa perhatian anak-anak mempunyai hubungan yang perlu baik dengan kehidupan dewasa ataupun pertumbuhan intelektual. Paham konservatif menolak metode pemecahan masalah yang dikemukakan kaum progresif. Mereka membentuk persiapan terbaik untuk berhadapan dengan diskontinuitas yang didorong secara budaya, karena mereka mengajari seseorang bagaimana berfikir secara efektif dalam segala keadaan.

Sumber Rujukan

Manan, Imran. 1989. Anthropologi Pendidikan Suatu Pengantar. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: