RSS

Pengarustamaan Gender

23 Apr

SEKILAS TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN

Oleh Abdullah Pandang

  1. Latar belakang

Negara menjamin persamaan hak dan kedudukan setiap warga negara, laki-laki dan perempuan. Dalam konstitusi dasar negara UUD 1945, misalnya, dikemukakan jaminan negara atas persamaan hak bagi setiap warga dalam hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat 1), pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27, ayat 2), usaha bela negara (Pasal 30) dan dalam memperoleh pendidikan (Pasal 31). Secara lebih operasional, GBHN 1999 mengamanatkan perlu adanya lembaga yang mampu mengemban kebijakan nasional untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Di samping itu, pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi berbagai konvensi dunia dan menandatangani sejumlah deklarasi internasional berkaitan dengan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, seperti:

  1. Konvensi ILO No. 100 tahun 1950 dengan UU No. 80/1957 tentang Pengupahan yang Sama bagi Laki-laki dan Wanita untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya;
  2. Konvensi Hak Politik Perempuan (New York) dengan UU No 68/1958;
  3. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskrimanisi Terhadap Perempuan (CEDAW) dengan UU No 7/1984.
  4. Konvensi ILO No. 111 tahun 1985 dengan UU No. 21/1999 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan;
    1. Konferensi Dunia ke IV tentang Perempuan (Beijing tahun 1985).
  5. Deklarasi Jakarta (ASPAC tahun 1994);
  6. Konferensi Internasional tentang Pembangunan Sosial (Copenhagen tahun 1994);
    1. Optional Protocol 28 Februari 2000;

Adanya jaminan konstitusi dan berbagai kebijakan formal tersebut ternyata tidak dengan sendirinya bisa mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan nyata. Dalam kenyataan, masih tampak berbagai bentuk ketimpangan gender pada berbagai aspek kehidupan. Salah satu indicator yang dapat digunakan untuk mengukur kesenjangan ini adalah Gender Empowerment Measurement (GEM) dan Gender-related Development Index (GDI) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Human Developement Index. Berdasarkan Human Development Report 2000, GDI Indonesia menduduki urutan ke 109 dari 174 negara yang diukur, dan lebih rendah dari Negara-negara ASEAN lainnya.

Kesenjangan gender tampak terjadi di berbagai bidang pembangunan. Dalam bidang pendidikan, misalnya, menurut Susenas 1997 diperoleh data, penduduk perempuan yang berpendidikan tinggi sekitar 2,7%, lebih sedikit ketimbang laki-laki yang mencapai 3,34%.  Selain itu, representasi penduduk perempuan yang buta huruf mencapai 14,46%, sementara laki-laki hanya 6,6%. Dalam Susenas 1999, jumlah penduduk perempuan yang berhasil menyelesaiakan pendidikan hingga tingkat SLTP baru mencapai 31,4%, lebih rendah  dibandingkan dengan laki-laki yang mencapai 36%. Dalam bidang politik, terlihat bahwa representasi gender pada anggota legilatif masih amat timpang.  Anggota DPR perempuan baru mencapai 11,62% pada tahun 1997 dan 9,82% pada tahun 1999 (Profil Wanita Indonesia,  1998). Di berbagai Lembaga Tinggi Negara lainnya pun persentase perempuan rata-rata sangat kecil, yaitu: MPR = 7,8%,  MA = 10,7%, dan DPA = 6,6% (Soetjipto, A.W., 1997).  Dalam jajaran eksekutif, PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural eselon III hingga eselon I hanya 7,2% sementara laki-laki 92,8% (Profil Wanita Indonesia, 1998). Di bidang ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan baru mencapai 43,5%, sementara TPAK laki-laki 72,6% (Susenas 1999), dan masih ditemui adanya pemberian upah yang berbeda dengan pekerja laki-laki untuk pekerjaan yang sama (RIPNAS PP 2000-2004). Di bidang pemerintahan, pejabat perempuan yang menduduki jabatan bupati/walikota masih amat terbatas, dan hingga kini belum ada yang terpilih menjadi gubernur. Pada tingkat menteri, di samping amat terbatas, perempuan umumnya menempati posisi jabatan stereotip.

Untuk memperkecil kesenjangan gender yang terjadi pada berbagai sektor kehidupan, maka kebijakan dan program pembangunan yang dikembangkan saat ini dan di masa mendatang harus mengintegrasikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan  perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi, pada seluruh kebijakan dan program pembangunan nasional. Guna menjamin penyelenggaraan pembangunan seperti ini, pemerintah menerbitkan Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan yang mewajibkan seluruh departemen maupun lembaga pemerintah non departemen di pusat dan di daerah untuk melakukan pengarusutamaan gender dalam kebijakan dan program yang berada di bawah tugas dan tanggung jawab masing-masing.

B.     Konsep Dasar Gender

Gender adalah “konstruksi sosial tentang peran lelaki dan perempuan sebagaimana dituntut oleh masyarakat dan diperankan oleh masing-masing mereka” (Hafidz, 1995: 5). Gender berkaitan dengan pembagian peran, kedudukan dan tugas antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat yang dianggap pantas bagi laki-laki dan perempuan menurut norma, adat, kepercayaan dan kebiasaan masyarakat (Buddi,  dkk, 2000). Seperti halnya kostum dan topeng di teater, gender adalah seperangkat peran yang menyampaikan pesan kepada orang lain bahwa kita adalah feminim atau maskulin (Mosse, 1996). Dan, ketika konstruksi sosial itu dihayati sebagai sesuatu yang tidak boleh diubah karena dianggap kodrati dan alamiah, menjadilah itu ideologi gender.

Berdasakan ideologi gender yang dianut, masyarakat kemudian menciptakan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang bersifat operasional (Ortner, dalam Saptari & Holzner, 1995). Dalam pembagian peran gender ini, laki-laki diposisikan pada peran produktif, publik, maskulin, dan pencari nafkah utama; sementara perempuan diposisikan pada peran reproduktif, domestik, feminim, dan pencari nafkah tambahan (Fakih, 1997). Menurut Slavian (1994), penelitian-penelitian kross-kultural mengindikasikan bahwa peran seks itu merupakan salah satu hal yang dipelajari pertama kali oleh individu dan bahwa seluruh  kelompok masyarakat memperlakukan laki-laki dengan cara yang berbeda dengan perempuan.

Dalam praktiknya, menurut Fakih (1996), dikotomi peran ini kemudian ternyata memunculkan berbagai bentuk ketidakadilan gender, seperti adanya marginalisasi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja yang lebih panjang  dan lebih banyak (burden) dan sosialisasi ideologi nilai peran gender.

Cara pikir stereotipe tentang peran gender sangat mendalam merasuki pikiran mayoritas orang.  Sebagai contoh, perempuan dianggap lemah, tidak kompeten, tergantung, irrasional, emosional, dan penakut, sementara laki-laki dianggap kuat, mandiri, rasional, logis, dan berani (Suleeman, 2000) Selanjutnya ciri-ciri  stereotipe ini dijadikan dasar untuk mengalokasikan peran untuk lelaki dan perempuan (Wardah, 1995 : 20).

  1. Pengarusutamaan Gender

Pengarusutamaan gender (PUG), atau dalam istilah Inggeris: Gender Mainstraiming, merupakan suatu strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Tujuan pengarusutamaan gender adalah memastikan apakah perempuan dan laki-laki:

  • memperoleh akses yang sama kepada sumberdaya pembangunan,
  • berpartisipasi yang sama dalam proses pembangunan. Termasuk proses pengambilan keputusan,
  • mempunyai kontrol  yang sama atas sumberdaya pembangunan, dan
  • memperoleh manfaat yang sama dari hasil pembangunan.

Penyelenggaan pangarusutamaan gender mencakup baik pemenuhan kebutuhan praktis gender maupun pemenuhan kebutuhan strategis gender. Kebutuhan praktis gender adalah kebutuhan-kebutuhan jangka pendek dan berkaitan dengan perbaikan kondisi  perempuan dan/atau laki-laki guna menjalankan peran-peran sosial masing-masing, seperti perbaikan taraf kehidupan, perbaikan pelayanan kesehatan, penyediaan lapangan kerja, penyediaan air bersih, dan pemberantasan buta aksara. Kebutuhan strategis gender adalah kebutuhan perempuan dan/atau laki-laki yang berkaitan dengan perubahan pola relasi gender dan perbaikan posisi perempuan dan/atau laki-laki, seperti perubahan di dalam pola pembagian peran, pembagian kerja, kekuasaan dan kontrol terhadap sumberdaya. Pemenuhan kebutuhan strategis ini bersifat jangka panjang, seperti perubahan hak hukum, penghapusan kekerasan dan deskriminasi di berbagai bidang kehidupan, persamaan upah untuk jenis pekerjaan yang sama, dan sebagainya.

Dalam buku Panduan Pelaksanaan Inpres No 9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan, yang diterbitkan oleh Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, dikemukakan sejumlah kondisi awal dan komponen kunci yang diperlukan rangka menyelenggarakan pengarusutamaan gender. Kondisi awal dan komponen kunci yang dimaksud, dikemukakan pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1: Kondisi Awal dan Komponen Kunci Pengarusutamaan Gender

No

Kondisi Awal yang Diperlukan

Komponen Kunci

Political will dan kepemimpinan dari lembaga dan pemimpin eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

Adanya kesadaran, kepekaan, dan respons, serta motivasi yang kuat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender.

Peraturan perundang-undangan, misalnya:

  • UUD 1945
  • Tap MPR
  • Undang-undang
  • Peraturan Pemerintah
  • Kepres
  • Perda
Adanya kerangka kebijakan yang secara jelas menyatakan komitmen pemerintah, propinsi, kabupaten/kota terhadap perwujudan kesetaraan dan keadilan gender Kebijakan-kebijkan yang secara sistemik mendukung penyelenggaran PUG, termasuk kebijakan, strategi, program, kegiatan, beserta penyediaan anggarannya, seperti:

  • penyerasian berbagai kebijakan dan peraturan yang responsive gender
  • penyusunan kerangka kerja akuntabilitas
  • penyusunan kerangka pemantauan dan evaluasi yang responsive gender
  • pelembagaan institusi pelaksana dan penunjang PUG.
Struktur dan mekanisme pemerintah, propinsi, kebupaten/kota yang mengtegrasikan perspektif gender Struktur organisasi pemerintah dalam rangka pelaksanaan PUJ di lingkup nasional, propinsi, dan kabupaten/kota, yang ditandai oleh terbentuknya:

  • Unit PUG
  • Focal point
  • Kelompok Kerja
  • Forum

Mekanisme pelaksanaan PUG diintegrasikan pada setiap tahapan pembangunan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, penganggaran, pemantauan, dan evaluasi.

Sumber-sumber daya yang memadai
  • § SDM yang memiliki kesadaran, kepekaan, keterampilan, dan motivasi yang kuat dalam melaksanakan PUG di unitnya.
  • § Sumber dana dan sarana yang memadai untuk melaksanakan PUG
Sistem Informasi dan data yang terpilah menurut jenis kelamin Data dan statistik yang terpilah menurut jenis kelamin
Alat analisis Analisis gender untuk:

  • § Perencanaan
  • § Penganggaran
  • § Pemantauan dan evaluasi
Dorongan dari masyarakat madani kepada pemerintah Partisipasi masyarakat madani yang dilakukan dalam mekanisme dialog dan diskusi dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi.
  1. D.     Lingkup Kegiatan dan Alur Kerja Pengarusutamaan Gender

Pengarusutamaan gender dilakukan dalam seluruh rangkaian kegiatan pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantuan, hingga evaluasi. Operasionalisasi kegiatannya melibatkan tahapan dan alur kerja analisis gender, seperti digambarkan pada Gambar 1.

Seperti digambarkan pada Alur Kerja Analisis Gender, dalam perencanaan yang responsif gender, terdapat tiga tahap utama, yaitu (1) melakukan analisis kebijakan gender, (2) memformulasi kebijakan yang responsif gender, dan (3) menyusun rencana aksi kebijakan/program/proyek/kegiatan yang responsif gender.

Tahap pertama dalam perencanaan, yaitu Analisis Kebijakan Gender, perlu dilakukan karena pada umumnya kebijakan pemerintah hingga saat ini masih netral gender (gender neutral) dan kadang-kadang, secara tidak sengaja, mempunyai dampak kurang menguntungkan bagi salah satu jenis kelamin. Dengan menggunakan Data Pembuka Wawasan kita dapat melihat bagaimana kebijakan dan program yang ada ssat ini memberikan dampak berbeda kepada laki-laki dan perempuan. Tahap kedua, Formulasi Kebijakan Gender, dilakukan untuk menyusun Sasaran Kebijakan Kesetaraan dan Keadilan Gender  yang menggiring kepada upaya mengurangi atau menghapus kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Selanjutnya, tahap ketiga, Rencana Aksi Kebijakan Kesetaraan dan Keadilan Gender disusun sebagai suatu rencana aksi berupa kebijakan/program/proyek/kegiatan pembangunan yang perlu dilakukan untuk mengatasi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Seluruh kegiatan dalam rencana aksi harus sesuai dengan tujuan yang telah diidentifikasi dalam tahap Formulasi Kebijakan Kesetaraan dan Keadilan Gender di atas. Rencana aksi kebijakan ini perlu disertai dengan indikator keberhasilan untuk mengukur kinerja pemerintah dalam mengimplemtasikan rencana aksi.

Pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang berperspektif gender diselenggarakan setelah tahap-tahap perencanaan yang responsif gender seperti dikemukakan di atas dilakukan. Dalam upaya mendukung dan mengefektifkan pelaksanaan pengarusutamaan gender, perlu dilakukan beberapa hal, antara lain:

  • Pemampuan dan peningkatan kapabilitas pelaksana pengarusutamaan gender
  • Penyusunan perangkat pengarusutamaan gender, seperti perangkat analisis, perangkat pelatihan, serta perangkat pemantauan dan evaluasi.
  • Pembentukan mekanisme pelaksanaan pengarusutamaan gender, seperti forum komunikasi, kelompok kerja, stering commite antar lembaga, dan pembentukan focal point pada masing-masing sektor.
  • Pembuatan kebijakan formal yang mampu mengembangkan komitmen segenap jajaran pemerinah dalam upaya pengarusutamaan gender.
  • Pembentukan kelembagaan dan penguatan kapasitas kelembagaan untuk pengarusutamaan gender
  • Pengembangan mekanisme yang mendorong terlaksananya proses konsultasi dan berjejaring.
  1. E.     Penutup

Pengarusutamaan gender merupakan suatu strategi yang bertujuan untuk menjamin tercapainya kesetaraan dan keadilan gender, yaitu memastikan apakah perempuan dan laki-laki memperoleh akses kepada, berpartisipasi dalam, mempunyai kontrol atas, dan memperoleh manfaat yang sama dari berbagai kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Keadilan dan kesetaraan gender sebagai salah satu cita-cita dan arah dalam pembangunan nasional hanya dapat terwujud jika masyarakat, khususnya aparat negara, memiliki kesadaran, kepekaan, dan respons serta motivasi yang kuat dalam mendukung terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender tersebut.

DAFTAR REFERENSI

Abdullah, Irwan (1997)  “Dari domestik ke publik: Jalan panjang pencarian identitas perempuan.” Dalam Irawan Abdullah (ed.) Sangkan paran gender. Yogyakarta: Pusat Penbelitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada

Beijing Declaration and Platform for Action.(1995) Fourth World Conference on Women. Beiijing, 15 September 1995. A/Conf.177/20 (1995) & A/Conf.177/Add.I (1975).

Fakih, Mansour (1997) Penyadaran gender: Buku panduan untuk para pekerja. Jakarta: ILO Indonesia.

Hafidz, Wardah (1995). Daftar istilah jender. Jakarta: Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita.

Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. (2000) Rencana Induk Pembangunan Nasional Pemberdayaan Perempuan 2000-2004. Jakarta: Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (2001). Panduan pelaksanaan Inpres No. 9  tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan. (Draft 26 April 2001). Jakarta: Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan

Moser, C.O.N. (1989) “Gender planning in the Third World: Meeting practical and

Mosse, J.C. (1996). “Apakah gender itu?” Dalam Mansour Fakih, Gender dan pembangunan. Yogyakarta: Rifka Annisa.

Mustari, B., Hasyah, H., Bella, R., Pandang, A., & Tahir, N.M. (2000). Konsep dasar jender: Materi pelatihan. Makassar: TPP2W Sulawesi Selatan dan Biro Bina Sosial Sekretariat Daerah Sulawesi Selatan.

Rahman, A. (2000). “Analisis jender sebagai alat analisa proyek dan hasil-hasil penelitian”. Makalah disajikan pada Advance training on gender research and anlysis for PSW Core-group trainig.. Kerjasama Program Studi Kajian Wanita PPS Universitas Indonesia dan WSP II, Jakarta: 28 Agustus – 2 September 2000.

Saptari, R. & Holzner, B. (1995) Perempuan kerja dan perubahan sosial: Sebuah pengantar studi perempuan. Jakarta: Grafiti.

Slavian, R.E. (1994) Educational psychology: Theory and practice (Fourth edition). Boston: Allyn and Bacon.

Suleeman, E. (2000) “Gender roles stereotypes and education” Dalam S. van Bemmelen, A. Habsjah, & L. Setyawati (Penyunting). (2000). Benih bertumbuh: Kumpulan karangan untuk Pprof. Tapi Omas Ihromi. Jakarta:  Kelompok Perempuan Pejuang Perempuan Tertindas. (h. 517-535).

Woman’s Support Project II (2001). Lokakarya Analisis Gender (Rangkuman 4 lokakarya). Laporan kegiatan oleh TPP2W Sulawesi Selatan bekerja sama Woman’s Support Project II.

 

 
Leave a comment

Posted by on April 23, 2011 in Tentang saya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Isu gender dalam bahan ajar

23 Apr

Isu-isu Gender dalam Bahan Ajar

Oleh: Abdullah Pandang

  1. Pengantar

Bahan ajar adalah pokok bahasan yang akan disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar biasanya ditentukan dan dikembangkan berdasarkan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) serta tujuan instruksional yang telah dirumuskan. Bahan ajar ini biasanya disusun atau diambil dari berbagai sumber. Salah satu sumber utama bahan pembelajaran adalah buku. Buku menjadi salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Buku menjadi sumber dan acuan bagi guru dalam mengembangkan bahan pembelajaran, serta menjadi sumber penting bagi siswa untuk mempelajari topik-topik yang menjadi pokok bahasan.

Bahan pembelajaran yang tersaji dalam buku dapat berwujud narasi (teks) ataupun ilustrasi gambar, bagaimanapun wujud penyajiannya, teks atau gambar, pada dasarnya itu dimaksudkan untuk membantu siswa memahami isi (content) yang menjadi pokok bahasan pembelajaran. Namun demikian, dari sejumlah penelitian yang telah dilakukan terungkap bahwa buku-buku yang dijadikan bahan ajar/belajar di sekolah banyak yang mengandung  teks dan ilustrasi gambar yang bias gender. Contoh-cotoh yang ditampilkan dalam teks ataupun gambar dalam buku-buku tersebut seringkali merepresentasikan peran, sifat, dan status yang bias gender. Pada berbagai kegiatan, aktivitas, profesi, peran, permainan, kepemilikan, tugas yang disajikan dalam buku, perempuan umumnya ditampilkan dalam peran domestik, sifat feminim, dan/atau pada posisi subordinasi (dikuasai, bawahan, atau lebih rendah), sementara laki-laki lebih banyak ditampilkan dalam peran publik, sifat maskulin, dan pada posisi mendominasi (menguasai, atasan, atau lebih tinggi).

Mengingat banyaknya kandungan materi yang bias gender dalam buku-buku pelajaran, guru perlu mengenali bentuk-bentuk bias gender yang dimaksud. Dengan demikian, guru dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat, baik dalam memilih buku yang lebih berwawasan gender, memperlakukan buku-buku yang banyak mengandung bias gender, ataupun dalam menyusun sendiri bahan ajar yang lebih sensitif gender.

  1. Bias Gender dalam Bahan Pembelajaran

Bias gender dalam bahan pembelajaran dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Sebagian terlihat dalam bahan yang berwujud teks (verbal), sebagian lagi tampak pada gambar (ilustrasi). Analisis terhadap berbagai buku ajar dari berbagai penerbit, terutama pada buku Bahasa Indonesia, PPKn, dan IPS di SD, menunjukkan bahwa dalam menampilkan tema mengenai peran gender, umumnya menempatkan perempuan di ranah domestik (80%) dibandingkan dengan laki-laki (20%). Sebaliknya, laki-laki digambarkan lebih dominan dalam peran publik (70%) dibandingkan dengan perempuan (30%). Di samping itu, perempuan dan laki-laki juga cenderung ditampilkan dalam sifat, aktivitas, jenis permainan, dan status pekerjaan yang berbeda. Perempuan, misalnya, digambarkan dalam permainan yang non-pprospektif seperti  bermain tali atau congklak, sementara bermain bola, volly, atau bulu tangkis. Perempuan bekerja dalam pisisi lebih rendah, seperti sebagai sekretaris, kasir, perawat, penjual jamu, sementara laki-laki bekerja dalam posisi yang lebih tinggi seperti direktur, dokter, pedagang besar, dan sebagainya.

Dalam teks verbal, beberapa contoh kalimat atau bacaan yang mengandung bias gender adalah sebagai berikut:

  • Ibunya masih sibuk dengan memasak. Ani segera berganti baju dan pergi ke dapur. Ia mencuci sayuran. Ia mencuci gelas dan piring yang kotor. (J.P.P Suroyo dan Y.B. Sudamanto, 2001, PPKn: Grasindo)
  • Sudah menjadi kebiasaan Ibu Berta sejak pagi pukul 0,5.00 sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk keluarga. Pak Parno, suami Ibu Berta, sibuk dengan tugasnya menyapu halaman dan memberi pakan ternaknya. (Sukaryadi, Rini Ningsih, dan Sahari, 2003, PPKn Kelas 6 SD, Yudhistira).
  • Apabila ibu sedang repot, Mira suka membantunya. Mira sudah dapat menyapu halaman. Mira juga senang membantu mencuci piring dan gelas. (Enco Sartono dan R. Suharsanto. 1997, PPKn: Yudhistira)
  • Andi dan Anti terbiasa bangun pagi. Setelah bangun, Andi membersihkan halaman rumah, sedangkan Anti membantu ibunya di dapur. (Sahari, dkk, 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira).
  • Setelah mandi, Mirna membantu ibunya menyiapkan makan pagi kemudian makan bersama ayah, ibu dan adiknya. (Sahari, dkk, 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira).
  • Pekerjaan Ibu jadi lebih ringan. Ayah membeli mesin cuci ((A. Malik Thachir dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6B, Erlangga)
  • Pak Hasan dan Ibu Indri mempunyai dua orang anak….Putraya sudah lulus sarjana teknik. Putrinya tidak lama lagi akan lulus sarjana pendidikan… (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri).
  • Pak Rahmat adalah seorang karyawan perusahaan swasta yang rajin dan disiplin. Pak Rahmat bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pak Rahmat bekerja pukul 8.00-17.00 WIB setiap harinya.  Bu Siti Nurhidayat, isteri Pak Rahmat adalah seorang guru taman kana-kanak yang sabar dan penyayang…Bu Nurhidayat biasa bekerja pukul 7.00-12.00 WIB setiap harinya. (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri).
  • Pada umumnya, ayah berperan sebagai pencari nafkah keluarga. Di samping itu, ayah berperan sebagai kepala keluarga bagi ibu dan anak-anak. … Pada umumnya, ibu sebagai pengatur rumah tangga. Kadang-kadang ibu membantu ayah atau suami dalam mencari nafkah tambahan bagi keluarga. Untuk anak-anaknya, ibu berperan  membimbing, merawat, mengasuh, dan mendidik. (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial, 3A, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri).
  • Wawan akhirnya berhenti memukul Faisal ketika perkelahiannya diketahui Pak Robin. Pak Robin langsung melerai, lalu menggandeng Wawan dan Faisal ke ruang kepala sekolah (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia 3A Tiga Serangkai)
  • Imah, gadis kecil itu sibuk memberesi dapur. Adiknya, Luhut sedang bermain gasing di lantai (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia 3A.Tiga Serangkai).
  • (Beberapa contoh soal latihan dalam buku Henny Listyastuti dan M. Mukti Aji, 2003, Matematika  Kelas 6 SD, Intan Pariwara):  

–      Karena kompor Ibu Ira agak macet, 80 menit Ibu Ira merebus aiar belum mendidih. Sudah berapa jam Ibu Ira merebus air?

–      Sawah Pak Narto berbentuk persegi panjang, digambar dengan menggunakan skala 1 : 5.000. Jika pada gambar panjangnya 4 cm dan lebar 0,5 cm, hitunglah luas sawah Pak Narto.  

–      Taman bunga Ibu Ida berbentuk persegi. Tamanbungan tersebut di gambar dengan skala 1 : 1.000. Jika pada gambar, panjang sisi persegi 4 cm, hitunglah luas taman bunga Ibu Ida. (Henny Listyastuti dan M. Mukti Aji, 2003, Matematika  Kelas 6 SD, Intan Pariwara)

–      Belanjaan Ina dari pasar adalah beras 10 kg, gula pasir 3,5 kg, bawang merah 1 pon, sayuran 1,5 kg, bawang putih 2 ons, dan lain-lain 2 kg. Berapa kilogram seluruh belanjaan Ina?

–      Ayah Andi memiliki kebun cengkih seluas 8 hektar. Kebun terbut diberikan kepada Andi 20%. Berapa hektar kebun cengkih yang diberikan kepada Andi?

  • On Sunday morning Mariani hepled her mother, Mrs Karyani, wash some clothes. Her mother told her how to take care of the clothes.  (Wasimin, dkk. 2003, Bahasa Inggris untuk Kelas 2 SLTP, Cempaka Putih).
  • The manager of the company get salary Rp 4.000.000,00 a month. Every month his family need Rp 2.500.000,00. So he can save ….money a month  (Wasimin, dkk. 2003, Bahasa Inggris untuk Kelas 2 SLTP, Cempaka Putih).

Dalam ilustrasi gambar, contoh materi buku ajar yang bias gender adalah sebagai berikut:

“Tugas mencuci dan menyeterika pakaian” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Tugas memasak dan menyiapkan makan”  (Enco Sartono & R. Suharsanto, 2002,  PPLn 2 B. Yudhistira)

“Tugas merapikan tempat tidur” (Enco Sartono & R. Suharsanto, 2002  PPLn 2 B. Yudhistira)

“Tugas menjaga anak” (Henny L &  M.Mukti Aji, 2003, Matematika Kelas 6 SD.  Intan Pariwara.

“Membawa Anak Ke Posyandu” (Saidiharjo, 2004, Cakrawala Pegetahuan Sosial, 3A. Tiga Serangkai

“Tugas belanja ke pasar” (Surana, 2004,  Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Bekerja sebagai perawat” (Lukman, dkk, 1999, Bahasa Indonesia 4B  Yudhistira

“Bekerja sebagai kasir” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Aktivitas menanam bunga” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Anak perempuan bermain tali” (Surana, 2004,  Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Anak laki-laki bermain volly (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Anak laki-laki bermain catur” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Aktiivitas anak laki-laki membuat layangan” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Aktivitas anak laki-laki membuat mainan (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Pertemuan antar warga masyarakat (Saidiharjo, 2004, Cakrawala Pegetahuan Sosial, 3A. Tiga Serangkai)

“Gotorng royong dalam masyarakat (A. Malik T., dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Bekerja sebagai dokter” (Surana, 2004,  Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Bekerja sebagai insinyur” (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

”Bekerja sebagai penjual”  (Henny L &  M.Mukti Aji, 2003, Matematika Kelas 6 SD.  Intan Pariwara.

“Istirahat  baca koran diladeni isteri” (Herawati, dkk. 1997. KridaBasa Jawa. Klaten: Intan Pariwara

  1. Kiat  Memasukkan Perspektif Gender ke dalam Bahan Pembelajaran

Guna mengembangkan bahan ajar yang sensitif gender, berikut dikemukakan beberapa kiat yang dapat ditempuh oleh guru.

  1. Menyusun sendiri bahan ajar

Dalam menyusun bahan pembelajaran, khususnya untuk bahan belajar untuk siswa, ada beberapa yang perlu diperhatikan oleh guru. Dalam buku Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2003), dikemukakan beberapa butir petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun bahan ajar yang berwawasan gender, sebagai berikut:

  • Menyajikan gambar peran yang selama ini disandang oleh laki-laki dapat pula disandang oleh perempuan, demikian pula sebaliknya.

Contoh:

      Perempuan yang menjadi supir taksi,  kepala desa, direktur, dan sebagainya;         atau  laki-laki yang  mencuci piring,   mencuci pakaian, atau memasak.

  • Menyajikan gambaran peran biologis perempuan dan laki-laki yang tidak bisa dipertukarkan.

Contoh:  Perempuan yang sedang hamil atau menyusui

  • Menyajikan gambaran peran, sifat atau posisi  perempuan dan laki-laki secara berimbang di ranah domestik dan di ranah publik.

Gambar perempuan dan laki-laki bekerjasama dalam satu tim; Ibu dan ayah          bersama-sama bekerja di dapur, dsb.

Penyusunan bahan ajar yang berwawasan gender, perlu pula memperhatikan beberapa pertimbangan sebagai berikut.

  • Seimbang. Tampilkan laki-laki dan perempuan pada jenis peran, sifat, atau posisi tertentu secara seimbang, bukan jatuh ke ekstrim lain dengan  membalikkan kenyataan dengan menempatkan perempuan menjadi nomor satu dan mengguli laki-laki pada peran publik, atau laki-laki menjadi lebih dominan pada peran domestik.
  • Alamiah.  Tidak dibuat-buat (artifisial) sehingga melatih anak memandang kenyataan adanya laki-laki dan perempuan secara sederajad. Tampilkan laki-laki atau perempuan pada peran, sifat, posisi gender yang memang sudah terdapat dalam realitas, seperti laki-laki yang memasak, atau perempuan yang menjabat pimpinan.
  • Eksplisit: ditunjukkan dengan gambar atau teks bacaan bahwa pria dan wanita  memiliki kedudukan yang sama dalam memanfaatkan, mengakses, berpartisipasi, dan untuk mengontrol sumber-sumber pembangunan.
  • Repetisi (pengulangan)  Penggambaran tentang peran, sifat, dan posisi yang  setara ditampilkan secara konsisten dan berulang.

Berikut dikemukakan beberapa contoh materi bahan pembelajaran yang  termasuk berwawasan gender yang terdapat pada beberapa buku pelajaran. Dalam teks verbal, contoh  materi bacaan yang berwawasan gender, antara lain:

  • Sekarang ibu-ibu dapat bekerja seperti yang dilakukan ayah. Ayah juga harus membantu pekerjaan ibu di rumah. Jadi, ayah dan ibu harus saling membantu (Djenen Bale dan Sumadi Sutijat, 2002. Ilmu Pengetahuan Sosial 1 untuk SD Kelas 3,  Balai Pustaka)
  • Sore itu bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, dan anak-anak datang ke balai desa untuk mendengarkan penyuluhan kesehatan dari puskesmas. (Sahari, dkk. 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira)
  • Desi satu kelompok dengan Irma dan Tino. Desi memimpin teman-temannya mengerjakan tugas. Mereka berkelompok dan berdiskusi…  (Sahari, dkk. 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira).
  •  Ibu Tika sebagai Direktris di perusahaan bidang garment, ia memiliki seorang sekretaris bernama Darman. Setiap hari mereka bekerja samapai pukul 18.00 WIB. Darman cukup kooperatif dalam menangani pelanggan tiap harinya (Depdiknas, 2003, Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional). 
  • Pak Kasdi menerima upah mengecat selama seminggu sebesar seratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah. …. Penghasilan Bi Minah setiap bulan sebesar lima ratus lima puluh ribu rupiah  (A. Malik Thachir dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6B, Erlangga
  • Mr Nuarta is a famous tailor. He has been a tailor since he finished college. His wife is Mrs Mudartini. She is a profesional dressmaker. She knows how ti make the modest woman”s clothes. They have some employees helping them ti do the work. (Wasimin, dkk. 2003, Bahasa Inggris untuk Kelas 2 SLTP, Cempaka Putih).                    

Dalam bentuk ilustrasi gambar, dapat digambarkan, sebagai berikut:

“Anggota keluarga dalam kedudukan dan peran yang sama” (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri)

“Anak laki mencuci piring, perempuan menyapu halaman” (Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender, 2003, Departemen Pendidikan Nasional)

“Perempuan dan laki-laki bekerja pada bidang yang sama” (Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender, 2003, Departemen Pendidikan Nasional)

“Bermain dengan permainan yang sama” (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Anak laki-laki dan perempuan membersihkan kelas” (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri)

“Bersama membantu korban bencana alam” (E. Sartono & R. Suharsanto, 2002, PPKn 2B SD, Jakarta: Yudhistira.

  1. Menggunakan sumber dari buku cetak yang bias gender

Jika bahan pembelajaran yang digunakan, khususnya yang akan menjadi referensi atau bahan belajar siswa,  adalah buku catakan yang telah diterbitkan, maka guru perlu memperhatikan karakteristik penyajian materi buku tersebut. Pilihlah buku yang menampilkan peran, sifat, atau posisi yang adil dan setara antara laki-laki dan perempuan atau yang kandungan bias gendernya paling sedikit.  Bahan ajar yang berwawasan gender memiliki ciri sebagai berikut:

  • Sensisitif terhadap isu gender, yaitu bahan ajar yang  mengajarkan, memperlakukan, atau menggambarkan keadilan dan kesetraan antara perempuan dan laki-laki di dalam  peran, sifat, dan pisisi pada berbagai segi kehidupan dalam masyarakat.
  • Menggambarkan potret perempuan dan laki-laki yang dinamis dalam setting masyarakat dan budaya yang relavan.  Menggambarkan realitas bahwa peran, sifat, atau posisi tertentu dalam masyarakat dapat dimiliki atau dilakoni oleh perempuan dan laki-laki.
  • Meninggalkan penggambaran peran, sifat, atau posisi berdasar stereotip gender yang keliru. Peran, sifat, atau posisi tertentu tidak secara monoton dan konsisten dipasangkan dengan jenis kelamin tertentu.

Jika buku yang tersedia dan dibutuhkan semuanya mengandung materi bias gender, guru tetap dapat menggunakannya dengan memperhatikan beberapa petunjuk sebagai berikut:

  • Kenali bagian-bagian materi yang mengandung bias gender. Suatu materi disebut bias gender apabila itu menampilkan teks atau ilustrasi gambar yang menempatkan salah satu jenis kelamin lebih dominan atau cenderung digambarkan secara berulang pada jenis  peran, sifat,  atau posisi tertentu.

Ketika kelas membahas pokok bahasan yang melibatkan materi yang bias gender, guru perlu mengemukakan penjelasan dan pesan penyeimbang. Misalnya, apabila di dalam buku ditampilkan gambar atau teks yang menggambarkan suatu peran, sifat, atau posisi tertentu diduduki oleh laki-laki, guru dapat mengemukakan bahwa peran, sifat, atau posisi seperti itu dapat pula dimiliki atau diduduki oleh perempuan, demikian pula sebaliknya.

 
Leave a comment

Posted by on April 23, 2011 in Catatan Kuliah, Tentang saya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: