RSS

Gender dan Agama

BAB I

 

      PENDAHULUAN

Masalah kesadaran gender dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, termasuk di Indonesia telah mencuat ke permukaan. Berbagai struktur dan kultur yang selama ini mengabaikan perempuan digugat; dan upaya dekonstruksi terhadap pemahaman dan pelaksanaannya dilakukan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kesenjangan gender adalah dikarenakan bermacam-macamnya penafsiran tentang pengertian gender itu sendiri. Seringkali gender dipersamakan dengan sex (jenis kelamin laki-laki dan perempuan), dan  pembagian jenis kelamin laki-laki dan perempuan ini serta peran dan tanggung-jawabnya masing-masing, telah dibuat sedemikian rupa dan berlalu dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad, sehingga lama kelamaan masyarakat tidak lagi mengenali mana yang  gender dan mana yang sex. Bahkan peran gender oleh masyarakat kemudian diyakini seolah-olah merupakan kodrat yang diberikan Tuhan.

Sebagai akibat dari pembagian peran dan kedudukan yang sudah melembaga antara laki-laki dan perempuan, baik secara langsung –berupa perlakuan/sikap, maupun tidak langsung –berupa dampak suatu peraturan perundang-undangan dan kebijakan, telah menimbulkan berbagai ketidak-adilan. Ketidak-adilan ini telah mengakar dalam sejarah, adat-istiadat, norma hukum ataupun struktur dalam masyarakat.

Ketidak-adilan ini boleh jadi timbul dikarenakan adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradaban manusia dalam berbagai bentuknya, yang tidak hanya menimpa kepada kaum perempuan, akan tetapi juga menimpa kaum laki-laki; walau secara menyeluruh ketidak-adilan gender dalam berbagai kehidupan ini lebih banyak menimpa kaum perempuan.

Perbedaan secara biologis antara laki-laki dan perempuan telah mempunyai impelementasi di dalam kehidupan sosial budaya. Persepsi yang seolah-olah mengendap di dalam bawah sadar seseorang ialah jika seseorang mempunyai atribut biologis, seperti penis pada diri laki-laki atau vagina pada diri perempuan, maka itu juga menjadi atribut gender yang bersangkutan dan selanjutnya akan menentukan peran sosialnya di dalam masyarakat.

 

GENDER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 

Sebelum menguraikan bagaimana pandangan Islam terhadap gender, perlu dikemukakan terlebih dahulu pandangan masyarakat dunia secara umum terhadap perempuan, terutama sebelum turunnya kitab suci Alquran. Kemudian baru ditelaah bagaimana pandangan Alquran terhadap gender, serta bagaimana penafsiran ulama terdahulu dan kontemporer terhadap ayat-ayat Alquran tersebut.

Sejarah telah menginformasikan bahwa sebelum diturunkannya kitab suci  Alquran, berbagai peradaban umat manusia telah  berkembang sedemikian rupa, seperti halnya peradaban bangsa Yunani, Romawi, India, Cina dan yang lainnya. Dan juga sebelum datangnya agama Islam, telah datang terlebih dahulu berbagai agama, seperti agama Zoroaster, Buddha, dan yang paling belakangan adalah agama Yahudi dan Nasrani.

Pada puncak peradaban Yunani, perempuan tidak mendapat penghargaan yang adil, karena mereka dianggap alat pemenuhan naluri seks laki-laki. Kaum laki-laki diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera tersebut, dan para perempuan dipuja untuk itu. Patung-patung telanjang yang terlihat dewasa ini di Eropa adalah merupakan bukti yang menyatakan pandangan itu.

Peradaban Romawi juga tidak begitu berbeda dengan Yunani, menjadikan perempuan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. Peristiwa tragis ini berlangsung sampai pada abad V Masehi. Segala hasil usaha perempuan, menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki.

Pada zaman Kaisar Konstantin (abad XV), terjadi sedikit perubahan dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagi perempuan, dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui terlebih dahulu oleh keluarga (suami/ayah).

Peradaban Hindu dan Cina, juga tidak lebih baik. Hak hidup bagi seorang perempuan yang telah bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya, istri terkadang harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Tradisi ini baru berakhir pada abad XVII Masehi.

Sepanjang abad pertengahan nasib perempuan tetap sangat memperihatinkan, sampai dengan tahun 1805 perundang-undangan Inggeris masih mengakui hak suami untuk menjual istrinya, bahkan sampai dengan tahun 1882 perempuan Inggeris belum lagi mempunyai hak kepemilikan harta benda secara penuh, termasuk hak menuntut ke pengadilan.

Untuk dapat mengetahui keberadaan dan peran yang dimainkan Islam, diperlukan pemahaman mendalam terhadap stratifikasi sosial budaya bangsa Arab menjelang dan ketika Alquran diturunkan. Misi Alquran hanya dapat dipahami secara utuh setelah memahami kondisi sosial budaya bangsa Arab. Bahkan boleh jadi, sejumlah ayat dalam Alquran (termasuk ayat-ayat yang menjelaskan gender), dapat disalah-pahami tanpa memahami latar belakang sosial budaya masyarakat Arab. Justru itu sebelum membahas lebih jauh, perlu diperkenalkan secara umum kondisi geografis dan pola kehidupan mereka –yang tentunya ikut mengambil peran

Dilihat dari sudut system kekerabatan, maka keluarga Arab dapat dibedakan ke dalam 5 (lima) bentuk, yaitu:

  1. Tribe (Kabilah/qabilah);
  2. Sub Tribe (Sub Kabilah/‘asirah);
  3. Clan, Lineage (Suku/hamulah);
  4. Extended family (Keluarga Besar/‘a`ilah);
  1. Nuclear family (Keluarga Kecil/usrah).[1]

Kelima bentuk keluarga ini ditemukan di daerah tertentu, sekalipun pada daerah yang lain kelima bentuk tersebut tidak dianut secara identik, sesuai dengan watak dasar bangsa Arab yang nomaden; mereka menyesuaikan hidup dengan kondisi obyektif dimana mereka berada.

Pada masa Jahiliyah, anak-anak perempuan kehadirannya tidak diterima sepenuh hati oleh masyarakat Arab. Pandangan mereka ini telah direkam oleh Alquran, mulai dari sikap yang paling ringan yaitu bermuka masam, sampai pada sikap yang paling parah yaitu membunuh bayi-bayi mereka yang perempuan. Informasi ini dapat dibaca dalam QS. an-Nahl (16): 58, sebagai   

58. dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.

dan QS.at-Takwir (81): 9

 

9. karena dosa Apakah Dia dibunuh,

Demikian secara ringkas kondisi geografis serta pola kehidupan bangsa Arab sebelum turunnya agama Islam, selanjutnya akan ditelaah ayat-ayat Alquran dan pemahamannya, terutama yang menyangkut masalah gender.

Bahwa agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. telah memperjuangkan dan berhasil meningkatkan derajat perempuan yang sebelumnya mereka  tertindas. Kaum perempuan yang sebelumnya tidak menerima warisan, malah termasuk barang yang diwariskan, oleh Islam diberikan porsi waris yang tetap (faraidh). Islam mendudukkan perempuan sebagai makhluk Allah sederajat dengan pria dengan hak dan tanggungjawabnya yang adil dan seimbang. Tetapi, kenyataan bahwa perempuan Muslimah pada masa-masa berikutnya pernah dan sebagian masih mengalami perlakuan yang berbeda dan diskriminatif, juga telah menjadi  catatan historis dan kajian para ahli.

Alquran, sebagai sumber utama dalam ajaran Islam, telah menegaskan ketika Allah Yang Maha Pencipta menciptakan manusia termasuk di dalamnya, laki-laki dan perempuan. Paling tidak ada empat kata yang sering digunakan Alquran untuk menunjuk manusia, yaitu basyar, insan dan al-nas, serta bani adam[2].  Masing-masing kata ini merujuk makhluk ciptaan Allah yang terbaik (fi ahsan taqwim), meskipun memiliki potensi untuk jatuh ke titik yang serendah-rendahnya (asfala safilin), namun dalam penekanan yang berbeda. Keempat kata ini mencakup laki-laki dan perempuan.

Mengenai asal kejadian manusia ini, Alquran menyatakan dalam surah An-Nisa’(4): 1, sebagai berikut:

1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

[263] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

[264] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

Alquran, yang diwahyukan dalam bahasa Arab yang fasih, mengenal pembedaan antara  kata-ganti (dhamir/pronoun) laki-laki dan perempuan, baik sebagai lawan bicara atau orang kedua (mukhatab),  maupun sebagai orang ketiga (ghaib), namun perbedaan itu tidak ada sebagai orang pertama (mutakallim). Dalam tradisi penggunaan bahasa Arab, penggunaan bentuk maskulin, sebagai orang kedua atau ketiga, mencakup juga yang feminin. Pengucapan salam, assalamu ‘alaikum, misalnya, yang memakai bentuk maskulin (kum), mencakup juga audiensi perempuan, hingga terasa ‘berlebihan’ untuk menambahi ‘alaikunna  yang secara langsung menunjuk kaum perempuan.

Mengingat tradisi bahasa Arab di atas, Alquran merasa penting untuk mengulang-ulang kedua bentuk (maskulin dan feminin) secara berpasangan untuk menekankan kesetaraan pria dan wanita dalam berbagai aspek kehidupan, disebutkan dalam QS. al-Ahzab (33):35, sebagai berikut:

   35. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

[1218] Yang dimaksud dengan Muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

Berbicara mengenai prinsip2 kesadaran gender dalam perspektif Islam, setidaknya kita dapat mengajukan 5 (lima) variable yang dapat digunakan sebagai ukuran untuk menguji bagaimana kitab suci Alquran memberitakan. Kelima variable tersebut masing-masing: laki-laki & perempuan sama2 sebagai hamba Allah, sebagai khalifah di muka bumi, sebagai yang menerima perjanjian/sama2 berikrar akan keberadaan  Allah, sebagai hamba yang punya tanggung-jawab, dan sebagai yang berpotensi meraih prestasi.[3]

 

1. Pertama, sebagai hamba Allah. Alquran menyebutkan bahwa salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah kepadaTuhan. Penjelasan ini dapat dibaca dalam QS. Az-Zariyat (51): 56, saewbagai berikut:

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dalam kapasitas manusia sebagai hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam Alquran biasa diistilahkan dengan orang-orang yang bertaqwa (muttaqun), dan untuk mencapai derajat muttaqun  ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu yang disaebutkan dalam QS Al-Hujurat (49): 13, sebagai berikut:

13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dalam kapasitas sebagai hamba, laki-laki dan perempuan masing-masing akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan sesuai dengan kadar pengabdiannya, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nahl (16): 97, sebagai berikut:

 

97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

[839]  Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

 

2. Kedua, sebagai khalifah di bumi. Maksud dan tujuana penciptaan manusia di muka bumi ini adalah, disamping untuk menjadi hamba (‘abid) yang tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah SWT., juga untuk menjadi khalifah di bumi (khalifah fi al-ard). Kapasitas manusia sebagai khalifah di bumi ditegaskan dalam QS. Al-An’am (6): 165, sebagai berikut

165. dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

 

Pada ayat lain disebutkan dalam QS. al-Baqarah (2):30, sebagai berikut:

30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

 

Kata khalifah dalam kedua ayat di atas tidak menunjuk kepada salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu. Laki-laki dan perempuan menpunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan mempertanggung-jawabkan tugas-tugas kekhalifah-annya di bumi, sebagaimana halnya mereka harus bertanggung-jawab sebagai hamba Tuhan.

 

3.  Ketiga, sebagai penerima perjanjian/ikrar ketuhanan yg sama. Laki-laki dan perempuan sama-sama mengamban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan. Seperti diketahui, menjelang seorang anak manusia keluar dari rahim ibunya, ia terlebih dahulu harus menerima perjanjian dengan Tuhannya (QS.Al-A’raf (7): 172).

172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

 

Menurut penjelasan Fakhr ar-Razi, tidak seorang pun anak manusia yang lahir ke muka bumi ini yang tidak berikrar akan keberadaan Tuhan, dan ikrar mereka disaksikan oleh para Malaikat. Tidak ada seorang pun yang mengatakan tidak. Di dalam ajaran Islam, tanggung jawab individual dan kemandirian seseorang telah berlangsung sejak dini, yaitu semenjak dalam kandungan. Sejak awal sejarah kejadian manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Dan tambahnya lagi Alquran mengungkapkan bahwa Allah SWT yang Maha Kuasa memuliakan seluruh anak cucu Adam, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya QS. Al-Isra’ (17): 70, sebagai berikut 

70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

[862]  Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.

4 keempat, sebagai hamba yang berpotensi meraih prestasi. Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana ditegaskan secara khusus di dalam firman-Nya surah Ali Imran (3): 195, sbb:  

195. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan…

 

Dalam QS. an-Nisa’ (4): 124, Allah menegaskan:

124. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang senada, seperti QS. an-Nahl (16): 97; dan QS. al-Gafir (40): 40.

Ayat-ayat tersebut di atas mengisyaratkan konsep kesadaran gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun urusan karir professional, tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan yang sama meraih prestasi optimal.

Salah satu obsesi Alquran ialah terwujudnya keadilan di dalam masyarakat. Keadilan dalam Alquran mencakup segala segi kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Karena itu Alquran tidak mentolerir segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa, dan kepercayaan, maupun yang berdasarkan jenis kelamin. Jika terdapat suatu hasil pemahaman atau penafsiran yang bersifat menindas atau menyalahi nilai-nilai luhur kemanusiaan, maka hasil pemahaman dan penafsiran tersebut terbuka untuk diperdebatkan.

variable beserta ayat-ayat yang dikemukakan di atas memberikan informasi bahwa penciptaan manusia sejak awal tidak menunjukkan adanya perbedaan substansi antara laki-laki dan perempuan. Kalaupun antara keduanya mempunyai perbedaan maka substansi perbedaannya tidak pernah ditonjolkan. Ini mengisyaratkan bahwa Alquran mempunyai pandangan yang cukup positif terhadap perempuan.

Jika demikian halnya, mengapa terjadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan? Mengapa terjadi ketidak adilan gender atau diskriminasi terhadap perempuan, dan kenapa disebut bahwa perempuan itu sebagai manusia kelas dua ? Konon juga paham yang demikian itu bersumber dari ajaran Islam ?

Perlu ditegaskan bahwa asal-usul kejadian manusia tidak diceritakan secara kronologis dalam Alquran. Cerita penciptaan manusia banyak diketahui melalui hadis, kisah-kisah isra’iliyyat, dan riwayat-riwayat yang bersumber dari kitab Taurat (kitab suci agamaYahudi), Injil (kitab suci agama Kristen), dan cerita-cerita yang bersumber dari kitab Talmud, kitab yang banyak memberikan penafsiran terhadap kitab Taurat.

Menurut keterangan Alkitab, manusia pertama kali diciptakan ialah laki-laki (Genesis/1:20) yakni Adam, dan kemudian daripadanya diciptakan perempuan yakni Hawa (Eva).

“(21) Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak, ketika tidur, Tuhan Allah mengambil salah-satu rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. (22) Dan dari rusuk yang diambil Tuhan allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu”.

Pernyataan Alkitab ini mengisyaratkan bahwa perempuan adalah ciptaan kedua (the second creation) sesudah laki-laki (Adam) dan secara substansif laki-laki lebih utama daripada perempuan, karena perempuan diciptakan dari unsur laki-laki.

Menurut sumber-sumber Yahudi, dijelaskan bahwa secara substansial penciptaan perempuan dibedakan dengan penciptaan laki-laki. Jika orang-orang bukan penganut Yahudi dan Kristen membaca pernyataan-pernyataan di atas, akan terkesan bahwa substansi dan kedudukan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Akan tetapi kalangan orang Yahudi dan Kristen tentu mempunyai metode tersendiri dalam memahami pernyataan-pernyataan kitab suci mereka, karena setiap pengikut sebuah kitab suci memiliki metode pemahaman tersendiri. Hal yang sama juga terjadi dalam penganut agama Islam, dalam sebuah teks dapat dipahami secara berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama yang lain.

Tidak mudah meniadakan problem dalam memahami teks kitab suci, apalagi apabila teks itu diuraikan secara detail. Suatu cerita yang terurai secara tersurat di dalam kitab suci, menuntut keyakinan dan loyalitas kepada pemeluknya. Boleh jadi sekelompok masyarakat menilai cerita-cerita seperti itu adalah mitos, tetapi kelompok masyarakat lain meyakininya sebagai suatu fakta atau kisah simbolis yang sarat dengan makna. Sekelompok masyarakat menilai beberapa cerita yang berkembang dalam masyarakat sebagai mitos yang destruktif, tetapi cerita itu tetap hidup karena dianggap bagian dari doktrin agama.

Alquran tidak menyebutkan secara terperinci asal-usul kejadian perempuan, yang ada hanya cerita tentang kesombongan Iblis yang menggoda pada Adam dan pasangannya sehingga harus meninggalkan surga. Beberapa riwayat yang menceritakan asal-usul keberadaan kejadian perempuan (isi beritanya maupun redaksinya mirip dengan cerita yang ada dalam kitab Kejadian), ditemukan dalam kitab-kitab Tafsir yang dihubungkan dengan ucapan Rasulullah Muhammad saw. yang dikenal dengan “hadis”.

Salah-satu pemberitaan tentang kejadian perempuan tersebut dapat dilihat dalam Tafsir at-Thabari[4] yang menguraikan, sebagai berikut:

 حدثنى موس بن هارون قال: أخبرنا عمرو بن حماد قال: ثنا اسبط عن السدى قال: اسكن آدم الجنة فكان يمشى فيها وحشا ليس له  زوج يسكن  اليها فنام نومة فاستيقظ فاذا عند رئسه امرءة قاعدة خلقها الله من ضلعه فسألها من انت ؟ قالت امرءة قال: ولم خلقت ؟ قالت: تسكن الى

Artinya: Diriwayatkan dari Musa ibn Harun berkata: saya diberi tahu oleh Amr Ibn Hammad dari Asbat dari as-Sadi berkata: Ketika Tuhan menempatkan Adam di surga ia hidup dan berjalan sendirian tanpa didampingi pasangan. Suatu ketika seorang perempuan yang Allah ciptakan dari tulang rusuknya. Adam bertanya: Siapa anda? Dijawab”Aku seorang perempuan”, Adam bertanya: Untuk apa anda diciptakan ? Dijawab: Supaya kamu tinggal bersamaku”.

Redaksi riwayat di atas sangat mirip dengan redaksi kitab Kejadian, khususnya pasal 21 dan 23 yang disebutkan sebelumnya. Riwayat-riwayat semacam ini banyak diintrodusir di dalam kitab-kitab Tafsir klasik maupun kitab-kitab Sejarah Islam seperti, Tarikh al-Umam wa  Kitab-kitab klasik tersebut kelihatannya cenderung kurang selektif memasukkan kisah-kisah israiliyat ke dalam karya-karya mereka. Dan yang sudah pasti sebagai akibat kekurang selektifan mereka, membuat kisah-kisah tersebut juga cenderung memojokkan kaum perempuan.

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadis yang intinya berbunyi:

– عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” ان المرءة كالضلع إذا ذهبت تقيمها كسرتها وان تركتها استمتعت بها وفيها عوج” رواه البخارى ومسلم.

Artinya: Dari Abi Hurairah RA. berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya perempuan seperti tulang rusuk, jika kalian mencoba meluruskannya ia akan patah. Tetapi jika kalian membiarkannya maka kalian akan menikmatinya dengan tetap dalam keadaan bengkok” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari uraian-uraian di atas jelas kelihatan bahwa Alquran sebenarnya hanya mengungkapkan persamaan-persamaan antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi kitab Sejarah Islam klasik, terpengaruh dengan pemberitaan kitab Kejadian. Padahal sesungguhnya semangat ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw tidak sejalan dengan cerita-cerita yang memojokkan perempuan tadi.

Keberhasilan Nabi Muhammad SAW. membangun pilar-pilar dasar peradaban Islam didasarkan atas kekokohan pribadi Muslim dan solidnya lembaga keluarga yang dibangun dalam prinsip kemitraan cinta-kasih (jawz) dan resiprositas luhur (mu’asyarah bi al-ma’ruf) untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Nabi Muhammad SAW. mengangkat derajat perempuan dengan memperkuat landasan teologis-spiritual, dan merombak iklim kultural yang berkembang serta menjabarkannya dalam kehidupan keluarganya serta dalam kebijakan pemerintahannya. Koherensi dan konsistensi ajaran Islam Islam dengan praktek Rasulullah inilah yang dicatat sebagai suatu revolusi kultural pada saat itu.

Jika demikian halnya mengapa ada dalam Alquran ayat-ayat yang membedakan perlakuan terhadap perempuan? Untuk mengawali, patut diingat bahwa ‘membedakan’ perlakuan bukan berarti memperlakukan seorang secara tidak adil.   Keadilan (justice) tidaklah identik dengan persamaan (equality).  Dalam kajian filsafat, jauh sebelum Islam, Aristoteles sudah mengulas konsep keadilan yang dapat disimpulkan pada prinsip ‘treating equals equally’ (memperlakukan mereka yang sama secara sama).  Sama dan beda dari segi apa? Apakah yang mempersamakan dan memperbedakan satu orang dari yang lain?  Memperlakukan mereka yang sama secara berbeda tentu ketidak-adilan. Namun jika mereka memang tidak sama, malah jika diperlakukan sama (treating unequals equally), maka ketidak-adilan yang terjadi. Atau, mereka yang sama diperlakukan berbeda (treating equals unequally), tentu kezaliman yang muncul.  Yang menjadi pertanyaan sekarang: apakah laki-laki dan perempuan ‘sama’, hingga harus diperlakukan ‘sama’, atau mereka berbeda hingga mesti diperlakukan berbeda, atau laki-laki dan perempuan memiliki banyak persamaan, tetapi juga berbagai perbedaan. Kalau begitu mereka harus diperlakukan secara sama dalam aspek-aspek yang mereka sama, serta mesti diperlakukan berbeda, aspek-aspek yang memang mereka berbeda.

Perbedaan yang cukup gamblang adalah masalah perbedaan perlakuan laki-laki dan perempuan terkait dengan nilai kesaksian (dan porsi kewarisan QS. an-Nisa’(4): 11 dan 176).  Masalah lain yang juga tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan adalah kedudukan suami isteri dalam rumah tangga, tentang apa yang dimaksud dengan ‘kepala keluarga’, umumnya didasarkan pada QS. An-Nisa’ (4): 34, sebagai berikut:

34. kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar

[289] Maksudnya: tidak Berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

[290] Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

[291] Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

 

Tanpa harus masuk dalam kompleksitas penafsiran dan re-interpretasi terhadap ayat-ayat di atas dan yang sejenisnya, ada dua hal pokok yang patut dicermati. Pertama, Alquran sebagai wahyu Allah merupakan hal yang sakral dan absolut, namun pemahaman, interpretasi dan penjabarannya merupakan hasil jerih payah para ulama. Yang kedua, ajaran Islam, karena bersumber dari Allah Yang Maha Tahu dan Bijak, tentu seyogianya merupakan suatu kesatuan yang komprehensif dan tidak kontradiktif antara satu dengan lain. Dari sisi inilah, beberapa penafsir berupaya menyaring prinsip-prinsip pokok serta menghimpun nilai-nilai dasar ajaran Islam yang bersifat universal dan permanen, yang harus dipilah dari ketentuan-ketentuan yang bersifat temporal dan situasional yang terkait dengan tuntutan ruang dan waktu.

Hal inilah yang dilakukan para ulama kita di negeri ini. Mereka telah berijtihad baik secara perorangan maupun jama’ah untuk menemukan prinsip dan nilai tersebut, serta menjabarkan dan menerapkannya di bumi Indonesia pada masa kini. Berbagai penafsiran ulang dan perumusan baru diperkenalkan. Sekedar memperkenalkan salah satunya yang mungkin sering terlupakan, yaitu perlakukan terhadap lembaga perkawinan dan relasi timbal-balik suami-isteri yang setelah dikaji ternyata lembaga perkawinan dalam budaya Indonesia jauh berbeda dengan lembaga yang sama di jazirah Arab di masa lalu, ketika kitab-kitab fiqh klasik ditulis.  KHI (Kompilasi Hukum Islam) telah merumuskan bahwa lembaga perkawinan yang lebih kemitraan, serta mensejajarkannya seperti syirkah (kerjasama), hingga harta-kekayaan yang terwujud di dalamnya menjadi milik bersama suami-isteri, sehingga jika, sekiranya, suami meninggal dunia, isteri berhak terlebih dahulu separoh (50%) dari harta perkawinan (gono-gini), barulah setelahnya isteri berhak menerima warisan ¼ kalau tidak ada anak, dan 1/8 jika ada anak.

Namun masih banyak lagi yang harus dilakukan. Upaya menyaring nilai dan menemukan prinsip ajaran Islam bukan hal yang mudah, termasuk juga untuk mensosialisasikan dan menerapkannya sebagai pedoman untuk menyusun pranata kehidupan manusia kini dan di sini.  Masih banyak apa yang sebelumnya hanya produk pemikiran dan upaya penafsiran dianggap bagian dari ajaran agama yang universal atau prinsip yang permanen. Untuk itu marilah kita berupaya dengan sepenuh hati dan seluruh daya upaya untuk membaca, mempelajari dan menelaah sumber-sumber ajaran agama serta berusaha memahami tuntutan wahyu dan panduan hadits hingga kita dapat menerapkan ajaran Islam yang rahmat li al-‘alamin  tersebut dalam ruang waktu kita

 

BAB II

Gender dalam Perspektif Agama Kristen

Dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 30 disebutkan bahwa keluarga adalah susunan sendi dasar masyarakat. Kalau kita ingin menegakkan kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, maka harus dimulai dari keluarga. Namun saya percaya, kita akan berhadapan dengan teks-teks agama agama yang ditafsirkan secara tradisional. Maka dalam pendahuluan ini sayua ungkapkan, dalam rangka untuk mewujudkan kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan, maka kita harus berani secrara kritis mereinterpretasikan dengan memahami kontekstual teks historis kritis. Di lingkungan agama kristen, memang masih cukup banyak penindasan terhadap perempuan. Sebelum tahun 60, perempuan tidak mempunyai hak yang sama untuk ikut  memilih anggota majlis gereja, apalagi menduduki jabatan itu. Baru tahun 67/68 perempuan perempuan mempunyai hak untuk memilih, tetapi belum berhak menduduki.

Kemudian baru tahun 70-a ada anggota majelis gereja perempuan dan itupun jumlahnya masih sangat langka. Baru tahun 90-an ada pendeta perempuan. Jadi memang secara kelembagaan, penghargaan terhadap kesetaraan laki-laki dan perempuan masih dipertanyakan.Keberadaan laki-laki dan perempuan, dalam Al-Kitab, digambarkan bahwa sebenarnya hakekat laki-laki dan perempuan adalah setara. Kejadian 1 ayat (27), Mazmur 8 ayat (59) menggambanrkan bahwa Tuhan menciptakan manusia segambar dengan Allah. Dalam penafisran saya, bukan berarti Tuhan punya telinga dan sebagainya, tetapi manusia selain merupakan anugerah sebagai mahkluk yang mulia, juga mempunyai kewajiban untuk mencerminkan citra Allah yang mulia. Dalam Kejadian 2 ayat (15-18) disebutkan ; “Tuhan menciptakan manusia di taman Eiden untuk mengusahakan dan memelihara Eiden. Saya mempunyai penafisran baru bahwa Eiden itu bukan merupakan suatu tempat, tetapi merupakan sebuah kondisi, yang kita sebagai orang yang beriman menggambarkannya sebagai salam, salom,sahdu dan sandu. Suasana di mana relasi manusia dengan Allah, relasi manusia dengan sesama, dengan lingkungan terjadi harmonisasi.
Ditegaskan khususnya dalam di Kejadian 2 ayat (18); “Tidak baik manusia itu seorang diri saja, aku memberikan penolong yang sepadan dengan dia.” Teks ini secara tradisional ditafsirkan hadirnya seorang perempuan bagi laki-laki. Saya mencoba melakukan reinterpretasi bahwa manusia jangan merasa sombong. Maksudnya orang sadar bahwa dalam mengelola Eiden ini dia membutuhkan orang lain serta bagaimana orang menerima kehadiran orang lain sebagai penolong yang diberikan oleh Allah dan punya kedudukan yang sama. Hal ini mempunyai konteks umum dan khusus. Konteks umum adalah bagaimana orang menerima kehadiran orang lain sebagai penolong, bukan sebagai rival yang harus disingkirkan. Sedangkan dalam konteks khusus adalah bagaimana seseorang menyambut istri atau suami. Sedangkan dalam hal panggilan untuk berkeluarga, secara ekplisit Yesus mengajarkannya dalam Mattius 19, ayat (1-12).  Secara garis besar bisa dipaparkan; Yang pertama,bagaimana menjaga agar keluarga itu lestari dan kekal. Yang kedua, bagaimana jika memang harus terjadi perceraian.

Dalam ayat 12 disebutkan; “Ada orang yang yang tidak dapat kawin karena memang ia lahir demikian dari rahim ibunyadan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain. Ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena kerajaan Allah.” Jadi orang dapat membuat keputusan demikian demi pengabdian pada Tuhan, sesama dan lingkungan. Secara kelembagaan tidak ada ketentuan selibat.

Di zaman Yesus, terdapat tiga mazhab, yaitu Mazhab Farisi, Mazhab Bilel dan Mazhab Sama’i. Mazhab Bilel merupakan pengaruh dari Hamaliel. Dalam mazhab ini, perempuan diletakkan pada posisi yang rendah, sehingga laki-laki boleh menceraikan perempuan dengan alasan apa saja.

Terkait dengan masalah tersebut, Yesus memberikan pengajaran; “Tidakkah kamu membaca bahwa Tuhan menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Sebab itu laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging, mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.”

Jawaban Yesus ini akan saya sistemasir dalam empat prinsip dasar penghayatan perkawinan. Pertyama, dari teks bahwa Allah menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini saya menangkap bahwa orang mengahayati perkawinan itu dalam kesadaran diri sebagai ciptaan Allah yang terhormat. Dengan kesadaran bahwa saya adalah ciptaan Allah yang punya kehormatan, maka saya akan memperlakukan istri saya juga dalam pengkudusan dan kehormatan. Jadi perkawinan bukan hanya kebutuhan biologis semata. Pasangan saya bukan sekedar alat pemuas bagi saya, pasangan saya adalah manusia yang harus saya kuduskan dan saya hormati.
Kedua, bahwa teks ini disusun di zaman yang sangat kental dengan budaya patriarkhi. Yang dikatakan meninggalkan ayah dan ibunya hanya laki-laki, seharusnya semua. Menurut tafsiran ugal-ugalan saya terhadap teks Matius 19 itu adalah bahwa  perempuan juga harus meninggalkan ayah dan ibunya bersatu dengan suaminya.Sebenarnya pelaksanan dalam masyarakat protestan, perempuan juga meninggalkan orangtuanya, tetapi mereka masih sangat takut untuk melakukan teks kritik, sehingga tidak berani secara ekplisit mengeluarkannya. Meninggalkan ayah dan ibunya itu bukan berarti meninggalkan kekerabatan dan tanggungjawabnya untuk menghormati orangtua, tetapi mandiri. Orang yang sudah berani menikah berarti dia juga harus sudah berani mandiri, baik secara materiil maupun mandiri secara spiritual.Yang ketiga, dalam teks dikatakan bahwa keduanya menjadi satu daging, mereka tidak lagi dua melainkan satu.

Hal ini berarti bahwa Yesus mengajarkan bahwa perkawinan merupakan satu kesatuan yang utuh dalam ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Hal ini senada dengan Undang-Undang Perkawinan, terutama pasal 1 yang berbunyi; “Hakekat perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga bahagia.” Ikatan lahir batin di sini harus dipahami secara utuh, buikan hanya ikatan lahir atau batin saja. Ikatan lahir saja tanpa ikatan batin berarti tidak utuh, tetapi ikatan batin tanpa iktan lahir juga tidak bisa. Dalam Kurintus 7 ayat (3 dan 4) dinasehatkan demikian; “Hendaknya suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya demikian istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya.” Hal ini berarti ikatanm dalam perkawinan bukan hanya ikatan batin saja. Yang keempat, Dalam teks dikatakan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah jangan diceraikan. Di sini Yesus mengajarkan bahwa perkawinan itu bagian dari karya Allah. Dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 2 disebutkan, “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan, tiap-tiap perkawinan disahkan oleh Undang-Undang.” Undang-Undang Perkawinan kita cukup tegas menyatakan bahwa perkawinan adalah peristiwa religius. Kesadaran bahwa perkawinan merupakan karya Allah ini menuntut sebuah tanggungjawab, yaitu jika saya merusak perkawinan berarti saya merusak karya Allah. Namun di sisi lain, kita harus optimis jika perkawinan itu karya Allah berarti Tuhan akan memberi jalan keluar jika terjadi permasalahan.

Tanggung Jawab Mewujudkan Keluarga Bahagia dan Kekal Dalam Undang-undang perkawian dijelaskan bahwa tujuan perkawianan adalah mewujudkan keluarga yang bahagia. Namun jika kita mau jujur, seringkali tujuan itu kita lupakan. Ketika kita asyik dengan karier kita, maka keluarga kita bukan rumah, tetapi karier kita. Dalam Protestan, tuntunan untuk mewujudkan keluarga bahagia ini terdapat dalam Mazmur 128 ayat (1-3) yang berbunyi: “Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkannya. Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu. Istrimu akan menjadi pohon anggur yang subur dalam rumahmu, anak-anakmu menjadi pohon zaitun sekeliling mejamu.”Dalam tafsiran saya terhadap teks tersebut, ada tiga tonggak yang menunjang kebahagiaan keluarga; pertama, bagaimana keluarga itu membangun sikap takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.

Termasuk juga bagaimana keluarga itu mengambil keputusan etis untuk tetap taat pada Tuhan.Yang kedua, makan dari hasil jerih payah tangan sendiri. Itu sebabnya mengapa dalam keluarga perlu dibangun etos kerja, cinta kerja. Bahkan dalam Amsal 16 ayat (8) disebutkan bahwa lebih baik berpenghasilan sedikit dalam kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan. Tonggak ketiga, menjadikan keluarga atau rumah sebagai tempat kembali (home sweet home/ kerasan di rumah). Dalam Mazmur yang telah disebutkan bahwa hal ini diilustrasikan sebagai anggur dan anak sebagai zaitun. Ini adalah metafora untuk menggambarkan fungsi yang positif yaitu menciptakan kehangatan. Keluarga mempunyai fungsi kehangatan (anggur), sehingga suami istri harus saling mendorong untuk mengaktualisasikan diri dalam keluarga. Anggur juga berfungsi untuk mengobati, yang berarti bahwa  keluarga harus berfungsi mengobati bagi masing-masing anggota keluarga.

Gender dalam Perspektif Agama Katholik

Dalam perkembangan sejarah, kehidupan diatur oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Dalam keluarga, pada umumnya, pengaturan kehidupan ini diatur oleh laki-laki. Tetapi ada juga, dalam kasus-kasus tertentu perempuan yang menjadi kepala keluarga. Lebih dominannya satu jenis seks, baik itu laki-laki maupun perempuan dapat menimbulkan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga dan biasanya yang lebih dominan adalah laki-laki. Menghadapi ketimpangan seperti ini, seringkali orang lari pada agama untuk mencari solusi.

Permasalahan gender dalam Katolik tidak terlepas dari konteks tradisi dan budaya, khususnya budaya agama Yahudi. Dalam agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender. Ketika suatu perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai suatu kebenaran. Begitu juga di Indonesia, ajaran kristen tidak dapat terlepas dari budaya warga Indonesia.
Dalam Kejadian 2 disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari bumi. Manusia yang pertama kali diciptakan adalah Adam. Kemudian dari tulang rusuk Adam diciptakanlah Hawa. Kemudian disebutkan bahwa Adam jatuh ke dalam dosa karena Hawa. Teks ini memunculkan pandangan bahwa perempuan adalah manusia kedua. Perempuan juga dipandang sebagai sumber dosa. Katholik mengambil teks ini sebagai dasar pandangan hubungan (relasi) antara laki-laki dengan perempuan. Hubungan ini dipandang hanya berdasarkan jenis kelamin saja. Posisi sub ordinat perempuan seperti inilah yang menjadi dasar pandangan awal gereja mengenai perempuan.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan perkembangan zaman, Gereja menolak ketidakadilan gender, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Gereja memperhatikan dengan serius dasar-dasar ajaran agama, yaitu; tradisi, teologi dan filsafat, kitab suci serta ajaran gereja dengan pastoral lainnya.

1.    Aspek Tradisi

Salah satu sumber ajaran iman dan moral Katolik adalah tradisi. Tradisi gereja masih dipengaruhi oleh budaya yang bersifat patriarkhis. Suami merupakan penguasa dalam keluarga. Wanita diletakkan dalam posisi sub ordinat. Hal ini merupakan suatu bentuk ketidakadilan gender yang mendasar. Namun Perjanjian Baru memandang bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, sehingga dengan jelas Perjanjian Baru menolak segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu diadakan perubahan penafsiran kitab suci, terutama Kitab Perjanjian Lama.

2.    Aspek Teologi dan Filsafat

Dalam Kristen, baik itu Katolik maupun Protestan, pencitraan Allah adalah sebagai Bapak, sehingga muncul pandangan bahwa Allah adalah laki-laki. Hal ini mengontruksikan suatu pemikiran bahwa laki-laki adalah penguasa dalam keluarga sehingga sangat berpotensi

menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga.

Sesungguhnya hubungan manusia dengan Allah adalah bersifat personal sehingga Allah

dapat mempersonifikasikan diri sebagai Bapak maupun sebagai Ibu.

3.    Aspek Kitab Suci

Untuk memahami Kitab Suci perlu dipahami latar belakang penulis. Dalam Kejadian 2 pasal 2 ayat (5) disebutkan bahwa perempuan merupakan manusia kedua, perempuan sebagai penggoda. Teks normatif ini sangat berpotensi memunculkan kekerasan dalam rumahtangga jika ditafsirkan secara salah. Padahal dalam Kejadian 1 ayat (26) disbutkan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sama secitra dengan Allah, keduanya adalah baik.
Dalam Kitab Perjanjian Lama, banyak ketentuan-ketentuan yang menempatkan perempuan sebagai mahkluk kedua, dan diposisikan pada posisi yang sub ordinat. Hal ini sangat berpotensi memunculkan kekerasan psikologis dalam keluarga.

Pencitraan perempuan yang cenderung terasa tidak adil gender ini diperbaharui dan diformulasikan kembali dalam Kitab Perjanjian Baru. Dalam Kitab Perjanjian Baru, perempuan mendapat posisi yang sejajar dengan laki-laki. Yesus menempatkan  perempuan pada posisi yang harus dihormati. Bahkan karena dianggap terlalu memuliakan perempuan dan terlalu memperjuangkan perempuan inilah kemudian Yesus ditangkap dan kemudian dihukum salib oleh penguasa pada waktu itu yang memegang faham patriarkal.

 
4.    Aspek Ajaran Gereja

Dalam pandangan Gereja Katolik, perempuan dianggap mempunyai martabat yang sama dengan laki-laki. Mereka mempunyai hak untuk berperan dalam masyarakat. Pengakuan kesejajaran antara laki-laki dan perempuan haruslah dihormati. Gereja mengemukakan sikap keterbukaan dalam keluarga, sehingga interaksi dalam keluarga muncul kesejajaran. Gereja Katolik dengan jelas bersikap tidak toleran terhadap ketidakadilan, termasuk ketidakadilan gender yang berpotensi memicu kekerasan dalam keluarga.

Dalam Katolik ada satu komisi yang melayani urusan keluarga yaitu pastoral keluarga yang bertugas melakukan pendampingan keluarga, untuk menanggulangi munculnya kekerasan dalam rumahtangga, termasuk perceraian.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Gereja Katolik menolak ketidakadilan gender. Tetapi untuk mewujudkan keadilan gender dalam masyarakat masih terdapat hambatan yaitu faktor tradisi patriarkhis.

 

 

 

BAB III

Gender Dalam Perspektif Agama Hindu

Manusia sejak lahir sudah dibuatkan identitas oleh orang tuanya. Sebagai contoh anak

laki-laki diberi nama Kartono, sedangkan anak perempuan diberi nama Kartini. Melalui proses

belajar manusia membedakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak hanya memandang

dari aspek biologisnya saja, tetapi juga dikaitkan dengan tugas dan kewajiban (swadharma) atau

fungsi dasarnya dan kesesuaian pekerjaannya. Dari proses belajar ini barangkali yang memunculkan teori “gender” yang dijadikan sebagai pijakan berpikir sehingga menjadi “ideologi

gender.” Ideologi gender merupakan dasar berpikir yang membedakan dua jenis manusia berdasarkan “kepantasannya.” Melalui ideologi gender manusia menciptakan “kotak” untuk lakilaki dan “kotak” untuk perempuan sesuai dengan pengalaman yang diperolehnya. Ciri-ciri lakilaki dan perempuan “dikunci mati” oleh ideologi gender (A. Nunuk Prasetyo Murniati,1993:4).

Salah satu dampak negatif dari ideologi gender adalah terbentuknya budaya patriarkhi di mana kedudukan perempuan ditentukan lebih rendah daripada laki-laki atau dalam masyarakat terjadi dominasi laki-laki. Dalam keluarga kedudukan laki-laki lebih tinggi, suami lebih berkuasa, suami yang di depan sementara isteri di belakang saja. Budaya patriarkhi menjadi/memberi “warna” dari kehidupan sosial.

 

Sejak awal-awal kehidupan manusia, maka ternyata keluarga (perkawinan) merupakan salah satu lembaga yang efektif untuk pembentukan pribadi manusia. Dalam kitab Veda Smrthi tersurat sebagai berikut:

Tatha nitya yateyatam, stripumsau tu kritakriyau

Jatha nabhicaretam tau Wiyuktawitaretaram(Weda smrthi. IX.102)

Artinya:

Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Anyonyasyawayabhicaro, bhawedamaranantikah,

Esa dharmah samasena, jneyah stripumsayoh parah. (Weda Smrthi IX.101)

Artinya:

Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati,

Singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum yang tertinggi sebagai suami-isteri.Berdasarkan sloka di atas perkawinan merupakan awal dari terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali dalam hidup manusia. Warga rumah (suami dan isteri), wajib menjaga kesucian masing-masing, hidup rukun dan damai, tenteram, bahagia, mengupayakan terbinanya kepribadian dan ketenangan lahir dan batin dalam upaya menurunkan anak yang baik.

Dalam kitab Rg Veda dinyatakan laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri disebut dengan satu istilah “dampati” yang artinya tidak dapat dipisahkan. Dalam agama Hindu perempuan diakui sejajar dengan laki-laki. Dalam kitab chandokya upanisad disebutkan bahwa semua manusia tanpa membedakan jenis kelamin berasal dari sumber yang sama yaitu Tuhan.

Kitab Chandogya Upanishad menyatakan bahwa: Tuhan adalah jiwa dari seluruh alam semesta ini. Tuhan adalah hakekat kenyataan, Tuhan adalah kebenaran sejati, beliaulah Paramatman (sumber dari jiwa), Engkau adalah itu (tat-twam-asi).

 

Berdasarkan Weda Smrthi, perkawinan memiliki sifat yang religius (sacral) karena

dihubungkan dengan tugas untuk menghasilkan turunan yang suputra (Put artinya neraka dan Tra artinya menyelamatkan, menyeberangkan). Di dalam kitab Slokantara disebutkan mempunyai seorang putra itu lebih berguna dari pada melakukan seratus korban suci (yadnya) asal lahir anak yang utama (wisesa). Perkawinan menurut pandangan Hindu bukanlah sekedar legalitas hubungan biologis semata, tetapi merupakan suatu peningkatan nilai berdasarkan hukum agama. Wiwaha Samskara merupakan upacara sakral, atau sakralisasi suatu peristiwa kemanusiaan yang bersifat wajib bagi umat Hindu (Weda Smrthi II.67). Dalam upacara perkawinan, umat Hindu memuja Tuhan dalam aspek sebagai Dewa Ardha Nareswari. Tuhan dalam aspeknya sebagai Dewa Ardha Nareswari disimbulkan laki-laki dan perempuan dalam satu badan. Simbol ini menggambarkan bahwa laki-laki dan perempuan harus bersatu padu dan bekerjasama dalam kesetaraan. Hubungan suami dan isteri bagaikan api dengan panasnya.

 

Tujuan hidup manusia Hindu yaitu tercapainya kesejahteraan atau kebahagiaan lahir dan

batin (moksartham jagathittha). Moksa adalah bersatunya atma ke dalam Paramatma

(Brahman) sehingga tercapailah kebahagiaan yang sejati. Sedangkan jagadhita adalah

kebahagiaan jasmani, kebahagiaan karena benda-benda materi. Tujuan hidup manusia secara

lebih lengkap terangkum dalam kitab Brahmana Purana yang menyatakan bahwa dharma artha

kama moksanam sariram sadhanam, yang artinya badan wadag ini adalah dipergunakan untuk

mendapatkan dharma, artha, kama, dan moksa. Dharma adalah kebenaran, artha adalah

kekayaan materi, kama adalah hawa nafsu, dan moksa adalah kebahagiaan yang sejati. Dengan

demikian tujuan hidup manusia Hindu adalah melaksanakan dharma, mengejar harta, menikmati

kama, dan mencapai moksa.

 

Keempat tujuan hidup manusia Hindu tersebut tidak bisa dilepaskan begitu saja

keberadaannya dengan periodesasi/masa kehidupan yang dikenal dengan nama Catur Asrama

yaitu Bramacari Asrama, Grahastha Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Bhiksuka Asrama.

Brahmacari Asrama adalah masa menuntut ilmu pengetahuan dan keterampilan. Grahastha

Asrama adalah masa membangun keluarga yang diawali dengan upacara perkawinan.

Wanaprastha Asrama adalah masa memperdalam ajaran agama, mencari kebenaran tentang arti

hidup yang sebenarnya.

 

Masa ini adalah masa mengasingkan diri. Bhiksuka Asrama adalah

masa pelepasan secara total ikatan-ikatan keduniawian dengan hidup berkelana melakukan

pengembaraan spiritual, misalnya dengan melakukan dharma Yatra yaitu mengunjungi tempat tempat yang suci untuk melakukan penyucian diri. Sebagai pedoman dan tuntunan dalam kehidupan berumah tangga agar tercapai kebahagiaan hidup, maka warga rumah wajib melakukan komunikasi spiritual secara rutin dengan Tuhan, hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, dan hubungan yang harmonis dengan alam lingkungannya (Tri Hita Karana).

Sesuai dengan ajaran Hindu, warga rumah (suami, isteri, anak, cucu, dan lain-lain)

dilarang untuk melakukan himsa karma, yaitu perbuatan yang mengorbankan, menyengsarakan,

atau menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Kitab Sarasamuccaya, sloka 90 menyatakan sbb:

“Karena itu hendaknya dikekang, diikat kuat-kuat panca indera dan pikiran itu, jangan dibiarkan akan melakukan tindakan melanggar, melakukan sesuatu yang tercela, sesuatu yang tidak membawa kebahagiaan, sesuatu yang pada akhirnya tidak menyenangkan.“

 

Kewajiban Anggota Keluarga Hindu.

Dalam sebuah keluarga minimal terdiri dari suami (bapak), isteri (ibu), dan anak yang

masing-masing memiliki tugas dan kewajiban sebagai warga rumah. Tugas dan kewajiban isteri

dan suami secara umum yang harus dilaksanakan antara lain: Suami-isteri wajib saling

mencintai, hormat-menghormati dalam kesetaraan, setia, saling membantu baik lahir maupun

batin. Setelah mempunyai putra (santana), suami-isteri bekerjasama mendidik putra-putrinya

sebaik-baiknya sampai putra-putrinya kawin dan dapat berdiri sendiri. Hubungan cinta kasih

antara suami-isteri harus dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Di samping itu suamiisteri

berkewajiban mempelajari dan menjalankan ajaran-ajaran agama. Di samping mendalami

ajaran tatwa agama, juga melaksanakan upacara keagamaan serta ajaran kesusilaan (etika

agama) seperti Trikaya Parisudha, Catur Paramita, Panca Yamabratha, Panca Nyamabratha,

Dasa Dharma, Dasa Paramita, dan lain-lain. Secara khusus tugas dan kewajiban suami, isteri,

dan anak diatur sebagai berikut:

 

 

1. Tugas dan Kewajiban Suami.

Laki-laki disebut suami karena ia mempunyai isteri. “Suami” berasal dari bahasa

Sanskerta yang berarti “pelindung.” Ini berarti tugas suami adalah melindungi isteri dan anakanak.

Juga menjaga keutuhan keluarga dengan menghindari perceraian, mendidik isterinya untuk

melakukan penyucian diri (bratha), memberi benih putra-putri yang luhur (Rg Veda.X.85.25).

Suami dan isteri dalam keluarga diumpamakan sebagai akasa dan pertiwi atau benih

dengan tanah yang tertuang dalam kitab Weda Smrthi sebagai berikut:

Wanita dinyatakan sebagai tanah, laki-laki dinyatakan sebagai benih; jazad badaniah

yang hidup terjadi karena hubungan antara tanah dengan benih.“

Sloka di atas menegaskan bahwa seorang suami mempunyai tugas sebagai pemrakarsa,

pencetus, pemimpin dalam rumah tangga. Dengan demikian keluarga Hindu menganut sistem

kebapakan (Sang Purusa, Patriarchat).

 

▪Dalam kitab Sarasamuccaya 242, suami atau bapak mempunyai kewajiban membangun jiwa

dan raga anaknya:

  1. Sarirakrt , artinya mengupayakan kesehatan jasmani anak.
  2. Prana data, artinya membangun jiwa si anak.
  3. Anna data, artinya memberikan makan.

▪Dalam kitab Grhya Sutra seorang suami mempunyai dua kewajiban, yaitu:

1)      Memberikan perlindungan pada isteri dan anaknya (patti).

2)      Berkewajiban menjamin kesejahteraan isteri dan anak-anaknya.

▪Dalam kitab Nitisastra VII.3 kewajiban suami/bapak dalam keluarga ada 5 jumlahnya yang

disebut Panca Wida, yaitu:

1)      Matulung urip rikalaning baya, artinya menyelamatkan keluarga pada saat bahaya.

2)      Nitya maweh bhinojana, artinya selalu mengusahakan makanan yang sehat, yang satwika.

3)      Mangupadyaya, artinya memberi ilmu pengetahuan kepada warga rumah.

4)      Anyangaskara, artinya menyucikan anak atau membina mental spiritual anak.

5)      Sang ametwaken, artinya sebagai penyebab lahirnya anak.

▪Dalam kitab Veda smrthi Bab III.45 s.d 60 mengurai tugas suami adalah membangun

Grahajagadhita dengan cara:

1)      Menggauli isterinya kecuali pada perwani.

2)      Merasa puas dengan isterinya seorang.

3)      Menghormati isterinya.

4)      Merasa bahagia dengan isterinya.

▪Dalam kitab Veda smrthi Bab IX.3, suami/bapak adalah sebagai pelindung isterinya yang

lengkapnya tersurat sebagai berikut:

“Selagi ia (isteri) masih kecil seorang ayahlah yang melindungi, dan setelah dewasa

suaminyalah yang melindunginya dan setelah ia tua putra-putrinyalah yang melindungi,

wanita tidak pernah layak bebas dari perlindungan.“

Secara lebih terperinci tugas suami dalam keluarga menurut Veda Smrthi Bab IX.2, 3, 9,

dan 11 dapat disampaikan sebagai berikut:

1) Wajib melindungi isteri dan anak-anaknya serta memperlakukan isteri dengan sopan dan

hormat. Wajib memelihara kesucian hubungan dengan saling mempercayai sehingga

terjamin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga.

2) Suami hendaknya menyerahkan harta kekayaan dan menugaskan isterinya untuk mengurus

harta rumah tangga, urusan dapur, yadnya, serta ekonomi keluarga.

3) Suami wajib menggauli isterinya dan mengusahakan agar antara mereka sama-sama

menjamin kesucian keturunannya serta menjauhkan diri dari unsur-unsur yang

mengakibatkan perceraian.

4) Suami hendaknya selalu merasa puas dan berbahagia bersama isterinya karena dalam

rumah tangga apabila suami-isteri merasa puas, maka rumah tangga itu akan terpelihara

kelangsungannya.

5) Suami wajib menjalankan tugas dan kewajiban sebagai anggota masyarakat, bangsa, dan

negara dengan baik (dharma grahastha, kula dharma)

6) Suami/ayah wajib mengawinkan putra-putrinya pada waktunya.

7) Suami wajib melakukan sraddha, pemujaan terhadap leluhur (pitra puja), memelihara

cucunya dan melaksanakan panca yadnya.

 

2. Tugas dan Kewajiban Isteri

Dalam rumah tangga, perempuan disebut isteri karena ia mempunyai suami. Wanita yang

sudah menikah disebut isteri. Kata “isteri” berasal dari bahasa sanskerta “Stri“ yang berarti

pengikat kasih. Fungsi isteri adalah menjaga jalinan kasih sayang keluarga (suami dan anakanaknya). Anak haruslah dibangun jiwa dan raganya dengan curahan kasih ibu. Prabu Yudistira dalam kitab Mahabharata mengatakan isteri itu sebagai ibu dalam rumah tangga, juga sebagai dewi dan permaisuri. Kata “permaisuri” berasal dari kata parama yang artinya utama dan iswari yang artinya pemimpin Sebagai “dewi” artinya isteri sebagai sinar dalam keluarga dan sebagai permaisuri isteri adalah pemimpin yang utama dalam mengatur tata hubungan, tatagraha, tatabhoga, tata keuangan, dan sebagainya.

 

Adapun tugas dan kewajiban isteri/ibu adalah:

  1. Melahirkan dan memelihara anak/putranya serta memberi kebahagiaan kepada suami dan
  2. anak-anaknya.
  3. Ramah kepada suami dan seluruh anggota keluarga suami.
  4. Bersama baik dalam suka maupun dalam duka dengan suami dan anak-anak.
  5. Memberi kebahagiaan dan keberuntungan kepada suami dan mertua.
  6. Menjadi pengayom bagi seluruh keluarga (Veda Smrthi Bab IX. 26).
  7. Berpenampilan lemah lembut dan simpatik. (Rg Weda VII 33.19).
  8. Menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga (Yajur weda XIV.21).
  9. Patuh kepada suaminya (Rg Weda X. 85, 43).
  10. Setia kepada suami, senantiasa waspada, tahan uji, menghormat yang lebih tua. (Atharwa
  11. weda XIV.1.41, Rg Weda X.85.27, Atharwa Weda XIV.2.20).
  12. Isteri sebagai Ibu Rumah Tangga (Atharwa weda).
  13. Isteri sebagai penerus keturunan (Manu Smrthi XI.26).
  14. Isteri sebagai pembimbing anak (Nitisastra, IV.21).
  15. Isteri sebagai penyelenggara aktivitas agama (Manawa dharma sastra VI.28).

 

Kaitannya dengan upacara persembahan (yadnya) dalam kitab Manawa Dharmasastra III.56

disebutkan: di mana wanita tidak dihormati maka tidak ada upacara persembahan yang

memberi kebahagiaan dan pahala mulia.

 

Tugas dan kewajiban Anak

1) Menuntut ilmu pengetahuan (masa brahmacarya)

2) Menghormati orang tuanya (ibu dan bapak) (Sarasamuccaya 239)

3) Menjadi anak yang suputra (menjaga nama baik keluarga, berpengetahuan, cerdik

cendekiawan, memiliki wawasan berpikir yang luas dan memiliki budi pekerti yang luhur)

(Sarasamuccaya 228).

4) Menyenangkan hati kedua orang tuanya dan tidak boleh berkata kasar kepada orang tuanya.

 

Gender dalam Perspektif Agama Buddha

 

Kondisi masyarakat India pada masa pra-Buddha diwarnai oleh perlakuan yang diskriminatif atas kasta dan gender. Salah satu ajaran Brahmanisme yang sangat seksis mengatakan bahwa hanya keturunan laki-laki yang berhak melaksanakan ritual penyucian pada saat upacara kematian orang tua mereka (baca = ayah), dan akan mengangkat ayah mereka masuk ke alam surga. Perempuan tidak berhak dan diyakini tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan orang tua mereka.1 Dalam situasi demikian, Buddha hadir membawa pembaharuan. Kasta dihapuskan, perempuan diberi hak dan kesempatan yang hampir sama dengan laki-laki dalam menjalani kehidupan religius maupun sosial. Totalitas sikap Buddha yang adil gender ialah didirikannya Sangha Bhikkhuni atau komunitas perempuan yang menjalani hidup suci secara selibat. Perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan atas jalan hidupnya sendiri: menjadi perumah-tangga biasa, atau meninggalkan peran tradisional tersebut dan hidup sebagai bhikkhuni. Buddha Gautama telah mewujudkan keadilan gender yang hampir setara, yang pada konteks jaman tersebut merupakan hal yang sangat radikal.

 

Pembaharuan yang dibawa oleh Buddha tersebut bertolak dari Hukum Karma yang

diajarkannya: Kemuliaan seseorang tidak berasal pada kelahirannya yang berjenis kelamin atau

dari keturunan (kasta) tertentu, melainkan ditentukan oleh perbuatan yang dilakukan. Ritual-ritual

persembahan atau pengorbanan tidak dapat menyucikan batin dan membebaskan seseorang dari samsara; oleh karenanya, salah satu keyakinan yang mendiskreditkan perempuan karena dianggap tidak dapat menyucikan orang tuanya setelah mereka meninggal adalah tidak benar. Buddha menegaskan potensi pencapaian spiritual yang sama antara kaum laki-laki dan perempuan asal tekun melatih diri dengan menyempurnakan: Sila (moralitas), Samadhi (konsentrasi), dan Pañña (kebijaksanaan). Tidak ada bias gender atau seksisme dalam ‘ajaran Buddha yang fundamental dan universal.’ Setelah Buddha mangkat (Parinibbana), status perempuan mengalami kemerosotan lagi. Perkembangan Buddhisme belakangan, terutama sejak munculnya sekte-sekte, telah melahirkan pandangan-pandangan negatif terhadap perempuan yang bertentangan dengan semangat ajaran Buddha yang egaliter. Pendapat lain mengklaim bahwa sifat non-egaliter dalam agama Buddha muncul karena pengaruh Hindu danKonfusianisme, serta kepercayaan-kepercayaan lokal yang patrtiarkis di mana agama Buddha berkembang.

 

Keluarga dalam Perspektif Buddha

Buddha memberikan kebebasan sepenuhnya kepada pengikutnya untuk memilih jalan

hidup yang terbaik: Meninggalkan keluarga dan menjadi bhikkhu/bhikkhuni, hidup berumahtangga,

maupun tidak berumah-tangga. Salah satu cara untuk hidup bahagia adalah dengan membentuk sebuah keluarga. Keluarga yang hidup rukun dan saling mengasihi mutlak demi terwujudnya kebahagiaan. Jika keluarga tidak harmonis, penuh masalah, dan rapuh, sebaliknya penderitaan yang akan muncul. Perkawinan di dalam agama Buddha bukan merupakan sesuatu yang bersifat sakral, dan oleh karenanya tidak mempunyai sanksi religius. Perkawinan adalah komitmen dua orang yang saling mencintai dan memutuskan untuk hidup bersama dalam satu ikatan lembaga perkawinan. Kesepakatan sebuah pasangan untuk saling mengikat janji disahkan secara agama Buddha dan hukum yang berlaku di masyarakat setempat.

As there is no God in Buddhism marriage is seen simply as a social contract. Marriage is

not believed to essential. No God instructed the Buddha that people should get married.

In this respect monogamy and polygamy are not right or wrong but simply ways of

arranging one’s life. However, Buddhists would not seek to promote relationships which

were against what was allowed in civil law.4

Kutipan di atas menyiratkan bahwa Buddha tidak pernah mengharuskan atau melarang

seseorang untuk berbuat sesuatu yang sesuai dengan kehendak orang itu sendiri. Buddha juga

tidak menghukum atau memberikan pahala pada seseorang, akan tetapi mengingatkan untuk

mempertimbangkan dengan masak, apakah suatu perbuatan akan merugikan dirinya atau orang

lain. Dengan kata lain apakah sesuatu akan menimbulkan penderitaan bagi dirinya atau pihak

lain. Misalnya tentang perceraian. Agama Buddha membolehkan terjadinya perceraian jika

keadaan memang memaksa. Daripada pasangan hidup tersiksa batinnya, perceraian diijinkan,

meskipun harus siap dengan segala akibatnya. Setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi

tersendiri sebagaimana yang diatur oleh Hukum Karma. Mempertimbangkan segala akibatnya,

seorang Buddhis sudah selayaknya takut untuk berbuat yang tidak baik karena ia akan

membayar perbuatannya dengan penderitaan yang setimpal.

 

Memilih pasangan hidup menurut pandangan Buddhis sebaiknya mempertimbangkan

empat hal, yaitu: kesamaan keyakinan (saddhā), sila (moralitas), kedermawanan (dāna), dan

kebijaksanaan (pañña). Kesetaraan dalam keempat hal tersebut dapat membuat sepasang

kekasih akan hidup bersama (berjodoh) dalam banyak kehidupan.5 Perkawinan yang melibatkan

dua orang yang berbeda keyakinan atau agama tidak dilarang dalam agama Buddha, akan tetapi

harus benar-benar dipikirkan dengan seksama. Perbedaan keyakinan apakah akan

memengaruhi keharmonisan hubungan antara kedua pasangan, lalu bagaimana pengaruhnya

terhadap keturunan mereka, semuanya harus dipahami dengan bijaksana. Upacara perkawinan yang diselenggarakan menurut agama Buddha pada dasarnya dirancang sedemikian rupa dengan mengadopsi adat-istiadat setempat, hanya saja terdapat beberapa prinsip yang mengacu pada pola kebiasaan atau tradisi Buddhis. Di atas altar disediakan patung Buddha, bunga, lilin, dupa, dan buah untuk melakukan puja atau penghormatan. Mempelai akan dipandu oleh seorang pandita untuk membaca Vandana dan Tisarana (menghormat kepada Budhha, lalu menyatakan berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha), serta Pancasila (lima disiplin moral).

 

Walaupun ajarannya tidak banyak menyinggung tentang perkawinan dan keluarga,

Buddha memberikan nasihat kepada umatnya yang menempuh hidup berumah-tangga mengenai

tata hubungan yang harmonis dan seimbang di antara anggota keluarga. Di dalam Sigalovadha

Sutta dijabarkan tugas dan kewajiban orang tua-anak, suami-istri, atasan-bawahan, tuanpembantu,

bahkan juga guru-murid, teman atau sahabat. Tugas dan kewajiban masing-masing

komponen —bukan hak dan kewajiban— menjadi dasar yang kuat karena mendorong semua

pihak untuk bersikap memberi daripada menerima. Mengapa bukan hak dan kewajiban? Buddha

menekankan bahwa seseorang hendaknya selalu mendahulukan kewajibannya, selalu berpikir

untuk mempersembahkan sesuatu yang bermanfaat dan membuat orang lain bahagia. Berpikir

untuk mendapatkan atau menuntut hak dari orang lain demi kepentingan kita pribadi adalah sikap

yang egois.

Yang Mulia Dalai Lama menjelaskan jika seseorang mulai memikirkan dan mengejar Kebahagiaan nya sendiri, maka pada saat itulah penderitaan bermula. Sebaliknya ketika ia melupakan dirinya sendiri dan mencari cara untuk membantu meringankan beban dan membahagiakan orang lain, saat itulah kebahagiaan muncul. Sebagaimana dikutip oleh Tsomo,

“Happiness comes from replacing our self-centered attitudes with the wish to help others —

generating loving kindness and compassion even toward those who harm us.”6 Dalam konteks

kehidupan berkeluarga, apabila setiap anggota keluarga memenuhi tugas dan kewajibannya

berarti: 1) tidak ada yang berpikir egois bahwa orang lain yang harus membahagiakan dirinya, 2)

tidak ada yang meninggalkan kewajibannya sehingga membebani orang lain dan menyebabkan

ketidakseimbangan dalam keluarga, 3) setiap anggota keluarga berpikir bahwa kebahagiaan

keluarga menjadi tanggung-jawab seluruh anggota, dan oleh karenanya semua harus aktif

mengupayakannya.

 

Komponen keluarga meliputi suami-istri, orang tua/mertua-anak, dan majikanpegawai/

pembantu. Kewajiban dari masing-masing komponen tersebut akan diuraikan di bawah

ini seperti yang tertulis di dalam Sigalovada Sutta:

a. Kewajiban suami terhadap istri

1. Menghormati istrinya;

2. Bersikap lemah-lembut terhadap istrinya;

3. Bersikap setia terhadap istrinya;

4. Memberikan kekuasaan tertentu kepada istrinya;

5. Memberikan atau menghadiahkan perhiasan kepada istrinya.7

b. Kewajiban istri terhadap suami

1. Melakukan semua tugas kewajibannya dengan baik;

2. Bersikap ramah kepada keluarga dari kedua belah pihak;

3. Setia kepada suaminya;

4. Menjaga baik-baik barang-barang yang dibawa oleh suaminya;

5. Pandai dan rajin dalam melaksanakan semua pekerjaannya.8

c. Kewajiban orang tua terhadap anak

1. Mencegah anak berbuat jahat;

2. Menganjurkan anak berbuat baik;

3. Memberikan pendidikan profesional kepada anak;

4. Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak;

5. Menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat.9

d. Kewajiban anak terhadap orang tua/mertua

1. Menyokong kehidupan mereka;

2. Melakukan tugas-tugas kewajiban terhadap mereka;

3. Menjaga baik-baik garis keturunan dan tradisi keluarga;

4. Mempersiapkan diri agar pantas untuk menerima warisan;

5. Mengurus persembahyangan kepada sanak keluarga yang sudah meninggal.10

Kewajiban suami-istri dalam Sigalovada Sutta menunjukkan pembagian yang tegas

antara peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga yang bekerja di sektor publik dan perempuan

yang harus patuh pada suami dan berada di wilayah domestik. Perlu diingat bahwa sutta ini

diturunkan pada konteks budaya masyarakat India di masa kehidupan Buddha Gotama.

Penerapannya memerlukan penyesuaian dengan konteks jaman sekarang yang menghargai

kesetaraan antara laki-laki dan perempuan serta bergesernya peran perempuan yang tidak lagi

terbatas pada wilayah domestik. Tujuan utama dari nasihat tersebut ialah agar setiap insan yang

hidup dalam lingkungan keluarga mengedepankan kewajiban dan tanggung-jawab demi

kesejahteraan dan kerukunan.

 

Pemahaman dan kesadaran setiap anggota keluarga akan tugas dan kewajiban serta

kerelaan untuk melakukannya seharusnya ditopang oleh moralitas yang baik. Bagi umat awam,

Buddha memberikan lima latihan moralitas yang akan membentuk kepribadian yang luhur dan

tidak menimbulkan masalah dalam masyarakat. Kelima latihan itu ialah:

1. Melatih diri menghindari menyakiti makhluk lain;

Menyakiti memiliki pengertian yang luas, misalnya tidak membunuh, sampai dengan tidak

menyakiti orang lain (anggota keluarga), baik secara fisik maupun emosional;

2. Melatih diri menghindari mengambil barang yang tidak diberikan;

Menghormati hak-hak anggota keluarga yang lain dan melaksanakan kewajiban serta

tanggung-jawab pribadi dengan sebaik-baiknya. Sebuah contoh yaitu pembagian tugas

antara suami dan istri yang adil dan seimbang. Gagasan bahwa istri harus mengurus rumah

dan bertanggung-jawab sendirian mengasuh anak-anak adalah tidak benar. Istri juga memiliki

kebutuhan untuk bersosialisasi dan mengaktualisasikan diri/berkarya. Jika waktu istri banyak

tersita untuk keluarga, suami berkewajiban meringankan beban tersebut agar istri memiliki

ruang dan kesempatan untuk melakukan kegiatan lainnya.13

3. Melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila;

Berselingkuh merupakan perbuatan yang harus dihindari karena akan menyakiti perasaan

suami/istri, yang juga bertentangan dengan sila pertama. Demikian pula melakukan

hubungan seksual yang tidak berdasarkan persetujuan dari kedua pihak akan menimbulkan

ketidaknyamanan atau perasaan tertekan pihak lainnya tidak boleh terjadi, apalagi sampai

mengarah pada terjadinya kekerasan seksual.

4. Melatih diri untuk menghindari berkata yang tidak benar;

Keluarga yang sehat berlandaskan pada kejujuran dan penghormatan satu sama lain.

Bertutur-kata yang baik dan menjaga nama baik keluarga juga masuk dalam latihan ini.

5. Melatih diri untuk menghindari minum-minuman keras atau obat-obatan terlarang yang

dapat menimbulkan ketagihan.

Kebiasaan buruk ini jika tidak dihindari akan merusak pelakunya secara fisik, sekaligus

menyebabkan merosotnya moralitas dan ambruknya perekonomian keluarga. Keluarga akan

terpengaruh, deemikian pula masyarakat sekitarnya.

 

Menjalankan Pancasila sama artinya dengan ‘mendisiplinkan diri’ untuk bertingkah-laku yang

baik, yang tidak akan menimbulkan keresahan atau masalah bagi diri sendiri dan orang lain.

Secara tidak langsung ia telah menjaga keutuhan keluarganya sendiri, keluarga orang lain, dan

masyarakat.

Pemahaman dan Sikap Adil Gender dalam Keluarga Buddha

Nasihat tentang pelaksanaan kewajiban dan tanggung-jawab dari Sigalovada Sutta, dilandasi tingkah laku yang bajik dengan melaksanakan Pancasila seyogyanya akan membuat sebuah keluarga dapat hidup dalam keharmonisan. Akan tetapi kenyataannya kasus-kasus kekerasan dalam rumah-tangga masih banyak terjadi. Apa yang salah atau kurang dengan ajaran agama? Bagaimana agar setiap insan yang menjadi bagian dari sebuah keluarga mau memahami, menyadari, dan yang terpenting menjalankan kewajiban sesuai petunjuk Buddha? Bagaimana caranya seseorang dapat mempunyai moralitas yang baik? Bukankah kadang seseorang yang baik berubah menjadi penyiksa yang kejam, pemabuk, pemerkosa, bahkan pembunuh?

Telah disinggung di depan bahwa ajaran Buddha dalam perkembangannya menyerap pengaruh budaya patriarkis yang menciptakan stereotip-stereotip yang merugikan kaum perempuan. Hukum Karma yang mengoreksi pandangan salah tentang inferioritas seseorang berdasarkan kasta atau jenis kelamin yang ditentukan oleh kelahirannya justeru mengalami salah penafsiran. Dewaraja menyatakan:

The doctrine of Karma and Rebirth, one of the fundamental tenets of Buddhism, has been interpreted to prove the inherent superiority of the male. According to the law of Karma,

one’s actions in the past will determine one’s position, wealth, power, talent and even sex

in future births. One is reborn a woman because of one’s bad Karma. Thus the

subordination of women is given a religious sanction. The doctrine of Karma and Rebirth,

one of the fundamental tenets of Buddhism, has been interpreted to prove the inherent

superiority of the male. According to the law of Karma, one’s actions in the past will

determine one’s position, wealth, power, talent and even sex in future births. One is

reborn a woman because of one’s bad Karma. Thus the subordination of women is given

a religious sanction

Adanya pandangan bahwa terlahir sebagai perempuan lebih banyak menderita karena faktor-faktor biologisnya seperti takdir untuk mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan memesarkan anak sedikit banyak telah mendorong pada munculnya gender inequalities dan gender injustices. Keyakinan yang salah akan ketidakmampuan perempuan mencapai ‘kebuddhaan’ selama masih terperangkap dalam fisik dan kesadarannya sebagai perempuan juga membawa efek yang menyudutkan posisi perempuan. Pandangan-pandangan salah semacam ni harus dikoreksi, jika menginginkan pemahaman dan keadilan gender dapat terwujud dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Pembenahan dalam cara berpikir tentang gender perlu diikuti dengan perubahan dalam sikap dan perilaku. Buddha tidak hanya memberikan doktrin-doktrin, tetapi juga memberikan ‘jalan’ untuk mengurangi penderitaan dan mengantarkan pada kebahagiaan. Penderitaan dalam perspektif Buddhis erat kaitannya dengan sifat ‘dukkha’ yaitu ‘tidak kekal,’ ‘tidak memuaskan,’ dan ‘tidak sempurna’ dari kehidupan ini. Penderitaan muncul ketika seseorang menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan sifat kehidupan. Doktrin tidak dapat merubah sifat dan perilaku seseorang. Dengan hanya mengerti ajaran-ajaran tentang baik-jahat, terpuji-tercela, kekal-fana, memuaskan-mengecewakan, dan seterusnya tidak mampu merubah karakter seseorang menjadi baik. ‘Delapan Jalan Utama’ (Ariya Atthangika Magga) yang diajarkan oleh Buddha merupakan sebuah ‘way of life’ yang sehat, sering juga disebut sebagai ‘Jalan Tengah’

(Majjhimā Patipadā) yang tidak memanjakan kesenangan inderawi dan tidak pula menyiksa diri. Jalan Tengah yang dimaksud yaitu:

1. Sammā Ditthi : Pengertian Benar

2. Sammā Sankapa : Pikiran Benar

3. Sammā Vāccā : Ucapan Benar

4. Sammā Kammanta : Perbuatan Benar

5. Sammā Ajiva : Penghidupan Benar

6. Sammā Vāyāma : Daya Upaya Benar

7. Sammā Satti : Perhatian Benar

8. Sammā Samādhi : Konsentrasi Benar15

Kedelapan jalan tersebut dapat diringkas dalam tiga kelompok, yaitu (1) yang berhubungan dengan moralitas atau tingkah laku (Sila), terdiri dari ‘Ucapan Benar,’ ‘Perbuatan Benar,’ dan ‘Penghidupan Benar;’ (2) yang berhubungan dengan disiplin mental (Samadhi), terdiri dari ‘Daya Upaya Benar,’ ‘Perhatian Benar,’ ‘Konsentrasi Benar;’ dan (3) yang berhubungan dengan pencapaian kebijaksanaan (Pañña), yang terdiri dari ‘Pengertian Benar’ dan ‘Pikiran Benar.’ Penjabaran dari Sila kurang lebih sama dengan pelaksanaan Pancasila, yaitu dengan mendisiplikan diri untuk berperilaku yang baik dan benar, tidak menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri maupun makhluk lain. ‘Penghidupan Benar’ menyangkut cara mencari nafkah yang tidak membahayakan dan merugikan makhluk lain, seperti penipuan, ketidaksetiaan, penujuman, kecurangan, memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat). Perdagangan yang harus dihindari adalah berdagang alat senjata, berdagang makhluk hidup, berdagang daging (atau

segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup), berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan, dan berdagang racun.

 

            Samadhi (meditasi atau mendisiplinkan mental) merupakan latihan untuk membangun

unsur-unsur yang positif dan melenyapkan unsur-unsur yang jahat pada diri seseorang; mengenal diri sendiri dengan lebih baik sehingga waspada dan mampu mengendalikan diri atas munculnya emosi-emosi negatif; dan yang terakhir mencapai keseimbangan pikiran/batin.Penyelaman dan pengolahan pikiran/batin ini sama dengan menciptakan mental yang sehat, kokoh, tenang, tidak rapuh jika mendapat serangan berbagai persoalan hidup. Meditasi mempunyai kekuatan untuk meredakan amarah, mengenali sifat tidak kekal dari berbagai gejolak perasaan, mengikis kebencian, menenangkan batin dan menjernihkan pikiran. Kualitas mental yang dicapai melalui melatih Sila dan Samadhi dengan tekun membuat seseorang terbiasa untuk bereaksi dengan sikap dan tindakan dengan penuh pertimbangan dan pengendalian diri.

Perselisihan dan kekerasan muncul karena seseorang tidak ‘terampil’ mengelola emosinya dengan tepat, tidak waspada terhadap akibat-akibat yang akan timbul dengan sikap/perilakunya yang negatif. Pañña yang mencakup ‘Pikiran Benar’ dan ‘Pengertian Benar’ merujuk pada ajaran yang dikemukakan oleh YM Dalai Lama sebelumnya, yaitu mengikis ego atau ‘keakuan’ yang menjadi sumber penderitaan. Kebencian, kerakusan, dan kebodohan (kegelapan batin) manusia merupakan tiga akar kejahatan (the three roots of evil) yang menyebabkan penderitaan dan hancurnya kehidupan. Misalnya seseorang menginginkan suatu benda; setelah berhasil memiliki

ia akan menginginkan yang lain lagi, yang lebih baik, lebih mahal, lebih banyak, dan seterusnya. Orang tersebut akan sangat menderita karena telah menjadi budak dari kerakusan yang menyiksanya. Ketiga hal tersebut dapat dikikis melalui ‘Pengertian Benar’ akan ‘Empat Kesunyataan Mulia’ (Hidup adalah Dukkha, Sumber Dukkha, Terhentinya Dukkha, dan Jalan yang Menuju ke Terhentinya Dukkha). Kebencian, kerakuan dan kebodohan hanya akan memenjarakan manusia dalam lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada henti. Pemahaman akan-akar penderitaan ini dicapai lewat pengembangan Pañña dan Samadhi.

 

Kekerasan dalam rumah-tangga terjadi ketika orang merespon secara negatif persoalan persoalan atau situasi-situasi yang dihadapi, khususnya yang melibatkan keluarga.Bahkan persoalan yang tidak bersangkut-paut dengan keluarga, tetapi tetap anggota keluarga atau pembantu yang menjadi sasaran kemarahan atau luapan emosi yang tidak terkendali. Pandangan Buddhis terhadap seseorang yang demikian adalah orang yang mentalnya sedang ‘sakit.’ Orang tersebut tidak bahagia, tetapi tidak mampu menghadapi rasa sakit dan terlukanya dengan sikap yang bijak. Ketidakbahagiaannya justeru menyeret ketidakbahagiaan orang lain, menimbulkan lebih banyak penderitaan. Keduanya sama-sama membutuhkan pertolongan, terlebih lagi orang yang menyakiti orang lain (atau anggota keluarganya sendiri).


 

BAB IV

                                                              KESIMPULAN

 

 

Dari uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa;

  1. Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab antar perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial budaya masyarakat, yang dapat berubah sesuai dengan tuntutan perubahan zaman. Sedangkan seks (jenis kelamin: laki-laki dan perempuan) tidak berubah dan merupakan kodrat Tuhan.
  2. Dalam ajaran agama Islam tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki,  baik sebagai hamba Allah, sebagai khalifah di bumi, sebagai hamba yang mempunyai tanggung jawab, sebagai hamba yang terlibat dalam drama kosmis, dan sebagai hamba yang berpotensi meraih prestasi.
  3.  Perbedaan di dalam Alqur’an ditemukan dalam masalah waris, kesaksian dan kepemimpinan dalam keluarga.
  4. Kisah-kisah kejadian Adam dan istrinya Hawa dalam Alquran tidak ditemukan secara kronologis, namun pemberitaan yang sangat mirip dengan kitab Kejadian (Alkitab) ditemukan dalam kitab-kitab Tafsir dan Sejarah Islam klasik, dan pemberitaan yang dihubungkan dengan Nabi Muhammad SAW. (Hadis).

5. Untuk menghindari ketidak-adilan antara perempuan dan laki-laki perlu  penafsiran ulang terhadap nash-nash yang bias gender.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

[4]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: