RSS

Pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif(kelemahan kelebihan: fisik dan psikis)

KATA PENGANTAR

             Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga kesejahteraan senantiasa dilimpahkan      kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya, serta kepada semua umatnya yang setia mengikuti ajarannya.

Syukur Alhamdulillah, atas pertolongan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan   baik. Adapun judul makalah ini adalah “ Pemahaman dan Penerimaan Diri Secara Objektif dan Konstruktif ”. Akhir kata penulis berharap apa yang penulis tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan terkhusus bagi penulis untuk digunakan sebagai pembelajaran dalam membuat karya-karya baru lainnya.

Semoga Allah SWT senantiasa tetap memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada penulis menuju jalan lurus yang penuh dengan Ridha-Nya.

Amin Ya Rabbal Alamin

BAB I

PENDAHULUAN

Pemahaman diri yang objektif akan membuat seseorang mengerti akan dirinya, termasuk kelemahan dan kelebihan yang dimiliki serta bisa bersikap positif dalam menanggapi kelemahan dan kelebihan yang ada. Menurut Loekmono (dalam Kartono, 1985) tujuan mengenal dan memahami diri sendiri bukannya untuk membuat orang menjadi kecewa setelah mengetahui bagaimana kepribadian dirinya, tetapi diharapakan agar setelah mengenal dan memahami dirinya sendiri seseorang dapat menerima kenyataan yang ada lalu berusaha dengan yang ada pada dirinya untuk mengembangkan pribadinya agar sehat dan memiliki karakteristik yang positif.

Penerimaaan diri mengandung persepsi terhadap dirinya sendiri. Willi (dalam Fahiroh dan Sulaiman, 2002) menyatakan bahwa penerimaan diri berhubungan dengan penyesuaian diri yang tinggi selain memberikan sumbangan pada kesehatan mental seseorang serta hubungannya antar pribadi. Lebih rincinya hubungannya antara persepsi dengan penyesuaian diri dalam penerimaan diri yaitu diawali dengan pengamatan individu saat menghadapi objek-objek riil secara kontak langsung dengan stimulus yang masih ada dan memberikan tanggapan yang dialami oleh perangsang sehingga individu mempunyai pendapat mengenai suatu objek yang diamati. Setelah timbul tanggapan, individu mulai melakukan tindakan penyesuaian diri untuk masuk dalam objek riil tersebut.

Penerimaan diri bagi seseorang yang pernah mengalami kehidupan hitam sering membuat orang yang bersangkutan sulit menerima dirinya. Seperti halnya seseorang yang pernah menjadi pelacur merasa kesulitan menerima keberadaan dirinya yang telah menjalani kehidupan hitam. Ike (2006) berpendapat bahwa masih banyak perempuan-perempuan yang pernah menjadi pelacur sulit menerima keberadaan dirinya dan memilih hidup mengucilkan diri dari lingkungan masyarakat. Bia sanya, mantan pelacur yang sulit menerima keberadaan dirinya adalah pelacur -pelacur yang dipaksa orang lain untuk menjadi pelacur, atau

dijerumuskan oleh seseora ng menjadi pelacur. Mantan pelacur yang terpaksa menjadi pelacur ini akan merasa dirinya telah menjadi manusia kotor, merasa menjadi manusia yang kurang memiliki moral, menyalahkan diri sendiri, dan cenderung tidak akan menyenangi dirinya sendiri. Keadaan mantan pelacur yang tidak dapat menerima masa lalunya bahwa ia pernah sebagai pelacur akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri denganmasyarakat.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    PEMAHAMAN DIRI

Memahami diri atas segala kelebihan dan kekurangan dirinya, misalnya individu dapat memahami kemampuan-kemampuan yang dimilikinya, potensi, bakat, sifat-sifat, dan tujuan yang diinginkannya serta mampu mengetahui apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Dan dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginannya. Apabila fungsi ini tidak berkembang dengan baik, pengembangan diri secara optimal dikhawatirkan tidak dapat tercapai.

Pemahaman diri yang objektif akan membuat seseorang mengerti akan dirinya, termasuk kelemahan dan kelebihan yang dimiliki serta bisa bersikap positif dalam menanggapi kelemahan dan kelebihan yang ada. Menurut Loekmono (dalam Kartono, 1985) tujuan mengenal dan memahami diri sendiri bukannya untuk membuat orang menjadi kecewa setelah mengetahui bagaimana kepribadian dirinya, tetapi diharapakan agar setelah mengenal dan memahami dirinya sendiri seseorang dapat menerima kenyataan yang ada lalu berusaha dengan yang ada pada dirinya untuk mengembangkan pribadinya agar sehat dan memiliki karakteristik yang positif.

Pemahaman diri secara objektif akan memungkinkan seseorang bisa melihat kelebihan yang dapat membuat percaya diri untuk bisa berbuat segala sesuatu, tentunya dibutuhkan sikap positif dalam menanggapi hal yang ada pada dirinya. Menurut Hakim (2002) pemahaman yang negatif seseorang terhadap dirinya sendiri yang cendrung selalu memikirkan kekurangan tanpa pernah menyakinkan dirinya memiliki kelebihan akan membentuk rasa tidak percaya diri. Hal ini berarti dengan melihat dan menyadari kekurangan yang dimiliki dengan sikap positif serta bisa memanfaatkan kelebihan yang dimiliki akan melahirkan keyakinan untuk bisa membuat orang menjadi percaya diri

Memahami diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan usaha memahami diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif. Untuk mencapai pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya menurut keadaan sesungguhnya. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan sesungguhnya, individu tersebut semakin dewasa.

Demikian juga apa yang dipikirkan seseorang tentang dirinya, bila semakin dekat (sama) dengan yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya, berarti ia semakin dewasa. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif.

Orang yang memiliki objektivitas teradap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya kepada orang lain (seolah orang lain negatif). Ia dapat menilai orang lain dengan seksama, dan biasanya ia diterima dengan baik oleh orang lain. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui humor yang sehat.

Contohnya, Para penyandang cacat tubuh secara tidak langsung akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas jika dibandingkan dengan orang yang normal karena secara fisik para penyandang cacat tubuh mengalami kelemahan dalam menggunakan tubuhnya secara optimal, bukan hanya itu saja karena secara psikis para penyandang cacat tubuh disadari atau tidak akan mengalami rasa rendah diri dan kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam masyarakat, ditambah lagi akan perlakuan yang diberikan kepada penyandang cacat tubuh dimana perlakuan itu ada yang berupa celaan atau belas kasihan.

Masalah yang menimpa para penyandang cacat jika tidak dapat diselesaikan dengan sikap yang positif akan membuat para penyandang cacat tubuh mengalami kecemasan berlebihan, putus harapan, takut bertemu orang, malu yang berlebihan, suka menyendiri dan nantinya para penyandang cacat tubuh akan memandang diri rendah. Hal ini seusai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Mangunsong (1998) orang yang mengalami cacat tubuh jika tidak mampu mengatasi kritis pada dirinya akan mengakibatkan anak lebih tertekan, menyesali diri terus-menerus, dan marah pada anak yang sehat, anak juga tidak mau berinteraksi dengan lingkungannya, dia akan mengurung diri, mengisolasi diri, curiga terhadap setiap orang karena merasa akan diejek dan dihina sehingga anak merasa tidak merasa aman dengan dirinya.

Jika hal itu dibiarkan akan berkembang dan menggangu kepercayaan diri para penyandang cacat tubuh dalam melakukan segala aktivitas, karena dengan kepercayaan diri cukup orang akan bersikap lebih tenang dalam melaksanakan segala sesuatu, mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi, memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilan dan mampu menetralisir ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi. Tentunya kepercayaan diri tidak muncul dengan sendirinya melainkan ada usaha yang dilakukan untuk merangsang dan menumbuhkan kepercayaan diri pada diri

Penilaian yang positif akan membentuk konsep diri dan penghargaan terhadap diri yang positif, adanya konsep diri yang dimiliki oleh individu pada akhirnya akan melahirkan kepercayaan diri, konsep diri sendiri tidak begitu saja terbentuk melainkan melalui beberapa proses: pemahaman diri merupakan salah satu proses yang harus dilakukan untuk membentuk konsep diri, dengan pemahaman diri yang didasarkan dengan sikap positif akan memunculkan konsep diri yang positif juga dimana hal itu akan berpengaruh pada kepercayaan diri yang tinggi.

Lindenfield (1997) menjelaskan salah satu ciri khusus orang yang mempunyai kepercayaan diri adalah pemahaman diri, dimana orang yang percaya diri secara batin juga sangat sadar akan dirinya, tidak terus-menerus merenungi diri sendiri tetapi secara teratur memikirkan perasaan, pikiran dan prilaku mereka dan mereka selalu ingin tahu bagaimana pendapat orang lain tentang diri mereka

Pemahaman diri yang objektif akan membuat seseorang mengerti akan dirinya, termasuk kelemahan dan kelebihan yang dimiliki serta bisa bersikap positif dalam menanggapi kelemahan dan kelebihan yang ada. Menurut Loekmono (dalam Kartono, 1985) tujuan mengenal dan memahami diri sendiri bukannya untuk membuat orang menjadi kecewa setelah mengetahui bagaimana kepribadian dirinya, tetapi diharapakan agar setelah mengenal dan memahami dirinya sendiri seseorang dapat menerima kenyataan yang ada lalu berusaha dengan yang ada pada dirinya untuk mengembangkan pribadinya agar sehat dan memiliki karakteristik yang positif.

Pemahaman diri secara objektif akan memungkinkan seseorang bisa melihat kelebihan yang dapat membuat percaya diri untuk bisa berbuat segala sesuatu, tentunya dibutuhkan sikap positif dalam menanggapi hal yang ada pada dirinya. Menurut Hakim (2002) pemahaman yang negatif seseorang terhadap dirinya sendiri yang cendrung selalu memikirkan kekurangan tanpa pernah menyakinkan dirinya memiliki kelebihan akan membentuk rasa tidak percaya diri. Hal ini berarti dengan melihat dan menyadari kekurangan yang dimiliki dengan sikap positif serta bisa memanfaatkan kelebihan yang dimiliki akan melahirkan keyakinan untuk bisa membuat orang menjadi percaya diri.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya para penyandang cacat tubuh akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas jika dibandingkan dengan orang yang normal karena secara fisik para penyandang cacat tubuh mempunyai kelemahan dalam tubuhnya, kelemahan yang ada pada tubuhnya menyebabkan para penyandang cacat tubuh mengalami rasa rendah diri, sehingga terkadang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam masyarakat, bukan hanya itu saja terkadang penyandang cacat tubuh akan mengalami tekanan dalam dirinya jika merasa akan dihina dan diejek sehingga hal itu bisa menyebabkan orang mengalami rasa rendah diri yang berlebihan dan jika hal ini terus menetap pada diri penyandang cacat tubuh lama kelamaan akan berkembang menjadi rasa tidak percaya diri.

Pemahaman diri yang objektif menuntut orang untuk mengetahui siapa diri seseorang yang sebenarnya, kemampuan dan minat yang dimiliki dan hal-hal yang disenangi maupun yang tidak,

  1. B.      PENERIMAAN DIRI
    1. a.    Pengertian

Penerimaan diri merupakan sikap positif terhadap dirinya sendiri, ia dapat menerima keadaan dirinya secara tenang, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mereka bebas dari rasa bersalah, rasa malu, dan rendah diri karena keterbatasan diri serta kebebasan dari kecemasan akan adanya penilaian dari orang lain terhadap keadaan dirinya (Maslow dalam Hjelle dan Ziegler,1992).

Sedangkan menurut Perls (dalam Schultz, 1991) penerimaan diri berkaitan dengan orang yang sehat secara psikologis yang memiliki kesadaran dan penerimaan penuh terhadap siapa dan apa diri mereka.

Lain lagi dengan pendapat dari Jahoda (dalam Wilsa, 1997) yaitu penerimaan diri merupakan salah satu karakteristik dalam kesehatan mental seseorang. Orang yang memiliki kesehatan mental yang baik akan memperlihatkan perasaan menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain.

Allport (dalam Hjelle dan Ziegler, 1992) menjelaskan bahwa penerimaan diri merupakan sikap yang positif, yang ketika individu menerima diri sebagai seorang manusia. Ia dapat menerima keadaan emosionalanya (depresi, marah, takut, cemas, dan lain-lain) tanpa
mengganggu orang lain.

Menurut Ryff (dalam Kail dan Cavanaugh, 2000) penerimaan diri sebagai individu yang memiliki pandangan positif tentang dirinya, mengakui dan menerima segi yang berbeda dari dirinya sendiri.

Chaplin (1999) mengatakan penerimaan diri adalah sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas dan bakat-bakat sendiri, serta pengetahuan- pengetahuan akan keterbatasan-keterbatasan sendiri. Kemudian Ryff (dalam Wilsa, 1997) berpendapat bahwa penerimaan diri adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki sikap positif terhadap dirinya sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek diri termasuk kualitas baik dan buruk, dan merasa positif dengan kehidupan yang telah dijalani.

Jadi, kami dapat menyimpulkan bahwa penerimaan diri merupakan sikap positif terhadap dirinya sendiri, dapat menerima keadaan dirinya secara tenang dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, serta memiliki kesadaran dan penerimaan penuh terhadap siapa dan apa diri mereka, dapat menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain, serta menerima keadaan emosionalnya (depresi, marah, takut, cemas, dan lain-lain) tanpa mengganggu orang lain.

Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke masa dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang, khususnya dalam pembentukan kepribadian seseorang (Riyanti , Prabowo & Puspitawati, 1996). Santrock (2002) mengatakan bahwa remaja memiliki perasaan bahwa mereka unik dan kebal yang membuat mereka berfikir bahwa penyakit dan gangguan tidak akan memasuki kehidupan mereka. Maka bukanlah suatu yang mengejutkan, ketika remaja diagnosa terkena penyakit terminal seperti kanker, mereka akan merasa terkejut, terhina dan merasa tidak adil (Taylor, 1999). Setelah didiagnosa adanya leukemia remaja sering berada dalam tahap krisis yang ditandai dengan ketidakseimbangan fisik, sosial dan psikis. Penyakit seperti leukemia dapat mengakibatkan perubahan drastis dalam konsep diri dan harga diri penderita. Perubahan ini dapat terjadi secara sementara namun dapat juga menetap. Dengan adanya diagnosa leukemia pada diri remaja dan menjalankan treatment-treatment dengan efek samping yang dihasilkan dari treatment tersebut, hospitalisasi dan dampak yang diberikan pada kehidupan remaja, hal-hal seperti ini kemungkinan dapat mempengaruhi penerimaan dirinya.

Penerimaan diri yang baik hanya akan terjadi bila individu yang bersangkutan mau dan mampu mamahami keadaan diri sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan. Selain itu juga harus memiliki harapan yang realistis, sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian bila seorang individu memiliki konsep yang menyenangkan dan rasional mengenai diri maka dapat dikatakan orang tersebut dapat menyukai dan menerima dirinya ( Hurlock, 1985).

  1. b.   Aspek-Aspek Penerimaan Diri

Aspek-aspek yang terkandung dalam penerimaan diri, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Pengetahuan diri

Menurut Shostrom (Poduska, 1990) proses penerimaan diri dapat ditempuh melalui pengetahuan terhadap diri sendiri terutama keterbatasan diri sehingga individu tidak berbuat di luar kesanggupannya dan tidak perlu berpura­pura sanggup melakukan sesuatu. Pengetahuan diri dapat dilakukan dengan mengenal diri baik secara internal maupun eksternal. Simorangkir (1987) berpendapat bahwa mengenal secara internal dapat dilakukan dengan cara menilai diri sendiri dalam hal kelebihan, kelemahan, sifat-sifat, dan lain-lain. Secara eksternal pengenalan diri dilakukan dengan cara menilai diri menurut pandangan orang lain.

  • Penerimaan diri pantulan (reflected self-acceptance)

Yaitu membuat kesimpulan tentang diri kita berdasarkan penangkapan kita tentang bagaimana orang lain memandang diri kita. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara meminta pendapat orang lain tentang diri sendiri (Supratiknya, 1995).

  • Penerimaan diri dasar (basic self-acceptance)

Yaitu keyakinan bahwa diri diterima secara intrinsik dan tanpa syarat. Penerimaan diri dasar ini lebih berorientasi pada urusan personal individu. Individu mampu menghargai dan menerima diri apa adanya serta tidak menetapkan standar atau syarat yang tinggi di luar kesanggupannya dirinya (Supratiknya 1995).

  • Pembandingan antara yang real dan ideal (Real-Ideal Comparison).

Yaitu penilaian tentang diri yang sebenarnya dibandingkan dengan diri yang diimpikan atau inginkan (Supratiknya, 1995). Kesenjangan antara diri ideal dan riil hanya akan menyebabkan individu merasa tidak puas diri dan mudah frustasi.

  • Pengungkapan diri

Pengungkapan diri mengandung arti bahwa penerimaan diri dapat ditempuh dengan upaya mengasah keberanian untuk mengungkapan diri (pikiran, perasaan, atau lainnya) kepada orang lain (Supratiknya, 1995). Pengungkapan diri dapat memberi informasi kepada individu tentang siapa dirinya, sebab dari interaksi tersebut individu akan mendapat feed back yang berguna untuk memperkaya pengetahuan tentang dirinya. Pengungkapan pikiran atau perasaan hendaknya dilakukan secara asertif sebab tindakan tersebut lebih mendukung pada perkembangan kepribadian yang sehat daripada cara agresif maupun pasif. Menurut Allport (Sobur, 2003) elemen penting dalam penerimaan diri adalah kemampuan mengontrol emosi. Upaya mengontrol emosi dapat dilakukan melalui tindakan asertif, sebab di dalam asertif terdapat pengontrolan emosi sehingga pengungkapan diri antar individu yang berkomunikasi dapat berjalan seimbang dan tidak ada individu yang tersakiti atau menyakiti.

  • Penyesuaian diri

Menurut Schneiders (1964) di dalam penerimaan diri terdapat penyesuaian diri. Individu yang tidak mampu menyesuaikan diri menjadi tidak mampu untuk menerima dirinya sendiri. Misalnya, ketika individu memiliki cacat pada tubuhnya, maka individu harus menyesuaikan diri dengan cacat tersebut, agar cacatnya dapat diterima menjadi bagian dari dirinya. Sebaliknya, bila tidak mampu menyesuaikan diri maka individu cenderung mengembangkan reaksi negatif bagi dirinya seperti terus menerus mengeluh, putus asa, frustasi, mengacuhkan dirinya, dan lain-lain. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa individu berupaya melakukan penolakan terhadap cacat tubuhnya. Jika keadaan ini dibiarkan maka individu tidak akan mampu menerima dirinya.

  • Memanfaatkan potensi secara efektif

Individu yang dapat memanfaatkan potensi dirinya secara efektif dapat membantu terciptanya penerimaan diri. Mappiare (1982) mengatakan bahwa penerimaan diri berarti mampu menerima diri apa adanya dan memanfaatkan apa yang dimilikinya secara efektif. Pendapat Mappiare mengandung dua hal yaitu pertama, proses penerimaan diri terdapat kemampuan untuk mengenali potensi diri. Kedua ada upaya yang positif untuk memanfaatkan apa yang dimilikinya, hal itu berarti ada rencana untuk mencapai masa depan yang baik.

Kesimpulannya, aspek-aspek dalam penerimaan diri meliputi pengetahuan diri, penerimaan diri pantulan, penerimaan diri dasar, pembandingan antara diri yang riil dengan ideal, pengungkapan diri, penyesuaian diri, Memanfaatkan potensi secara efektif.

  1. Ciri-ciri Penerimaan diri

Jersild (dalam Hurlock,1974) mengemukakan beberapa ciri penerimaan diri untuk membedakan antara orang yang menerima keadaan diri dengan orang yang menolak keadaan diri (denial). Berikut ini adalah ciri dari orang yang menerima keadaan diri :

a. Orang yang menerima dirinya memiliki harapan yang realistis terhadap keadaannnya dan menghargai dirinya sendiri.

b. Yakin akan standar-standar dan pengakuan terhadap dirinya tanpa terpaku pada pendapat orang lain.

c. Memiliki perhitungan akan keterbatasan dirinya dan tidak melihat pada dirinya sendiri secara irasional

d. Menyadari asset diri yang dimilikinya, dan merasa bebas untuk menarik atau melakukan keinginannya.

e. Menyadari kekurangannya tanpa menyalahkan diri sendiri.

  1. Faktor-faktor yang berperan dalam Penerimaan diri

Hurlock (1974) mengemukakan tentang faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri yang positif sebagai :

a. Adanya pemahaman tentang diri sendiri

Hal ini dapat timbul dari kesempatan seseorang untuk mengenali kemampuan dan ketidakmampuannya. Pemahaman diri dan penerimaan diri berjalan dengan berdampingan, maksudnya semakin orang dapat memahami dirinya, maka semakin dapat menerima dirinya

b. Adanya harapan yang realistik

Hal ini bisa timbul bila individu menentukan sendiri harapannya dan disesuaikan dengan pemahaman mengenai kemampuannya, dan bukan diarahkan oleh orang lain dalam mencapai tujuannya.

c. Tidak adanya hambatan didalam lingkungan

Walaupun seseorang sudah memiliki harapan yang realistik, tetapi bila lingkungan disekitarnya tidak memberikan kesempatan atau bahkan menghalangi maka harapan orang tersebut tentu akan sulit tercapai.

d. Sikap-sikap anggota masyarakat yang menyenangkan

Tidak adanya prasangka, adanya penghargaan terhada kemampuan sosial orang lain dan kesediaan individu untuk mengikuti kebiasaan lingkungan

e. Tidak adanya gangguan emosional yang berat

Yang membuat individu dapat bekerja sebaik mungkin dan merasa bahagia

f. Pengaruh keberhasilan yang dialami, baik secara kualitatif maupun kuantitatif

Keberhasilan yang dialami dapat menimbulkan penerimaan diri dan sebaliknya kegagalan yang dialami dapat mengakibatkan adanya penolakan diri

g. Identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik

Mengindentifikasi diri dengan orang yang Well adjusted dapat membangun sikap-sikap yang positif terhadap diri sendiri, dan bertingkah laku dengan baik yang bisa menimbulkan penilaian diri yang baik dan penerimaan diri yang baik

h. Adanya prespektif diri yang luas

Yaitu mempertahatikan juga pandangan orang lain tentang diri. Prespektif diri yang luas ini diperoleh melalui pengalaman dan belajar. Dalam hal ini usia dan tingkat pendidikan memegang peranan penting bagi seseorang untuk mengembangkan prespektif dirinya

i. Pola asuh dimasa kecil yang baik

Anak yang diasuh secara demokratis akan cenderung berkembang sebagai orang yang dapat menghargai dirinya sendiri

j. Konsep diri yang stabil

Individu yang tidak memiliki konsep diri stabil misalnya, maka kadang individu menyukai dirinya, dan kadang ia tidak menyukai dirinya, akan sulit menunjukan pada orang lain siapa dirinya yang sebenarnya, sebab individu.

  1. Contoh penerimaan diri

Kondisi fisik dan psikis dari penderita epilepsi membawa dampak negatif bagi perkembangan psikologisnya. Ada beberapa bentuk gangguan yang muncul dalam kondisi tersebut antara lain: rasa malu, rendah diri, hilangnya harga diri dan kepercayaan diri. Bentuk gangguan tersebut dapat menyebabkan penderita mengalami depresi yang berkepanjangan apabila tidak segera diatasi. Depresi yang dialami oleh penderita dapat mempengaruhi kemampuan untuk menerima diri sendiri. Penderita yang tidak dapat menerima diri sendiri akan merasa dirinya tidak berarti, tidak berguna, sehingga akan semakin merasa terasing dan terkucil dari lingkunganny.

Shontz (dalam Sarafino, 1994, h.402) memaparkan adanya serangkaian reaksi yang muncul setelah seorang pasien mendengar bahwa pasien tersebut terdiagnosis penyakit kronis seperti epilepsi. Pertama, seseorang akan mengalami shock. Keterkejutan akan berbeda kadarnya dan tergantung pada pemahaman pasien mengenai sakitnya. Perasaan terkejut ini merupakan reaksi darurat yang ditandai dengan tiga karakteristik, yaitu; (1). Merasa tertegun, lemas, dan bingung, (2). Berperilaku biasa tapi melamun, (3). Merasa tidak terlibat dalam situasi. Setelah mengalami keterkejutan yang merupakan reaksi darurat din atas, penderita  akan berlanjut pada tahap ke dua, yaitu encounter pada saat penderita mulai memahami penyakitnya dan bahwa ia harus hidup dengan membawa penyakit kronis tersebut. Pada masa ini, penderita sering kali kurang mampu merencanakan tindakan untuk mengatasi keadaan secara efektif. Banyak pasien yang menggunakan strategi penghindaran (avoidance) karena stres tinggi yang dirasakan penderita tersebut. Tahap ini akan berlanjut pada tahapan yang ketiga, yaitu retreat pada saat pasien mulai menyadari realitas dan berusaha untuk menjalani hidupnya sebaik mungkin, sekalipun dengan penyakit yang dideritanya.

C. Kelebihan Dan Kekurangan Dilihat Dari Segi Fisik Dan Psikis Berkaitan Dengan Pemahaman Dan Penerimaan Diri

  1. PEngertian potensi diri

Setiap manusia memiliki potensi diri. Potensi diri yang dimiliki berbede-beda dalam kualitas maupun kuantitas. Potensi diri terbedakan dalam dua bentuk yaitu: pertama, potensi fisik seperti bentuk tubuh, wajah, ketahanan tubuh, warna kulit dsb. Kedua, potensi mental atau psikisyang meliputi tingkat IQ (inteligensi quotient), EQ (Emotional quotient), AQ (Adversity Quotient), DAN SQ (spiritual quotient).

Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik. Sedangkan diri adalah seperangkat proses atau cirri-ciri proses fisik, perilaku, dan psikologis yang dimiliki.

Kekhasan potensi diri yang dimiliki oleh seseorang berpengaruh besar pada pembentukan pemahaman diri dan konsep diri. Ini juga terkait erat dengan prestasi yang hendak diraih dalam hidup. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dalam konteks potensi diri, jika terolah dengan baik akan memperkembangkan baik secara fisik maupun mental. Aspek diri yang kita miliki dan patut untuk diperkembangkan antara lain:

  1. Diri fisik: meliputi tubuh dan anggota-anggotanya beserta proses-proses didalamnya.
  2. Proses diri: proses diri merupakan alur atau arus pikiran, emosi, dan tingkah laku yang konstan.
  3. Diri social: bentuk pikiran dan perilaku yang diadopsi saat merespon orang lain dan masyarakat sebagai suatu kesatuan.
  4. Konsep diri: gambaran mental atau keseluruhan pandangan seseorang tentang dirinya.

Mari kita perhatikan beberapa contoh kelebihan dan kekurangan baik fisik maupun psikis.

subyek

Kelebihan diri

Kelemahan diri

Fisik

  1. Tampan
  2. Pendek
  3. Kuat dan karakter
  4. Ada cacat tubuh
  5. Tinggi
  6. Lemah
  7. Mulus dan cantik
  8. Jelek
  9. Sempurna
  10. Hitam

Psikisss

  1. pandai
  2. pemarah
  3. banyak bakat
  4. pembohong
  5. penyabar
  6. pemalas
  7. disiplin
  8. pemalu
  9. patuh
  10. mudah frustasi
  11. berprestasi
  12. bodoh
  13. memiliki kemauan keras
  14. penakut/pengecut
  1. Potensi diri fisik

Potensi diri fisik adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan apabila dilatih dengan baik. Kemampuan yang terlatih ini akan menjadi suatu kecakapan, keahlian, dan keterampilan dalam bidang tertentu. Potensi diri fisik akan semakin berkembang bila secara intens dilatih dan dipelihara. Beberapa contoh potensi fisik berikut ini akan member gambaran kepada kita tentangb hal itu:

Contoh 1: wajah tampan, berbodi atletis dan kekar.

Indra brugman memiliki potensi diri fisik berupa tubuh yang sehat, kuat dan kekar. Selain berbodi atletis, ia  juga memiliki tinngi badan yang memadai dengan warna kulit dan warna rambut yang mirip bule. Wajahnya lumayan tampan. Ia berhasil menjadi foto model dan peragawan, indra brugman mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi pemain sinetron. Dengan potensidiri, bakat dan kemampuannya ini ia dapat menghasilkan uang dalam hidupnya.

Contoh 2: suara indah dengan nada tinggi

Once memiliki potensi diri fisik berupa bakat menyanyi dengan nada suara tinggi. Melihat potensi yang ada pada dirinya, once berlatih secara intens dan mengekspresikannya dalam grup band dewa sebagai vokalis. Berbekal potensi menyanyi, latihan dan kerja keras, saat ini once menjadi penyanyi yang sukses secara  financial ataupun popularitas dikalangan anak muda.

Contoh 3: kemampuan otot, tangan, kaki dan leher untuk bertinju.

Mike Tyson memiliki potensi diri secara fisik antara lain tubuh yang hitam dan kuat. Daripada menjadi seorang gangster, mike Tyson memutuskan untuk menjadi seorang petinju professional. Potensi diri yang ia miliki, ia kembangkan dengan disiplin yang tinggi. Hasilnya mengagumkan, ia dijuluki si leher beton karena kemampuannya yang luar biasa. Dengan kemampuannya bertinju mike Tyson menjadi seorang petinju professional dan jutawan.

  1. POTENSI DIRI PSIKIS

Potensi diri psikis adalah bentuk kekuatan diri secara kejiwaan yang dimiliki seseorang dan mempunyai kemungkinan untuk ditingkatkan dan dikembangkan apbila dipelajari dan dilatih dengan baik. Bentuk potensi diri psikis yang dimiliki tiap orang adalah:

  1. Inteligent quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual.

Kecerdasan intelektual adalah bentuk kemampuan individu untuk berfikir, mengolah dan menguasai lingkungannya secara maksimal serta bertindak secara terarah. Laurel schnidt dalam jalan pintas menjadi 7 kali lebih cerdas membagi kecerdasan dam 7 macam:

  1. Kecerdasan visual/spasial (kecerdasan gambar): profesi yang cocok untuk tipe kecerdasan ini antara lain: arsitek, seniman, designer mobil, insinyur, perancang interior dan ahli fotografi.
  2. Kecerdasan verbal/linguistic (kecerdasan berbicara): profesi yang cocok bagi merek yang memiliki kecerdasan ini antara lain: pengarang atau penulis, guru, pemndu acara audio, presenter, pengacara, penerjemah, pelawak.
  3. Kecerdasan music: profesi yang cocock bagi mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah: penggubah lagu, pemusik, penyanyi, disk jokey, guru seni suara, kritikus music, ahli terapi music, audio mixer atau pemadu suara dan bunyi.
  4. Kecerdasan logis/matematis (kecerdasan angka): Profesiyang cock bagi mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah Ahli Matematika, Ahli pikir, Ahli  forensic, Ahli tata kota, Penaksir kegiatan asuransi, ahli keuangan, pialang saham, analis system computer, ahli gempa.
  5. Kecerdasan interpersonal (cerdas diri): Profesi yang cocok bagi mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal adalah Ulama, pendeta, guru, pedagang, resesionis, Pekerja social, pengelolah panti asuhan, perantara dagang, pengacara, manajer konvensi, ahli melobi, manejer sumber daya manusia.
  6. Kecerdasan intrapersonal (cerdas bergaul): profesi yang cocok bagi mereka yang memiliki kecerdasan intrapersonal anatara lain: peneliti,  ahli kearsiapan, ahli agama, ahli budaya, ahli purbakala, ahli etika kedokteran.
  1. Emosi Quotient (EQ) atau kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengendalikan dan menata perasaan sendiri dan perasaaan orang lain secara mendalam sehingga kehadirannya menyenagkan dan didambakan orang lain. Daniel Goleman dalam kecerdasan Emosi memeberi 7 kerangka kerja kecakapan ini, yaitu :

  • Kecakapan pribadi yaitu bentuk kecakapan dalam mengelolah diri sendiri
  • Kesadaran diri yaitu bentuk kecakapan untuk mengetahui kondisi diri sendiri dan rasa percaya diri yang tinggi.
  • Penagturan diri yaitu bentuk kecakapan dalam mengendalikan diri dan mengembangkan sifat dapat dipercaya, kewaspadaan, adaptibilitas dan inovasi.
  • Motivasi yaitu bentuk kecakapan untuk meraih prestasi, berkomitmen, inisiatif,  dan optimis.
  • Kecakapan social yaitu bentuk kecakapan  dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada oramg lain. Kecakapan ini meliputi pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, koaborasi dan kooperasi serta kemampuan tim.
  1. Adversity Quotient (AQ) atau kecerdasan dalam menghadapi kesulitan

Adversity  quotient adalah bentuk kecerdasan sesorang untuk dapat bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu  mengatasi tantangan hidup. Paul G Stoltz dalam Adversity Quotient membedakan 3 tingkatan AQ dalam masyarakat :

  • Tingkat Quiters (orang-orang yang berhenti). Quitters  adalah orang yang paling lemah AQnya. Ketika ia menghadapi berbagai kesulitan hidup, ia berhenti dan langsung menyerah.
  • Tingkat Campers (orang-orang berkemah). Camper adalah oaring yang memiliki AQ yang sedang. Ia merasa puas dan cukup atas apa yang telah dicapai dan enggan untuk maju lagi.
  • Tingkat Climbers (orang-orang yang mendaki). Climbers adalah orang yang memilki AQ  tinggi dengan kemampuan dan kecerdasan yang tinggi untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup.
  1. Spiritual Quotient (SQ)  atau Kecerdasan Spiritual

Spiritual Quotient dalah sumber yang menghilhami dan  melambungkan semangat  seseoarang dengan mengikatkan  diri pada nilai-nilai  kebenaran tanpa btas waktu (agus Nggermanto, Quantum Quotient, 2001). Menurt Dimitri  Mahayana, cirri-ciri seseoarang yang memiliki SQ tinggi adalah :

  • Memiki prinsip dan visi yang kuat
  • Mampu melihat kesatuan dan keanekaragaman
  • Mampyu memaknai setiap sisi kehidupan
  • Mampu mengelolah dan bertahan dalam kesultan dan penderitaan

DAFTAR PUSTAKA

Hapsari sri. 2005. Bimbingan dan konseling sma kelas XI. Jakarta: grafindo

Anonym,penerimaan diri padaindividu yang.www.gunadarma.ac.id/…/Artikel_10505131.pdf.(online) di akses tanggal 15 november 2011.

etd.eprints.ums.ac.id/1949/1/F100030107.pdf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: