RSS

Gender dan Karir

BAB I

PENDAHULUAN

Dunia kerja adalah dunia yang penuh gejolak,. Ada perebutan kesemptan, ada kompetensi, tangis, tawa dan kemasyuran. Dunia kerja itu penuh daya tarik. Dan kini baik pria maupun wanita saling bersaing menikmatinya. Dunia kerja itu indah. Karena di sini segala cita, rasa, ditumpahkan untuk menghasilkan karya yang membahagiakan hati dan orang lain. Dunia kerja itu panggilan jiwa. Dan anda yang memenuhi panggilannya dituntut untuk mempunyai komitmen, sikap dan kecintaan pada kerja yang mendalam. Tanpa itu, kerja hanyalah pengisi waktu senggang semata.

Perbedaan jenis kelamin yang sering dituntut kesetaraannya ini merupakan jenis interpretasi sosio-kultural, seperangkat peran yang dikontruksi oleh masyarakat bagaimana menjadi laki-laki atau perempuan. Perkembangan peradaban manusia, sosial bermasyarakat, agama bahkan  perkembangan teknologi mempengaruhi cara berfikir seseorang tentang konsep hidup seperti karir dan keluarga.

Seiring perkembangan zaman, adanya gerakan kaum feminis, terbukanya arus globalisasi dan informasi, serta meningkatnya tingkat pendidikan perempuan, perempuan Indonesia kini sudah banyak yang bekerja dan berkarya, Dominasi kaum laki-lakipun mulai terkikis seiring tidak sedikitnya perempuan yang mempunyai peranan lebih. Semakin banyaknya perempuan yang keluar rumah untuk bekerja juga menyita porsi laki-laki dalam dunia kerja. Termasuk dalam dunia politik, peraturan yang mengharuskan memberi jatah 30 % kursi anggota dewan kepada perempuan.

Dunia politik, dimana kekuasaan diperebutkan, sungguh sangat menarik bagi kebanyakan orang. Entah ingin mengabdi kepada negara dengan memberikan ide-ide baru dalam pemerintahan atau sekedar menginginkan profesi yang diperebutkan yang seperti biasa disebut “Anggota Dewan yang Terhormat”.Laki-laki dan perempuan mengambil persediaan keputusan karir dan membuat perubahan dan transisi untuk memenuhi kebutuhan untuk karirnya, keluarga, dan diri sendiri.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Gender

Istilah gender seringkali disama­arti­kan dengan jenis kelamin. Walaupun gender dan jenis kelamin beraitan dengan per­be­da­an antara laki-laki dan perempuan, namun kedua istilah tersebut mengan­dung makna yang sangat berbe­da. Jenis kelamin (sex) diartikan sebagai perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang bersifat “kodrati”, karena perbedaan tersebut merupakan pemberian Sang Maha Pencipta yang dibawa dari lahir.

Perbedaan ciri dan fungsi perempuan dan laki-laki akibat perbedaan jenis kelamin bersfiat tetap dan tidak dapat dipertukarkan, misalnya: (a) perbedaan kromoson XY untuk laki-laki, dan XX untuk perempuan, (b) perbedaan hormon, yaitu hormon androgen atau testoron pada laki-laki, dan dominannya hormon androgen pada perempuan, (c) perbedaan fisik, yaitu penis dan testis serta jakun pada laki-laki, dan rahim, vagina, serta payudara untuk perempuan; (d) perbedaan fungsi reproduksi biologis, yaitu laki-laki memiliki sperma yang berfunsgi untuk membuahi (menghamili), dan perempuan memiliki ovum serta struktur organ biologis tertentu sehingga dapat mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui.

Berbeda dengan jenis kelamin, gender adalah konstruksi sosial mengenai perbedaan peran, kedudukan, dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Konstruksi sosial tentang gender merupakan buatan manusia, bukan kodrat. Oleh karena itu, konstruksi sosial tersebut bersifat dinamis, tidak universal dan juga tidak abadi, melainkan dapat berubah. Apa yang dipandang pantas dilakukan oleh laki-laki atau perempuan di suatu tempat atau kurun waktu tertentu, bisa berbeda di tempat atau waktu lainnya.

Sebagai contoh, sifat cengeng yang dianggap menjadi ciri perempuan, adalah sifat yang juga ditunjukkan oleh banyak laki-laki. Tugas memasak yang dianggap tugas utama perempuan, juga dapat dilakukan dengan baik oleh laki-laki. Beberapa pekerjaan dan posisi yang dulu dianggap hanya cocok untuk laki-laki, sekarang ini sudah banyak ditempati oleh perempuan, seperti direktur, pilot, presiden, dan sebagainya.

 

  1. B.     Remaja dan Pemilihan Karir

Dalam perkembangan sosio emosional remaja, terdapat suatu bahasan menarik mengenai remaja dalam pemahaman pekerjaan dan juga dalam penentuan pemilihan karir pekerjaan. Dalam keadaan yang normal, seseorang dapat memilih suatu pekerjaan yang disenanginya. Dalam hal ini subjektifitas orang akan nampak. Pada anak-anak dan remaja unsur subjektifnya tadi masih sangat menguasai sehingga pilihannya tadi tidak bisa terlalu realistis.

Misalnya anak kecil ingin menjadi sopir bis karena atas dasar pengalamannya yang masih terbatas, dirasa begitu menarik untuk duduk di belakang stir kendaraan yang begitu besar. Pilihan pekerjaan yang sungguh-sungguh bukanlah suatu tindakan sesaat saja, melainkan merupakan hasil suatu proses pemikiran dan pengalaman tertentu, walaupun hasilnya nanti mungkin juga dapat bersifat sementara lagi.

Dalam kenyataannya seorang remaja ketika menentukan pilihan karir, seringkali tidak dilakukannya sendiri. Berk (1993) menyatakan bahwa penentuan dan pemilihan karir seorang remaja ditentukan oleh berbagaa faktor diantaranya orang tua, teman-teman, gender, dan karakteristik diri sendiri.

  1. C.    Permasalahan gender dalam pencapaian tujuan karier

Permasalahan gender tampak pada pencapaian tujuan karier, baik pada laki-laki maupun perempuan. Hal ini nyata pada  jumlah dan persentase perempuan Indonesia yang bekerja di luar rumah, baik yang menikah maupun belum menikah, terus bertambah. Tetapi, jenis dan mutu lapangan kerja yang dimasuki terbatas pada lapangan kerja kasar dan bergaji rendah (Wahyuni,1997; Soetrisno,1997). Selain itu, data menunjukkan, bahwa perempuan masih  tertinggal dari laki-laki.

Data yang dihimpun oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia (2007) menunjukkan bahwa di bidang pendidikan, angka buta huruf perempuan 14,5 % lebih besar dari laki-laki yaitu 6,9%,  Di bidang ekonomi, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) laki-laki jauh lebih tinggi (86,5%) daripada perempuan (50,2%). Di bidang politik pengambil keputusan dari pemilu 2004 keterwakilan perempuan 11% untuk DPR, dan 19,8% untuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi, struktur, dan budaya hukum yang diskriminatif gender.Pejabat Eselon:Dari 645 EselonI,  Laki-laki = 582 (90,23%), Perempuan = 63 (9,77%). Dari 11.255 eselon II, Laki-laki = 10.500 (93,29%), perempuan = 755 (6,71%).

Permasalahan  lainnya adalah arah pilihan karier yang streotipe gender. Misalnya,  (1) siswa perempuan lebih memilih lapangan kerja  yang tidak menuntut  penguasaan teknologi tinggi; (2) siswa laki-laki lebih tertarik pada lapangan kerja ilmiah dan berada di kawasan publik; (3) siswa perempuan  menghindari lapangan kerja  yang didominasi laki-laki, sebaliknya siswa laki-laki cenderung menghindari pekerjaan yang didominasi  perempuan (Betz, 1996, Selanjutnya, arah pilihan studi siswa dipengaruhi anggapan dalam masyarakat bahwa sekolah kejuruan (STM) adalah sekolah untuk laki-laki. Sebaliknya, home economics (SMKK) adalah sekolah khusus perempuan. Fakultas sains dan matematik, komputer, teknik dan industri adalah fakultas laki-laki. Sedangkan fakultas ilmu pendidikan dan keguruan, dan  fakultas ilmu sosial dianggap fakultas perempuan. Sementara fakultas psikologi, ekonomi, dan kedokteran tergolong fakultas laki-laki, tetapi banyak diminati oleh perempuan (Suleeman, 2000).

Mencermati potret permasalahan gender dalam pencapaian tujuan karier tersebut, saya berkesimpulan bahwa pilihan karier siswa ditentukan oleh familiar tidaknya siswa  terhadap bidang karier tertentu, sementara familiar tidaknya siswa  terhadap bidang karier tertentu sangat terkait dengan RKdK yang terbentuk dari hasil sosialisasi identitas dan peran jender yang bias gender di masa lalu. Karena itu, upaya untuk mengubah tujuan-tujuan vokasional siswa hendaknya memperhitungkan kekuatan sosialisasi yang terkait dengan RKdK.

Konsep rasa keberhasilan (self-efficacy), pertama kali dikemukakan oleh Bandura, pelopor teori belajar sosial, terkait dengan  pembahasan tentang keyakinan  seseorang atas kemampuan dirinya sendiri (Bandura,1986;Bandura, 1997). Rasa keberhasilan meliputi berbagai bidang  kehidupan, salah satu  di antaranya adalah RKdK (career self- efficacy), yakni ketegasan untuk memilih, dorongan untuk berunjuk kerja, dan kegigihan dalam merespon tugas-tugas  dalam  bidang studi dan lapangan kerja tertentu.

Dinamika perkembangan RKdK merupakan interaksi antara  proses internal dan eksternal yang berlangsung  melalui fase motivasi dan fase volitional. Pada fase motivasi, seseorang mengembangkan minat berdasar persepsi terhadap resiko, pengharapan hasil, dan kemampuan diri sendiri. Pada fase volitional, individu merencanakan kegiatan, berusaha dengan gigih,  tidak takut gagal, dan merasa  akan mampu bangkit dari kegagalan.

Dalam konteks persekolahan, tinggi-rendahnya RKdK dapat ditelusuri melalui perilaku vokasional siswa. Siswa yang menganggap bidang karier tertentu  sulit, kepercayaan dirinya menurun dan merasa akan gagal apabila ia memilih karier tersebut. Karena itu, ia tidak berminat dan tidak mau memilih  karier itu.  Sebaliknya, apabila siswa menganggap bidang karier tertentu gampang,  ia akan percaya diri dan merasa akan sukses apabila ia memilih bidang karier tersebut. Karena itu, ia akan tertarik, memilih, merencanakan tindakan, dan berusaha merealisasikan rencana dengan strategi yang berbeda-beda. Sebaliknya, siswa yang kurang percaya diri, akan merasa tidak berdaya, dan menutup diri terhadap pengalaman-pengalaman yang dapat  mengaktualkan potensi dirinya ke arah pilihan karier. Kalaupun  berusaha, usaha  yang dilakukan  tidak optimal, dan terpaku pada satu strategi. Apabila mengalami kegagalan ia akan terpuruk dalam kegagalannya, atau tidak mampu bangkit dari kegagalan

  1. D.    Sumber dan Hambatan Perkembangan Rasa Keberhasilan dalam Karier

Dari sudut pandang  teori belajar sosial,  RKdK pada diri siswa terbentuk, berubah dan berkembang, karena hasil belajar melalui salah satu atau kombinasi dari empat sumber utama, yaitu (1) pengalaman yang terkait kesuksesan dan kegagalan di masa lalu (performance accomplishment), (2) pengamatan terhadap perilaku orang lain (vicarius learning), (3) tingkat ketegangan emosi dalam menghadapi tantangan (emotional arousal), dan (4) pemberian motivasi dari orang lain (verbal persuasion).(Bandura, 1997; Zeldin, 200)

Dari keempat sumber itu, sumber yang paling utama adalah pengalaman sukses dan gagal yang dialami anak akibat pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) dari orang tua. Penghargaan dan hukuman dari orang tua bergantung pada sesuai tidaknya perilaku anak dengan harapan orang tua. Orang tua umumnya mengharapkan anak laki-lakinya menjadi pekerja keras, cerdas, jujur, ambisius, agresif, independen, dan sukses. Sebaliknya, anak perempuan diharapkan menjadi istri yang baik,  ibu rumah tangga yang baik, dan perawat anak yang penuh kasih sayang (Zunker, 1990; Elliot, 2000).

Perbedaaan harapan seperti ini menimbulkan perbedaan dalam pemberian penghargaan dan hukuman. Anak yang berperilaku sesuai dengan harapan orangtua dianggap anak yang baik dan diberi penghargaan, sebaliknya anak yang berperilaku tidak  sesuai dengan harapan orang tua diberi hukuman. Demikian juga yang berlangsung dalam masyarakat, orang yang bertindak tidak sesuai dengan harapan (stereotipe gender) masyarakat dianggap berperilaku menyimpang dan mendapat hukuman dari masyarakat, sebaliknya orang yang bertindak sesuai dengan harapan masyarakat dianggap baik dan mendapat penghargaan dari masyarakat. Perbedaan bentuk perlakuan  dan adanya streotipe gender  yang berkaitan dengan maskulinitas dan feminitas akan menghambat perkembangan RKdK.

Meskipun tidak sebesar pengaruh pengalaman yang berhubungan dengan kesuksesan dan kegagalan di masa lalu, mengamati perilaku orang lain  juga merupakan sumber dan penghambat RKdK. Ada dua proses yang saling terkait dalam belajar mengamati, yaitu penguatan (reinforcement) dan peniruan (modeling). Anak meniru suatu perilaku jika ia mendapat penguatan positif dari hasil peniruannya. Model perilaku orang tua dan anggota keluarga yang diamati anak pada umumnya  berbentuk  aktivitas peran gender tradisional, seperti memasak dan belanja untuk ibu dan anak perempuan, mencuci mobil dan memancing untuk bapak dan anak laki-laki. Jika anak meniru model perilaku orang tua dan anggota keluarga lainnya, anak mendapat pengukuhan berupa penghargaan, sebaliknya jika anak tidak meniru perilaku orang tua dan anggota keluarga anak dianggap berperilaku menyimpang dan mendapat hukuman. Akibatnya, anak cenderung mencari jalan aman untuk menghindari hukuman. Kebiasaan mengamati perilaku orangtua dan anggota keluarga lainnya, dan kecenderungan anak  menghindari hukuman menjadi salah satu penyebab rendahnya RKdK.

Ketegangan emosi terkait dengan tinggi-rendahnya RKdK tampak pada perilaku perempuan yang tidak mandiri, kurang asertif, dan selalu mengalah dan dikalahkan dalam hubungan antarpribadi dan dalam pengambilan keputusan karier. Perempuan kurang tegas dalam membuat perencanaan dan mengambil  keputusan karier karena khawatir terjadi konflik  antara kebutuhannya untuk berprestasi dan citra dirinya sebagai ibu rumah tangga serta takut kehilangan identitas diri sebagai perempuan yang lemah-lembut. Sementara laki-laki yang memiliki RKdK yang rendah tampak pada perilaku tertutup, pesimistik, komunikasi dengan lawan jenis di dalam  keluarga dan pekerjaan  mengalami hambatan. Gejala ini muncul karena perasaan takut gagal yang bersumber dari pemahaman terhadap kegagalan yang bias gender, kegagalan dipahami sebagai simbol sifat lemah yang biasanya dilekatkan pada perempuan. Karena itu, laki-laki yang mengalami kegagalan dicap  sebagai laki-laki yang lemah.

Persuasi verbal dalam bentuk pemberian dorongan yang kuat menumbuhkan keseimbangan mental dan kepercayaan diri, dan memperbesar upaya untuk mencapai kesuksesan. Begitu juga sebaliknya, pemberian dorongan yang kurang kuat  menimbulkan perasaan kurang puas, mengurangi kepercayaan diri, dan memperlemah semangat mencapai tujuan. Persuasi verbal umumnya diberikan sesuai dengan persepsi dan konseptualisasi tentang pentipean jenis kelamin.

Laki-laki dikonseptualisasikan sebagai orang kuat, dianggap cocok untuk pekerjaan berat dan kasar, beresiko tinggi, berada di kawasan publik, dan menuntut pengetahuan dan keterampilan tinggi. Sebaliknya, perempuan dikonseptualisasikan sebagai orang lemah, cocok untuk pekerjaan-pekerjaan ringan, beresiko rendah, berada di kawasan domestik, tidak  memerlukan pengetahuan dan keterampilan tinggi. Karena itu, perempuan kurang mendapat  dukungan dari anggota keluarga atau masyarakat untuk memilih dan menekuni program studi  di bidang sains, matematik, dan komputer sebagai prasyarat untuk mengisi peluang-peluang karier profesional yang lebih menjanjikan (Good, Gilbert, dan Scher, 1990).

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dunia kerja adalah dunia yang penuh gejolak,. Ada perebutan kesemptan, ada kompetensi, tangis, tawa dan kemasyuran. Dunia kerja itu penuh daya tarik. Dan kini baik pria maupun wanita saling bersaing menikmatinya. Dunia kerja itu indah. Karena di sini segala cita, rasa, ditumpahkan untuk menghasilkan karya yang membahagiakan hati dan orang lain. Dunia kerja itu panggilan jiwa. Dan anda yang memenuhi panggilannya dituntut untuk mempunyai komitmen, sikap dan kecintaan pada kerja yang mendalam. Tanpa itu, kerja hanyalah pengisi waktu senggang semata.

Perbedaan jenis kelamin yang sering dituntut kesetaraannya ini merupakan jenis interpretasi sosio-kultural, seperangkat peran yang dikontruksi oleh masyarakat bagaimana menjadi laki-laki atau perempuan. Perkembangan peradaban manusia, sosial bermasyarakat, agama bahkan  perkembangan teknologi mempengaruhi cara berfikir seseorang tentang konsep hidup seperti karir dan keluarga.

Seiring perkembangan zaman, adanya gerakan kaum feminis, terbukanya arus globalisasi dan informasi, serta meningkatnya tingkat pendidikan perempuan, perempuan Indonesia kini sudah banyak yang bekerja dan berkarya, Dominasi kaum laki-lakipun mulai terkikis seiring tidak sedikitnya perempuan yang mempunyai peranan lebih. Semakin banyaknya perempuan yang keluar rumah untuk bekerja juga menyita porsi laki-laki dalam dunia kerja. Termasuk dalam dunia politik, peraturan yang mengharuskan memberi jatah 30 % kursi anggota dewan kepada perempuan.

  1. B.     Saran

Gunakanlah makalah ini dengan sebaik-baiknya dan jadikanlah makalah ini sebagai bahan referensi untuk makalah yang sejenis

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agustinar. (2008). Bias-Bias Gender dalam Persepsi Konselor Sekolah Pada SMA Negeri Makassar.  Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Ilmu Pendididikan.

Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Engglewood Cliffs.

Bandura, A. (1997). Self-efficacy:The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman Company

Pajares, F. (2002). Overview of Social Cognitive Theory and of Self-efficacy. 21-12-2004. from http://www.emory.edu/EDUCATION/mfp/eff.html

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: