RSS

Isu Gender dalam Bahan Ajar

23 Apr

Isu-isu Gender dalam Bahan Ajar

Oleh: Abdullah Pandang

  1. Pengantar

Bahan ajar adalah pokok bahasan yang akan disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar biasanya ditentukan dan dikembangkan berdasarkan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) serta tujuan instruksional yang telah dirumuskan. Bahan ajar ini biasanya disusun atau diambil dari berbagai sumber. Salah satu sumber utama bahan pembelajaran adalah buku. Buku menjadi salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Buku menjadi sumber dan acuan bagi guru dalam mengembangkan bahan pembelajaran, serta menjadi sumber penting bagi siswa untuk mempelajari topik-topik yang menjadi pokok bahasan.

Bahan pembelajaran yang tersaji dalam buku dapat berwujud narasi (teks) ataupun ilustrasi gambar, bagaimanapun wujud penyajiannya, teks atau gambar, pada dasarnya itu dimaksudkan untuk membantu siswa memahami isi (content) yang menjadi pokok bahasan pembelajaran. Namun demikian, dari sejumlah penelitian yang telah dilakukan terungkap bahwa buku-buku yang dijadikan bahan ajar/belajar di sekolah banyak yang mengandung  teks dan ilustrasi gambar yang bias gender. Contoh-cotoh yang ditampilkan dalam teks ataupun gambar dalam buku-buku tersebut seringkali merepresentasikan peran, sifat, dan status yang bias gender. Pada berbagai kegiatan, aktivitas, profesi, peran, permainan, kepemilikan, tugas yang disajikan dalam buku, perempuan umumnya ditampilkan dalam peran domestik, sifat feminim, dan/atau pada posisi subordinasi (dikuasai, bawahan, atau lebih rendah), sementara laki-laki lebih banyak ditampilkan dalam peran publik, sifat maskulin, dan pada posisi mendominasi (menguasai, atasan, atau lebih tinggi).

Mengingat banyaknya kandungan materi yang bias gender dalam buku-buku pelajaran, guru perlu mengenali bentuk-bentuk bias gender yang dimaksud. Dengan demikian, guru dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat, baik dalam memilih buku yang lebih berwawasan gender, memperlakukan buku-buku yang banyak mengandung bias gender, ataupun dalam menyusun sendiri bahan ajar yang lebih sensitif gender.

  1. Bias Gender dalam Bahan Pembelajaran

Bias gender dalam bahan pembelajaran dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Sebagian terlihat dalam bahan yang berwujud teks (verbal), sebagian lagi tampak pada gambar (ilustrasi). Analisis terhadap berbagai buku ajar dari berbagai penerbit, terutama pada buku Bahasa Indonesia, PPKn, dan IPS di SD, menunjukkan bahwa dalam menampilkan tema mengenai peran gender, umumnya menempatkan perempuan di ranah domestik (80%) dibandingkan dengan laki-laki (20%). Sebaliknya, laki-laki digambarkan lebih dominan dalam peran publik (70%) dibandingkan dengan perempuan (30%). Di samping itu, perempuan dan laki-laki juga cenderung ditampilkan dalam sifat, aktivitas, jenis permainan, dan status pekerjaan yang berbeda. Perempuan, misalnya, digambarkan dalam permainan yang non-pprospektif seperti  bermain tali atau congklak, sementara bermain bola, volly, atau bulu tangkis. Perempuan bekerja dalam pisisi lebih rendah, seperti sebagai sekretaris, kasir, perawat, penjual jamu, sementara laki-laki bekerja dalam posisi yang lebih tinggi seperti direktur, dokter, pedagang besar, dan sebagainya.

Dalam teks verbal, beberapa contoh kalimat atau bacaan yang mengandung bias gender adalah sebagai berikut:

  • Ibunya masih sibuk dengan memasak. Ani segera berganti baju dan pergi ke dapur. Ia mencuci sayuran. Ia mencuci gelas dan piring yang kotor. (J.P.P Suroyo dan Y.B. Sudamanto, 2001, PPKn: Grasindo)
  • Sudah menjadi kebiasaan Ibu Berta sejak pagi pukul 0,5.00 sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk keluarga. Pak Parno, suami Ibu Berta, sibuk dengan tugasnya menyapu halaman dan memberi pakan ternaknya. (Sukaryadi, Rini Ningsih, dan Sahari, 2003, PPKn Kelas 6 SD, Yudhistira).
  • Apabila ibu sedang repot, Mira suka membantunya. Mira sudah dapat menyapu halaman. Mira juga senang membantu mencuci piring dan gelas. (Enco Sartono dan R. Suharsanto. 1997, PPKn: Yudhistira)
  • Andi dan Anti terbiasa bangun pagi. Setelah bangun, Andi membersihkan halaman rumah, sedangkan Anti membantu ibunya di dapur. (Sahari, dkk, 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira).
  • Setelah mandi, Mirna membantu ibunya menyiapkan makan pagi kemudian makan bersama ayah, ibu dan adiknya. (Sahari, dkk, 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira).
  • Pekerjaan Ibu jadi lebih ringan. Ayah membeli mesin cuci ((A. Malik Thachir dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6B, Erlangga)
  • Pak Hasan dan Ibu Indri mempunyai dua orang anak….Putraya sudah lulus sarjana teknik. Putrinya tidak lama lagi akan lulus sarjana pendidikan… (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri).
  • Pak Rahmat adalah seorang karyawan perusahaan swasta yang rajin dan disiplin. Pak Rahmat bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pak Rahmat bekerja pukul 8.00-17.00 WIB setiap harinya.  Bu Siti Nurhidayat, isteri Pak Rahmat adalah seorang guru taman kana-kanak yang sabar dan penyayang…Bu Nurhidayat biasa bekerja pukul 7.00-12.00 WIB setiap harinya. (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri).
  • Pada umumnya, ayah berperan sebagai pencari nafkah keluarga. Di samping itu, ayah berperan sebagai kepala keluarga bagi ibu dan anak-anak. … Pada umumnya, ibu sebagai pengatur rumah tangga. Kadang-kadang ibu membantu ayah atau suami dalam mencari nafkah tambahan bagi keluarga. Untuk anak-anaknya, ibu berperan  membimbing, merawat, mengasuh, dan mendidik. (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial, 3A, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri).
  • Wawan akhirnya berhenti memukul Faisal ketika perkelahiannya diketahui Pak Robin. Pak Robin langsung melerai, lalu menggandeng Wawan dan Faisal ke ruang kepala sekolah (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia 3A Tiga Serangkai)
  • Imah, gadis kecil itu sibuk memberesi dapur. Adiknya, Luhut sedang bermain gasing di lantai (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia 3A.Tiga Serangkai).
  • (Beberapa contoh soal latihan dalam buku Henny Listyastuti dan M. Mukti Aji, 2003, Matematika  Kelas 6 SD, Intan Pariwara):  

–      Karena kompor Ibu Ira agak macet, 80 menit Ibu Ira merebus aiar belum mendidih. Sudah berapa jam Ibu Ira merebus air?

–      Sawah Pak Narto berbentuk persegi panjang, digambar dengan menggunakan skala 1 : 5.000. Jika pada gambar panjangnya 4 cm dan lebar 0,5 cm, hitunglah luas sawah Pak Narto.  

–      Taman bunga Ibu Ida berbentuk persegi. Tamanbungan tersebut di gambar dengan skala 1 : 1.000. Jika pada gambar, panjang sisi persegi 4 cm, hitunglah luas taman bunga Ibu Ida. (Henny Listyastuti dan M. Mukti Aji, 2003, Matematika  Kelas 6 SD, Intan Pariwara)

–      Belanjaan Ina dari pasar adalah beras 10 kg, gula pasir 3,5 kg, bawang merah 1 pon, sayuran 1,5 kg, bawang putih 2 ons, dan lain-lain 2 kg. Berapa kilogram seluruh belanjaan Ina?

–      Ayah Andi memiliki kebun cengkih seluas 8 hektar. Kebun terbut diberikan kepada Andi 20%. Berapa hektar kebun cengkih yang diberikan kepada Andi?

  • On Sunday morning Mariani hepled her mother, Mrs Karyani, wash some clothes. Her mother told her how to take care of the clothes.  (Wasimin, dkk. 2003, Bahasa Inggris untuk Kelas 2 SLTP, Cempaka Putih).
  • The manager of the company get salary Rp 4.000.000,00 a month. Every month his family need Rp 2.500.000,00. So he can save ….money a month  (Wasimin, dkk. 2003, Bahasa Inggris untuk Kelas 2 SLTP, Cempaka Putih).

Dalam ilustrasi gambar, contoh materi buku ajar yang bias gender adalah sebagai berikut:

“Tugas mencuci dan menyeterika pakaian” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Tugas memasak dan menyiapkan makan”  (Enco Sartono & R. Suharsanto, 2002,  PPLn 2 B. Yudhistira)

“Tugas merapikan tempat tidur” (Enco Sartono & R. Suharsanto, 2002  PPLn 2 B. Yudhistira)

“Tugas menjaga anak” (Henny L &  M.Mukti Aji, 2003, Matematika Kelas 6 SD.  Intan Pariwara.

“Membawa Anak Ke Posyandu” (Saidiharjo, 2004, Cakrawala Pegetahuan Sosial, 3A. Tiga Serangkai

“Tugas belanja ke pasar” (Surana, 2004,  Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Bekerja sebagai perawat” (Lukman, dkk, 1999, Bahasa Indonesia 4B  Yudhistira

“Bekerja sebagai kasir” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Aktivitas menanam bunga” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Anak perempuan bermain tali” (Surana, 2004,  Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Anak laki-laki bermain volly (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Anak laki-laki bermain catur” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Aktiivitas anak laki-laki membuat layangan” (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Aktivitas anak laki-laki membuat mainan (A. Malik Thachir, dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Pertemuan antar warga masyarakat (Saidiharjo, 2004, Cakrawala Pegetahuan Sosial, 3A. Tiga Serangkai)

“Gotorng royong dalam masyarakat (A. Malik T., dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6A, Jakarta: Erlangga)

“Bekerja sebagai dokter” (Surana, 2004,  Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Bekerja sebagai insinyur” (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

”Bekerja sebagai penjual”  (Henny L &  M.Mukti Aji, 2003, Matematika Kelas 6 SD.  Intan Pariwara.

“Istirahat  baca koran diladeni isteri” (Herawati, dkk. 1997. KridaBasa Jawa. Klaten: Intan Pariwara

  1. Kiat  Memasukkan Perspektif Gender ke dalam Bahan Pembelajaran

Guna mengembangkan bahan ajar yang sensitif gender, berikut dikemukakan beberapa kiat yang dapat ditempuh oleh guru.

  1. Menyusun sendiri bahan ajar

Dalam menyusun bahan pembelajaran, khususnya untuk bahan belajar untuk siswa, ada beberapa yang perlu diperhatikan oleh guru. Dalam buku Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2003), dikemukakan beberapa butir petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun bahan ajar yang berwawasan gender, sebagai berikut:

  • Menyajikan gambar peran yang selama ini disandang oleh laki-laki dapat pula disandang oleh perempuan, demikian pula sebaliknya.

Contoh:

      Perempuan yang menjadi supir taksi,  kepala desa, direktur, dan sebagainya;         atau  laki-laki yang  mencuci piring,   mencuci pakaian, atau memasak.

  • Menyajikan gambaran peran biologis perempuan dan laki-laki yang tidak bisa dipertukarkan.

Contoh:  Perempuan yang sedang hamil atau menyusui

  • Menyajikan gambaran peran, sifat atau posisi  perempuan dan laki-laki secara berimbang di ranah domestik dan di ranah publik.

Gambar perempuan dan laki-laki bekerjasama dalam satu tim; Ibu dan ayah          bersama-sama bekerja di dapur, dsb.

Penyusunan bahan ajar yang berwawasan gender, perlu pula memperhatikan beberapa pertimbangan sebagai berikut.

  • Seimbang. Tampilkan laki-laki dan perempuan pada jenis peran, sifat, atau posisi tertentu secara seimbang, bukan jatuh ke ekstrim lain dengan  membalikkan kenyataan dengan menempatkan perempuan menjadi nomor satu dan mengguli laki-laki pada peran publik, atau laki-laki menjadi lebih dominan pada peran domestik.
  • Alamiah.  Tidak dibuat-buat (artifisial) sehingga melatih anak memandang kenyataan adanya laki-laki dan perempuan secara sederajad. Tampilkan laki-laki atau perempuan pada peran, sifat, posisi gender yang memang sudah terdapat dalam realitas, seperti laki-laki yang memasak, atau perempuan yang menjabat pimpinan.
  • Eksplisit: ditunjukkan dengan gambar atau teks bacaan bahwa pria dan wanita  memiliki kedudukan yang sama dalam memanfaatkan, mengakses, berpartisipasi, dan untuk mengontrol sumber-sumber pembangunan.
  • Repetisi (pengulangan)  Penggambaran tentang peran, sifat, dan posisi yang  setara ditampilkan secara konsisten dan berulang.

Berikut dikemukakan beberapa contoh materi bahan pembelajaran yang  termasuk berwawasan gender yang terdapat pada beberapa buku pelajaran. Dalam teks verbal, contoh  materi bacaan yang berwawasan gender, antara lain:

  • Sekarang ibu-ibu dapat bekerja seperti yang dilakukan ayah. Ayah juga harus membantu pekerjaan ibu di rumah. Jadi, ayah dan ibu harus saling membantu (Djenen Bale dan Sumadi Sutijat, 2002. Ilmu Pengetahuan Sosial 1 untuk SD Kelas 3,  Balai Pustaka)
  • Sore itu bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, dan anak-anak datang ke balai desa untuk mendengarkan penyuluhan kesehatan dari puskesmas. (Sahari, dkk. 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira)
  • Desi satu kelompok dengan Irma dan Tino. Desi memimpin teman-temannya mengerjakan tugas. Mereka berkelompok dan berdiskusi…  (Sahari, dkk. 2003, PPKn untuk Kelas 3 SD, Yudhistira).
  •  Ibu Tika sebagai Direktris di perusahaan bidang garment, ia memiliki seorang sekretaris bernama Darman. Setiap hari mereka bekerja samapai pukul 18.00 WIB. Darman cukup kooperatif dalam menangani pelanggan tiap harinya (Depdiknas, 2003, Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional). 
  • Pak Kasdi menerima upah mengecat selama seminggu sebesar seratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah. …. Penghasilan Bi Minah setiap bulan sebesar lima ratus lima puluh ribu rupiah  (A. Malik Thachir dkk, 2000, Bina Bahasa Indonesia 6B, Erlangga
  • Mr Nuarta is a famous tailor. He has been a tailor since he finished college. His wife is Mrs Mudartini. She is a profesional dressmaker. She knows how ti make the modest woman”s clothes. They have some employees helping them ti do the work. (Wasimin, dkk. 2003, Bahasa Inggris untuk Kelas 2 SLTP, Cempaka Putih).                    

Dalam bentuk ilustrasi gambar, dapat digambarkan, sebagai berikut:

“Anggota keluarga dalam kedudukan dan peran yang sama” (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri)

“Anak laki mencuci piring, perempuan menyapu halaman” (Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender, 2003, Departemen Pendidikan Nasional)

“Perempuan dan laki-laki bekerja pada bidang yang sama” (Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender, 2003, Departemen Pendidikan Nasional)

“Bermain dengan permainan yang sama” (Surana, 2004, Aku Cinta Bahasa Indonesia, 3A. Tiga Serangkai)

“Anak laki-laki dan perempuan membersihkan kelas” (Saidihardjo, 2004, Cakrawala Pengetahuan Sosial 3A. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri)

“Bersama membantu korban bencana alam” (E. Sartono & R. Suharsanto, 2002, PPKn 2B SD, Jakarta: Yudhistira.

  1. Menggunakan sumber dari buku cetak yang bias gender

Jika bahan pembelajaran yang digunakan, khususnya yang akan menjadi referensi atau bahan belajar siswa,  adalah buku catakan yang telah diterbitkan, maka guru perlu memperhatikan karakteristik penyajian materi buku tersebut. Pilihlah buku yang menampilkan peran, sifat, atau posisi yang adil dan setara antara laki-laki dan perempuan atau yang kandungan bias gendernya paling sedikit.  Bahan ajar yang berwawasan gender memiliki ciri sebagai berikut:

  • Sensisitif terhadap isu gender, yaitu bahan ajar yang  mengajarkan, memperlakukan, atau menggambarkan keadilan dan kesetraan antara perempuan dan laki-laki di dalam  peran, sifat, dan pisisi pada berbagai segi kehidupan dalam masyarakat.
  • Menggambarkan potret perempuan dan laki-laki yang dinamis dalam setting masyarakat dan budaya yang relavan.  Menggambarkan realitas bahwa peran, sifat, atau posisi tertentu dalam masyarakat dapat dimiliki atau dilakoni oleh perempuan dan laki-laki.
  • Meninggalkan penggambaran peran, sifat, atau posisi berdasar stereotip gender yang keliru. Peran, sifat, atau posisi tertentu tidak secara monoton dan konsisten dipasangkan dengan jenis kelamin tertentu.

Jika buku yang tersedia dan dibutuhkan semuanya mengandung materi bias gender, guru tetap dapat menggunakannya dengan memperhatikan beberapa petunjuk sebagai berikut:

  • Kenali bagian-bagian materi yang mengandung bias gender. Suatu materi disebut bias gender apabila itu menampilkan teks atau ilustrasi gambar yang menempatkan salah satu jenis kelamin lebih dominan atau cenderung digambarkan secara berulang pada jenis  peran, sifat,  atau posisi tertentu.

Ketika kelas membahas pokok bahasan yang melibatkan materi yang bias gender, guru perlu mengemukakan penjelasan dan pesan penyeimbang. Misalnya, apabila di dalam buku ditampilkan gambar atau teks yang menggambarkan suatu peran, sifat, atau posisi tertentu diduduki oleh laki-laki, guru dapat mengemukakan bahwa peran, sifat, atau posisi seperti itu dapat pula dimiliki atau diduduki oleh perempuan, demikian pula sebaliknya.

 
Leave a comment

Posted by on April 23, 2011 in Tentang saya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: