RSS

LAPORAN MANAJEMEN BK Pelaksanaan bimbingan dan Konseling Di sekolah SMPN 1 Marioriwawo Soppeng

01 Apr

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).

Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.

Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit., diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri.

Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut.

Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya.

Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian.

Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1).

Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.

Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual).

Berdasarkan pembahasan diatas maka penulis ingin melihat sejauh mana pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah secara nyata dengan mengobservasi salah satu sekolah dan bagaimana kenyataan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah.

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana Pelaksanaan bimbingan dan Konseling Di sekolah SMPN 1 Marioriwawo Soppeng?
  2. C.    Tujuan Penulisan
    1. Untuk Mengetahui pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
    2. Untuk Memenuhi tugas mata Kuliah Manajemen BK
  3. D.    Manfaat Penulisan
    1. Manfaat Teoritis

Sebagai bahan informasi dalam pengembangan khasanah ilmu pengetahuan                     dan sebagai bahan informasi bagi penulis selanjutnya yang mempunyai bahan kajian yang sama atau serumpun dengan tulisan ini.

  1. Manfaat Praktis
    1. Bagi Jurusan sebagai bahan pembelajaran dan referensi Untuk memperbaiki kinerja konselor yang ada di Lapangan
    2. Bagi mahasiswa agar mengetahui pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah dengan fakta yang terjadi di lapangan.
    3. Bagi Sekolah agar mengetahu sejauh mana kelamahan atau kesalahan dalam pelaksanaan program BK di sekolah.

 

 

 

 

 

 

BAB II

KERANGKA TEORI

 

 

  1. A.     Bimbingan dan Konseling

 

  1. 1.      Bimbingan

Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu muncul rumusan tetang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain.

Maka untuk memahami pengertian dari bimbingan perlu mempertimbangkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut : “Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).

Frank Parson merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.“Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri” (Chiskolm,1959).

Pengertian bimbingan yang dikemukan oleh Chiskolm bahwa bimbingan membantu individu memahami dirinya sendiri, pengertian menitik beratkan pada pemahaman terhadap potensi diri yang dimiliki.“Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu” (Bernard & Fullmer ,1969).

Pengertian yang dikemukakan oleh Bernard & Fullmer bahwa bimbingan
dilakukan untuk meningkatakan pewujudan diri individu. Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan lingkungannya. “Bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik” (Mathewson,1969).

Mathewson mengemukakan bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan pada proses belajar. Pengertian ini menekankan bimbingan sebagai bentuk pendidikan dan pengembangan diri, tujuan yang diinginkan diperoleh melalui proses belajar.

Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat diambil kesimpulan tentang pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”.

  1. 2.      Konseling

Pengertian Konseling Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan” Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut. (Berdnard & Fullmer ,1969).

 

 

  1. James F. Adam

“Suatu pertalian timbal balik antara 2 orang individu dimana yang seorang (counselor) membantu yang lain (conselee) supaya ia dapat memahami dirinya dalam hubungan denfgan masalah-masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan waktu yang akan datang”

  1. (Pepinsky & Pepinsky,dalam Shertzer & Stone,1974)
    1. 1.    Konseling adalah suatu proses interaksi antara dua orang individu,masing-masing disebut konselor dan klien.
    2. 2.    Dilakukan dalam suasana yang profesionalBertujuan dan berfungsi sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien
    3. (Smith,dalam Shertzer & Stone,1974)
      1. 1.    Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuanBantuan diberikan dengan meng interpreswtasikan fakta-fakta atau data,baik mengenai individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya,khususnya menyangkut pilihan-pilihan,dan rencana-rencana yang dibuat.
      2. Division of Conseling Psychologi)
        1. 1.    Konseling merupakan proses pemberian bantuan
        2. 2.    Bantuan diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangan.
        3. Mc. Daniel,1956
          1. 1.    Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien.
          2. 2.    Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitanyang dihadapi.
          3. 3.    Tujuan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaiaknnya dirinya,baik dengan diri maupun dengan lingkungan.

Berdasarkan Rumusan diatas maka yang dimaksud dengan Konseling adalah:
“Proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara Konseling oleh seorang ahli (disebut Konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dialami oleh klien.

  1. B.     Tujuan Bimbingan dan Konseling

Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-bangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.  Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.

1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah sebagai berikut.

a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/ Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.

b. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.

c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.

d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.

e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.

f. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat

g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.

h. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.

j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.

k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah sebagai berikut

a. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.

b. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.

c.  Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.

d. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.

e. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.

f.  Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian

 

3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah sebagai berikut

a. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.

b. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.

c. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.

d. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.

e. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.

f. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.

g. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.

h. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.  Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.

i. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

 

  1. C.     Fungsi Bimbingan dan Konseling

 

  1. 1.    Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (penidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembang-an potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
  2. 2.    Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
  3. 3.    Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
  4. 4.    Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
  5. 5.    Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  6. 6.    Fungsi Pencegahan (Preventif), yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
  7. 7.    Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
  8. 8.    Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
  9. 9.    Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.

10  Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.

 

  1. D.     Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling

Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah.

Prinsip-prinsip itu adalah:

  1. 1.    Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli : Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
  2. 2.    Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi: Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimal-kan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
  3. 3.    Bimbingan menekankan hal yang positif: Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
  4. 4.    Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama: Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
  5. 5.    Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling: Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
  6. 6.        Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan: Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.

 

  1. E.     Asas Bimbingan dan Konseling

Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.

  1. 1.    Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
  2. 2.    Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
  3. 3.    Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terseleng-garanya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
  4. 4.    Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
  5. 5.    Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
  6. 6.    Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
  7. 7.    Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
  8. 8.    Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
  9. 9.    Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaan-nya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamal-kan nilai dan norma tersebut.
    1. 10.    Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
    2. 11.    Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.

 

  1. F.      Komponen Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling mengandung empat komponen pelayanan, yaitu: (1) pelayanan dasar bimbingan; (2) pelayanan responsif, (3) perencanaan indiviual, dan (4) dukungan sistem. Keempat komponen program tersebut dapat digambarkan sebagai berikut

  1. 1.    Pelayanan Dasar

Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka pan-jang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkem-bangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini. Asesmen kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan pengalaman tersetruktur yang disebutkan.

  1. a.      Tujuan

Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

  1. b.      Fokus pengembangan

Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut aspek aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas atas dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan: (1) self-esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan masalah, (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya, dan (7) perilaku bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA) mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, (2) pemantapan pilihan program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.

 

  1. 2.    Pelayanan Responsif

Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangan. Konseling indiviaual, konseling krisis, konsultasi dengan orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam bantuan yang dapat dilakukan dalam pelayanan responsif.

  1. a.      Tujuan

Tujuan pelayanan responsif adalah membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tujuan pelayanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi konseli yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.

  1. b.      Fokus pengembangan

Fokus pelayanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan konseli. Masalah dan kebutuhan konseli berkaitan dengan keinginan untuk memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya secara positif. Kebutuhan ini seperti kebutuhan untuk memperoleh informasi antara lain tentang pilihan karir dan program studi, sumber- sumber belajar, bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas.

Masalah lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan diri konseli, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangan. Masalah konseli pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.

Masalah (gejala perilaku bermasalah) yang mungkin dialami konseli diantaranya: (1) merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa rendah diri, (3) berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan-nya secara matang), (4) membolos dari Sekolah/Madrasah, (5) malas belajar, (6) kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang bisa bergaul, (8) prestasi belajar rendah, (9) malas beribadah, (10) masalah pergaulan bebas (free sex), (11) masalah tawuran, (12) manajemen stress, dan (13) masalah dalam keluarga.

Untuk memahami kebutuhan dan masalah konseli dapat ditempuh dengan cara asesmen dan analisis perkembangan konseli, dengan menggunakan berbagai teknik, misalnya inventori tugas-tugas perkembangan (ITP), angket konseli, wawancara, observasi,sosiometri, daftar hadir konseli, leger, psikotes dan daftar masalah konseli atau alat ungkap masalah (AUM).

  1. 3.    Perencanaan Individual

Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan peren-canaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman konseli secara mendalam dengan segala karakteris-tiknya, penafsiran hasil asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki konseli amat diperlukan sehingga konseli mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam mengem-bangkan potensinya secara optimal, termasuk keber-bakatan dan kebutuhan khusus konseli. Kegiatan orientasi, informasi, konseling individual, rujukan, kola-borasi, dan advokasi diperlukan di dalam implementasi pelayanan ini.

  1. a.      Tujuan

Perencanaan individual bertujuan untuk membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembang-an dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya. Tujuan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi konseli untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana  pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi layanan perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan konseli untuk memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh konseli, pelayanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing konseli. Melalui pelayanan perencanaan individual, konseli diharapkan dapat:

1). Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang Sekolah/Madrasah, dunia kerja, dan masyarakatnya.

2). Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.

3). Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.

4). Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.

  1. b.      Fokus pengembangan

Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek akademik, karir, dan sosial-pribadi. Secara rinci cakupan fokus tersebut antara lain mencakup pengembangan aspek (1) akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajar-an tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat; (2) karir meliputi mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan (3) sosial-pribadi meliputi pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif.

  1. 4.        Dukungan Sistem

Ketiga komponen diatas, merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli.

Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memper-lancar penyelenggaraan pelayanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di Sekolah/Madrasah. Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek: (a) pengembangan jejaring (networking), (b) kegiatan manajemen, (c) riset dan pengembangan.

  1. a.      Pengembangan Jejaring (networking)

Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Sekolah/Madrasah, (4) bekerjasama dengan personel Sekolah/Madrasah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseli, (5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling, dan (6) melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling.

  1. b.      Kegiatan Manajemen

Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3) pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.

  1. 1.      Pengembangan Profesionalitas

Konselor secara terus menerus berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya melalui (a) in-service training, (b) aktif dalam organisasi profesi, (c) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah; seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (d) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).

  1. 2.      Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi

Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf Sekolah/Madrasah lainnya, dan pihak institusi di luar Sekolah/ Madrasah (pemerintah, dan swasta) untuk memper-oleh informasi, dan umpan balik tentang pelayanan bantuan yang telah diberikannya kepada para konseli, menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseli, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya Sekolah/ Madrasah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua konseli, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).

  1. 3.      Manajemen Program

Suatu program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah.

 

  1. G.    Pemetaan Tugas Konselor dalam Jalur Pendidikan Formal
    1. 1.    Tugas Konselor di Taman Kanak-kanak

Kebutuhan pengembangan diri konseli di Taman Kanak-kanak nyaris sepenuhnya ditangani oleh guru yang sesuai dengan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya, menggunakan spektrum karakteristik perkembangan konseli sebagai konteks permainan yang memfasilitasi perkembangan kepribadian konseli secara utuh. Namun begitu, konselor juga dapat berperan serta secara produktif di jenjang Taman Kanak-kanak sebagai Konselor Kunjung (Roving Counselor) yang diangkat pada tiap gugus Sekolah/Madrasah untuk membantu guru dalam menyusun program bimbingan yang terpadu dengan proses pembelajaran, dan mengatasi perilaku mengganggu (disruptive behavior) anak sesuai keperluan, yang salah pendekatannya adalah Direct Behavioral Consultation.

  1. 2.    Tugas Konselor di Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah

Sampai saat ini, di jenjang Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah tidak ditemukan posisi struktural untuk Konselor. Namun demikian, sesuai dengan tingkat perkembangan konseli usia Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah, kebutuhan akan pelayanannya bukannya tidak ada, meskipun tentu saja berbeda dari ekspektasi kinerja konselor di jenjang Sekolah Menengah dan jenjang Perguruan Tinggi. Dengan kata lain, konselor juga dapat berperanserta secara produktif di jenjang Sekolah Dasar, sebagai Konselor Kunjung (Roving Counselor) yang diangkat pada setiap gugus Sekolah/Madrasah, 2 (dua) – 3 (tiga) konselor untuk membantu guru mengatasi perilaku mengganggu (disruptive behavior) sesuai keperluan, antara lain dengan pendekatan Direct Behavioral Consultation.

 

  1. 3.    Tugas Konselor di Sekolah Menengah

Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Jenjang Sekolah Menengah merupakan setting yang paling subur bagi konselor karena di jenjang itulah konselor dapat berperan secara maksimal dalam memfasilitasi konseli mengaktualisaikan potensi yang dimilikinya secara optimal. Konselor berperan untuk membantu peseta didik dalam menumbuhkembangkan potensinya. Salah satu potensi yang seyogyannya berkembang pada diri konseli adalah kemandirian, seperti kemampuan mengambil keputusan penting dalam perjalanan hidupnya yang berkaitan dengan pendidikan maupun persiapan karier. Dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling, konselor seyogyanya melakukan kerjasama (kolaborasi) dengan berbagai pihak yang terkait, seperti dengan kepala Sekolah/ Madrasah, guru-guru mata pelajaran, orang tua konseli. Di samping itu dapat bekerjasama dengan ahli misalnya dokter, psikolog, dan psikolog.

Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pelayanan bimbingan dan konseling lebih difokuskan kepada upaya membantu konseli mengokohkan pilihan dan pengembangan karir sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Bimbingan karir (membangun soft skills) dan bimbingan vokasional (membangun hard skilss) harus dikembangkan sinergis, dan untuk itu diperlukan kolaborasi produktif antara konselor dengan guru bidang studi/mata pelajaran/keterampilan vokasional.

  1. 4.    Tugas Konselor di Perguruan Tinggi

Di jenjang perguruan tinggi, konseli telah difasilitasi baik penumbuhan karakter serta penguasaan hard skills maupun soft skills lebih lanjut yang diperlukan dalam perjalanan hidup serta dalam mempersiapkan karier. Oleh karena itu, di jenjang Perguruan Tinggi pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih difokuskan pada pemantapan karir, sebisa mungkin yang paling cocok baik dengan rekam jejak pendidikannya maupun kebutuhan untuk mengakutalisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif, sejahtera serta berguna untuk manusia lain.

 

 

 

 

 

  1. H.    Personel Bimbingan dan Konseling

Personel utama pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling adalah konselor dan staf administrasi bimbingan dan konseling. Sedangkan personel pendukung pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling adalah segenap unsur yang terkait dalam pendidikan (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, staf administrasi) dalam organigram pelayanan bimbingan dan konseling, dengan Koordinator dan Guru Pembimbing/ Konselor serta staf administrasi bimbingan dan konseling sebagai pelaksana utamanya. Uraian tugas masing-masing personil tersebut, khusus dalam kaitannya dengan pelayanan bimbingan dan konseling, adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Kepala Sekolah/Madrasah dan Wakil Kepala Sekolah/ Madrasah

Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan di Sekolah/Madrasah secara menyeluruh, khususnya pelayanan bimbingan dan konseling. Tugas kepala Sekolah/Madrasah dan wakil kepala Sekolah/Madrasah adalah: Mengkoordinir segenap kegiatan yang direncanakan, diprogramkan dan berlangsung di Sekolah/Madrasah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.

  1. Menyediakan sarana dan prasarana, tenaga, dan berbagai fasilitas lainnya untuk kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.
  2. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.
  3. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah kepada pihak-pihak terkait, terutama Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya.
  4. Menyediakan fasilitas, kesempatan dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Madrasah Bidang Bimbingan dan Konseling.

 

 

 

 

 

  1. 2.      Koordinator Bimbingan dan Konseling Koordinator Bimbingan dan Konseling

Salah satu konselor diantaranya, berperan sebagai pembantu kepala Sekolah/Madrasah bidang pelayanan bimbingan dan konseling yang bertugas:

  1. Mengkoordinasikan para konselor
  2. Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada segenap warga Sekolah/Madrasah (peserta didik, guru, dan personil Sekolah/Madrasah lainnya), orang tua peserta didik, dan masyarakat.
  3. Menyusun program kegiatan bimbingan dan konseling (program pelayanan dan kegiatan pendukung, program mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan)
  4. Melaksanakan program bimbingan dan konseling
  5. Mengadministrasikan program kegiatan bimbingan dan konseling
  6. Menilai hasil pelaksanaan program kegiatan bimbingan dan konseling
  7. Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan bimbingan dan konseling
  8. Memberikan tindak lanjut terhadap analisis hasil penilaian bimbingan dan konseling
  9. Mengusulkan kepada Kepala Sekolah/Madrasah dan mengusahakan bagi terpenuhinya tenaga, prasana dan sarana, alat dan perlengkapan pelayanan bimbingan dan konseling.
  10. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Kepala Sekolah/ Madrasah
  11. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas Sekolah/Madrasah Bidang Bimbingan dan Konseling.
  12. 3.      Konselor

Konselor adalah tenaga pendidik yang berkualifikasi strata satu (S-1) program studi Bimbingan dan Konseling dan menyelesaikan Pendidikan Profesi Konselor (PPK)., Sedangkan penerima/pengguna pelayanan profesi bimbingan dan konseling dinamakan Konseli. Konselor sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli atau tenaga profesional, bertugas:

  1. Melakukan studi kelayakan dan needs assessment pelayanan bimbingan dan konseling.
  2. Merencanakan program bimbingan dan konseling untuk satuan-satuan waktu tertentu. Program-program tersebut dikemas dalam program harian/mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan.
  3. Melaksanakan program pelayanan bimbingan dan konseling.
  4. Menilai proses dan hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
  5. Menganalisis hasil penilaian pelayanan bimbingan dan konseling.
  6. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian pelayanan bimbingan dan konseling.
  7. Mengadministrasikan kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakannya.
  8. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dalam pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluruh kepada Koordinator Bimbingan dan Konseling serta Kepala Sekolah/Madrasah
  9. Mempersiapkan diri, menerima dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas Sekolah/Madrasah Bidang Bimbingan dan Konseling.
  10. Berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas serta pihak terkait dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
  11. 4.      Guru Mata Pelajaran/Praktik

Sebagai pengampu mata pelajaran dan/atau praktikum, guru dalam pelayanan bimbingan dan konseling memiliki peran sebagai berikut:

  1. Membantu konselor mengidentifikasi peserta didik-peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling, serta membantu pengumpulan data tentang peserta didik.
  2. Mereferal peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada konselor.
  3. Menerima peserta didik alih tangan dari konselor, yaitu peserta didik yang menurut konselor memerlukan pelayanan pengajaran/latihan khusus (seperti pengajaran/latihan perbaikan, program pengayaan).
  4. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada peserta didik yang memerlukan pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
  5. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah peserta didik, seperti konferensi kasus.
  6. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya
  7. 5.      Wali Kelas

Sebagai pembina kelas, dalam pelayanan bimbingan dan konseling Wali Kelas berperan :

  1. Melaksanakan peranannya sebagai penasihat kepada peserta didik khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
  2. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani pelayanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling.
  3. Berpartisipasi aktif dalam konferensi kasus.
  4. Mereferal peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada konselor.
  5. 6.      Staf Administrasi

Staf administrasi memiliki peranan yang penting dalam memperlancar pelaksanaan program bimbingan dan konseling. Mereka diharapkan membantu menyediakan format-format yang diperlukan dan membantu para konselor dalam memelihara data dan serta sarana dan fasilitas bimbingan dan konseling yang ada.

 

  1. I.       Sarana dan Prasana Bimbingan dan Konseling di Sekolah
    1. 1.      Ruang Bimbingan dan Konseling

Ruang bimbingan dan konseling merupakan salah satu sarana penting yang turut mempengaruhi keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling, pengadaan ruang bimbingan dan konseling perlu mempertimbangkan letak atau lokasi, ukuran, jenis dan jumlah ruangan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Letak atau lokasi ruang bimbingan dan konseling di suatu Sekolah/Madrasah dipilih lokasi yang mudah diakses (strategis) oleh konseli/ konseli tetapi tidak terlalu terbuka. Dengan demikian seluruh konseli bisa dengan mudah dan tertarik mengunjungi ruang bimbingan dan konseling, dan prinsip-prinsip confidential tetap terjaga.

Jumlah ruang bimbingan dan konseling disesuaikan dengan kebutuhan jenis layanan dan jumlah ruangan. Antar ruangan sebaiknya tidak tembus pandang. Jenis ruangan yang diperlukan meliputi: (1) ruang kerja, (2), ruang administrasi/ data, (3) ruang konseling individual, (4) ruang bimbingan dan konseling kelompok, (5) ruang biblio terapi, (6) ruang relaksasi/ desensitisasi, dan (7) ruang tamu. Adapun besaran ukuran ruangan disesuaikan dengan jumlah konseli/ konseli dan jumlah konselor yang ada di suatu Sekolah/ Madrasah.

Ruangan kerja bimbingan dan konseling disiapkan agar dapat berfungsi mendukung produktivitas kinerja konselor, maka diperlukan fasilitas berupa: komputer dan meja kerja konselor, dan almari, dan sebagainya .Ruangan administrasi/data perlu dilengkapi dengan fasilitas berupa: lemari penyimpan dokumen (buku pribadi, catatan-catatan konseling, dan lain-lain) maupun berupa soft copy. Dalam hal ini harus menjamin keamanan data yang disimpan.

Ruangan konseling individual merupakan tempat yang nyaman dan aman untuk terjadinya interaksi antara konselor dengan konseli. Ruangan ini dilengkapi dengan satu set meja kursi atau sofa, tempat untuk menyimpan majalah, yang dapat berfungsi sebagai biblio terapi.

Ruangan bimbingan dan konseling kelompok merupakan tempat yang nyaman dan aman untuk terjadinya dinamika kelompok dalam interaksi antara konselor dengan konseli dan konseli dengan konseli. Ruangan ini dilengkapi dengan perlengkapan antara lain: sejumlah kursi, karpet, tape recorder, VCD dan televisi.

Ruangan biblio terapi pada prinsipnya mampu menjadi tempat bagi para konseli/ konseli dalam menerima informasi, baik yang berkenaan dengan informasi pribadi, sosial, akademik, dan karir di masa datang. Karena itu selain menyediakan informasi secara lengkap, ruangannyapun mampu menopang banyak orang. Ruangan ini dilengkapi dengan perlengkapan sebagai berikut: daftar buku/ referensi (katalog), rak buku, ruang baca, buku daftar kunjungan siswa. Jika memungkinkan fasilitas pendukung seperti fasilitas internet.

Ruangan relaksasi / desensitisasi / sensitisasi, yang bersih, sehat, nyaman, dan aman. Jika memungkinkan ruangan ini dapat dilengkapi dengan karpet, tape recorder, televisi, VCD/ DVD, dan bantal

Ruangan tamu hendaknya berisi kursi dan meja tamu, buku tamu, jam dinding, tulisan dan atau gambar yang memotivasi konseli untuk berkembang dapat berupa motto, peribahasa, dan lukisan. Contoh minimal penataan ruangan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dapat dilihat dalam lampiran

Fasilitas ruangan yang diharapkan tersedia ialah ruangan tempat bimbingan yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses pelayanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Ruangan itu hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para konseli/ konseli yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa nyaman, dan segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling. Khusus ruangan konseling individual harus merupakan ruangan yang memberi rasa aman, nyaman dan menjamin kerahasiaan konseli.

Di dalam ruangan hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen bimbingan dan konseling, himpunan data konseli, dan berbagai data serta informasi lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti penampilan informasi pendidikan dan jabatan. Yang tidak kalah penting ialah, ruangan itu hendaklah nyaman yang menyebabkan para pelaksana bimbingan dan konseling betah bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan program pelayanan yang disediakan

  1. 2.      Fasilitas-fasilitas

Selain ruangan, fasilitas lain yang diperlukan untuk penyelenggaraan bimbingan dan konseling antara lain:

  1. Dokumen program Bimbingan dan Konseling (buku program tahunan, buku program semesteran, buku kasus, dan buku harian)
  2. Instrumen pengumpul data dan kelengkapan administrasi seperti:
    1. Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat Sekolah/Madrasah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar.
    2. Alat pengumpul data teknik non-tes yaitu: biodata konseli, pedoman wawancara, pedoman observasi (seperti pedoman observasi dalam kegiatan pembelajaran, pedoman observasi dalam bimbingan dan konseling kelompok), catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, angket (angket konseli dan orang tua), biografi dan autobiografi, sosiometri, AUM, ITP, format satuan pelayanan, format-format surat (panggilan, referal), format pelaksanaan pelayanan, dan format evaluasi.
    3. Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data. Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi, map dan file dalam komputer. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing konseli, maka perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali  aspek-aspek data konseli yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
    4. Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat, buku-buku panduan, buku informasi tentang studi lanjutan atau kursus-kursus, modul bimbingan, atau buku materi pelayanan bimbingan, buku hasil wawancara, laporan kegiatan pelayanan, data kehadiran konseli, leger Bimbingan dan Konseling, buku realisasi kegiatan Bimbingan dan Konseling, bahan-bahan informasi pengembangan keterampilan pribadi, sosial, belajar maupun karir, dan buku/ bahan informasi pengembangan keterampilan hidup, perangkat elektronik (seperti komputer, tape recorder, film, dan CD interaktif, CD pembelajaran, OHP, LCD, TV); filing kabinet/ lemari data (tempat penyimpanan dokumentasi dan data konseli), dan papan informasi Bimbingan dan Konseling.

Dalam kerangka pikir dan kerangka kerja Bimbingan dan Konseling terkini, para konselor Sekolah/Madrasah perlu terampil menggunakan perangkat komputer, perangkat komunikasi dan berbagai software untuk membantu mengumpulkan data, mengolah data, menampilkan data maupun memaknai data sehingga dapat diakases secara cepat dan secara interaktif. Perangkat tersebut memiliki peranan yang sangat strategis dalam pelayanan Bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah dewasa ini. Dalam konteks ini, para konselor dituntut untuk menguasai sewajarnya penggunaan beberapa perangkat lunak dan perangkat keras komputer.

Banyak sekali perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan oleh konselor dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada para konseli. Selain itu dengan menggunakan perangkat lunak komputer, konselor dapat memberikan pelayanan Bimbingan dan konseling secara lebih efisien, dan dengan daya jangkau pelayanan yang lebih luas. Sebagai contoh perangkat lunak itu antara lain, program database konseli, perangkat ungkap masalah, analisis tugas dan tingkat perkembangan konseli, dan beberapa perangkat tes tertentu.

Komputer yang disediakan di ruang Bimbingan dan Konseling hendaknya memiliki memori yang cukup besar karena akan menyimpan semua data konseli, memiliki kelengkapan audio agar dapat dimanfaatkan setiap konseli untuk menggunakan berbagai CD interaktif informasi maupun pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan masalah, serta kelengkapan akses internet agar dapat mengakses informasi penting yang diperlukan konseli maupun dimanfaatkan konseli untuk melakukan e-counseling.

Salah satu perangkat lunak yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling adalah Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Pengolahan data secara komputerisasi memungkinkan kebutuhan konseli terdeteksi secara rinci sehingga dapat diturunkan manjadi program umum sekoloha, program untuk tingkatan kelas maupun program individual setiap konseli. Kondisi ini memungkinkan karena data setiap konseli, data konseli dalam kelompok kelas, data konseli sebagai bagian dari tingkatan kelas maupun data seluruh Sekolah/Madrasah dapat tertampilkan.

Berbagai film dan CD interaktif sebagai bahan penunjang pengembangan keterampilan pribadi, sosial, belajar dan karir juga harus tersedia, sehingga para konseli tidak hanya memperoleh informasi melalui buku ataupun papan informasi. Media bimbingan merupakan pendukung optimalisasi pelayanan bimbingan dan konseling.

  1. 3.      Pembiayaan (Sumber dan Alokasi)

Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen bimbingan dan konseling. Perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran yang diperlukan untuk mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan Belanja Sekolah/Madrasah. Memilih strategi manajemen yang tepat dalam usaha mencapai tujuan program bimbingan dan konseling memerlukan analisa terhadap anggaran yang dimiliki. Strategi manajemen program yang dipilih harus disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Strategi yang dipilih tanpa mempertimbangkan anggaran yang dimiliki mungkin hanya akan menjadi angan-angan yang mungkin sulit untuk sampai mencapai tujuan program.

Kebijakan lembaga yang kondusif perlu diupayakan. Kepala Sekolah/Madrasah harus memberikan dukungan yang serius dan sistematis terhadap penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. Pelaksanaan program bimbingan dan konseling harus diperlakukan sebagai kegiatan yang utuh dari seluruh program pendidikan Komponen anggaran meliputi:

  1. Anggaran untuk semua aktivitas yang tercantum pada program \
  2. Anggaran untuk aktivitas pendukung (seperti untuk home visit, pembelian buku pendukung/ sumber bacaan,, mengikuti seminar/ workshop atau kegiatan profesi dan organisasi profesi, pengembangan staf, penyelenggaraan MGP, pembelian alat/ media untuk pelayanan bimbingan dan konseling).
  3. Anggaran untuk pengembangan dan peningkatan kenyamanan ruang atau pelayanan bimbingan dan konseling (seperti pembenahan ruangan, pengadaan buku-buku untuk terapi pustaka, penyiapan perangkat konseling kelompok).

Sumber biaya selain dari RABS (rencana anggaran belanja Sekolah/Madrasah), dengan dukungan kebijakan kepala Sekolah/Madrasah jika memungkinkan dapat mengakses dana dari sumber-sumber lain melalui kesepakatan lembaga dengan pihak lain, atau menggunakan sumber yang dialokasikan oleh komite Sekolah/Madrasah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

 

  1. A.    Lokasi/Setting

Kegiatan ini dilaksanakan di kabupaten Soppeng tepatnya di SMP Negeri 1 Marioriwawo Kec. Takkala

  1. B.     Waktu

Pelaksanaan Observasi di SMPN 1 Marioriwawo dilaksanakan pada hari Jumat & Sabtu 15-16 April 2011 pukul 08:00 WITA

  1. C.    Subjek

Pada pelaksanaan observasi bimbingan dan Konseling di SMPN 1 Marioriwawo sasaran observasi adalah

  1. Siswa
  2. Guru BK
  3. Guru Mata pelajaran
  4. Kepala Sekolah

 

  1. D.    Metode penelitian

Dalam observasi ini kami menggunakan metode penelitian yaitu berupa Wawancara, Angket dan dokumentasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

 

Pelaksanaan Observasi dilakukan di kabupaten soppeng tepatnya di SMP Negeri 1 Marioriwawo hari jum’at & sabtu tanggal 15-16 April 2011, dalam observasi ini kami melaksanakannya selama 2 hari yaitu jumat dan sabtu. Pada hari jumat kami membagikan angket kepada siswa berisi tentang kebutuhan terhadap bimbingan dan konseling di sekolah dan kebiasaan belajar dan pada waktu itu kami membagi lima puluh lembar angket di bagi dalam dua kelas yaitu pada kelas VIII.2 Khusus & VIII.4. Setelah itu kami menyelinginya dengan memberikan Games-Games pada dua kelas tersebut. Pada waktu itu pula sebenarnya rencana awal untuk wawancara adalah hari sabtu namun dilihat kondisi pada waktu itu kepala sekolah di sekolahj itu punya kegiatan pada hari sabtu maka hari itu pula dilaksanakan wawancara untuk kepala sekolah yang dilakukan oleh salah satu surveyor dan Pada hari kedua observasi yaitu hari sabtu agenda kami yaitu wawancara kepada guru BK,Mata Pelajaran,Siswa.

Dalam pelaksanaan observasi ini kami menggunakan metode wawawncara,angket dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data,dalam prakteknya kami mengambil beberapa responden

  1. A.     Wawancara

Dalam pelaksanaan wawancara kami mengambil responden yaitu kepala sekolah,siswa,guru BK dan Mata pelajaran.

Hasil Wawancara:

  1. 1.      Kepala Sekolah

Pada proses wawancara ternyata kepala sekolah cukup baik memandang tentang guru kinerja BK di Sekolah itu karena melihat kondisi yang ada siswa memilki banyak masalah dan perlu penyelesaiannya dan ini dilakukan oleh guru Bknya. Dan proses wawancara itu pula ternyata pada sekolah tersebut masalah yang sering terjadi adalah siswa bolos,siswa melawan guru dan lain-lain. Responden ini mengatakan pula bahwa hanya siswa yang bermasalah saja yang masuk ke ruangan BK hal ini dikarenakan kurangnya tenaga guru BK dan SDM.

Dalam wawancara yang berlangsung kepala sekolah memberikan pandangan cukup bagus tentang pekerjaan Guru BK alasannya karena cukup membantu sekolah karena banyak hal yang khusus hanya bisa dilakukan BK namun hal ini sangat bertentangan dengan teori yang seharusnya dimana harus ada jam khusus untuk Guru BK melaksanakan Programnya namun dalam sekolah ini tidak ada sama sekali jam khusus untuk guru BK.

Dan dalam wawancara yang berlangsung kepala sekolah mengatakan bahwa tidak ada kebutuhan-kebutuhan khusus untuk guru sebagai hal dalam pelaksanaan program Bknya hal ini disebabkan karena guru Bknya tidak pernah menuliskan secara tertulis kebutuhanya dan memberikan kapada kepala sekolah kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan, dan responden itu pula mengatakan bahwa tidak ada dana khusus untuk Guru Bk dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah tersebut.

  1. 2.      Guru BK

Pada proses wawancara yang kami laksanakan pada guru pembimbing atau biasa disebut guru BK, kami menanyakan mengenai program layanan apa saja yang dilakukan oleh guru BK yang bersangkutan dan kami mendapatkan informasi  bahwa layanan yang diberikan adalah pola 17,.Namun Program layanan tersebut tidak berjalan maksimal karena  tidak seimbangnya  tenaga kerja BK yang hanya 1 Orang dibandingkan siswa yang dihadapi sebanyak 464 Siswa sehingga tugas yang seharusnya diselesaikan oleh guru BK namun diselesaikan oleh pihak sekolah .

Dalam wawancara berlangsung didapatkan informasi bahwa di SMPN 1 MARIORIWAWO masalah yang sering ditangani oleh guru BK maupun pihak sekolah adalah  siswa yang bolos, bawa HP,Berkelahi  dan lain-lain. Dalam proses itu pula ditanyakan mengenai fasilitas yang terdapat pada sekolah dann hasilnya ternyata di sekolah itu tidak terdapatnya ruang khusus untuk guru BK , melainkan ruangan gabung dengan wakil kepala sekolah, adapun fasilitas yang terdapat diruangan itu yaitu : papan pola 17, lemari,meja, papan struktur BK di Sekolah. Mengenai kendala-kendala yang selama ini guru BK alami adalah kurangnya tenaga guru BK disekolah dan tidak adanya biaya khusus untuk kegiatan guru BK.

  1. 3.      Guru Mata Pelajaran

Pada proses wawancara dengan guru mata pelajaran sebenarnya sama halnya dengan pandangannya dengan kepala sekolah mengenai BK dan kinerjanya,dengan mewawancarai 6 orang guru dapat disimpulkan bahwa pada umumnya guru mata pelajaran berpandangan bahwa pekerjaaan guru BK sangat bagus karena pekerjaan ini merupakan suatu pekerjaan yang memberikan solusi bagi siswa-siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dialami oleh siswa.

Bila menanyakan pada proses wawancara mengenai  hubungan guru mata pelajaran dan Guru BK rata-rata guru memberikan jawaban yang hubungan diantara kami yang sekedar untuk bagaimana agar setiap masalah yang alami siswa dapat diselesaikan dengan kerjasama dari guru mata pelajaran,wali maupun kepala sekolah. Mengakhiri wawancara ternyata pada umumnya guru-guru di sekolah itu memberikan saran agar guru BK di Sekolah Tersebut ditambah dan guru Bknya juga harus menunjukkan bagaimanakah seharusnya pekerjaan untuk guru BK di Sekolah.

  1. 4.      Siswa

Pada proses wawancara dengan siswa, kami mewawancarai 7 orang siswa sebagai sample dari keseluruhan siswa di SMPN 1 MARIORIWAWO dan pada umumnya mereka memahami secara umum bahwa BK adalah tempat siswa-siswa yang melanggar peraturan sekolah,sebagai tempat pemberian nasehat bagi siswa yang mengalami masalah. Dan ketika ditanya bagaimana sikapnya apabila dipangil keruang BK,pendapat mereka cukup beragam,ada yang takut karena harus bertanda tangan ada juga yang tidak takut karena merasa tidak punya salah.

Ketidakpahaman siswa tentang BK disebabkan oleh tidak adanya pemberian pemahaman kepada mereka tentang BK, hal ini diakui oleh semua peserta wawancara. Mereka hanya memandang profesi BK dari sudut pandang pemikiran mereka sendiri,bahka ada siswa yang mengaku tidak mengerti pekerjaan BK yang sebenarnya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada jam khusus untuk pelaksanaan BK di sekolah mereka,guru BK hanya mengisi jam-jam kosong pada saat guru mata pelajaran tidak melaksanakan proses belajar mengajar.

Materi yang biasanya diberikan oleh guru BK hanya berupa pemberian nasehat kepada siswa dan juga pemberian motivasi. Ketika ditanya kekurangan guru BKnya,mereka mengatakan bahwa guru BK di sekolah mereka kurang tegas dan kurang adil dalam mengambil keputusan dan manfaat guru BK menurut mereka hanya sebagai pemberi nasehat dan membantu meringankan pekerjaan guru lain.

 

  1. B.     Angket

Dalam pemberian angket kami mengambil responden siswa dan guru BK

  1. 1.      Guru BK

Pemberian angket kepada guru BK berupa keterlaksanaan dan kebutuhan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, permasalahan dan kendala dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dan saran untuk perbaikan dan penyempurnaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Angket ini terdiri dari 2 hal yaitu keterlaksanaan indikator dan kebutuhan panduan dimana keterlaksanaan indikator terdiri kotak alternatif jawaban SL,JR dan TP dan kebutuhan panduan terdiri kotak alternatif Ya atau tidak.

Dari hasil validasi angket dapat disimpulkan bahwa semua tugas-tugas yang tertera dalam angket hampir semuaya tidak pernah diberikan kepada siswa  namun semua kegiatan itu sangat dibutuhkan oleh guru dan siswa. Hasil dari angket itu mengenai perencanaan dan kendala pelaksanaan Program BK ternyata di Sekolah SMPN 1 MARIORIWAWO dari segi perencanaan mengenai program BK responden itu mengatakan “ perencanaan program biasanya terlambat dibuat karena menunggu masukan dari guru BK sekabupaten, siapa tahu ada perbaikan lagi” dan mengenai Pelaksanaannya responden itu mengatakan “ Karena tidak ada jam khusus, pelaksanaan biasanya tidak sesuai dengan program (hanya waktu luang saja,tidak ada guru mengajar” dan mengenai Evaluasi & Tindak lanjut “ Terkadang ada campur tangan dari orang lain”

Sebagai saran untuk perbaikan dan penyempurnaan Program Bimbingan dan konseling di sekolah responden itu mengatakan dari segi perencanaaan “sebelum masuk semester harusnya ada program yang menyeluruh” dan mengenai Pelaksanaan “Seharusnya ada 3 orang guru BK karena lebih 400 siswa namun hanya 1 guru BK”

  1. 2.      Siswa

 

Pemberian angket kepada siswa berupa kebutuhan terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Angket ini terdiri dari 2 hal yaitu keterlaksanaan bimbingan dan kebutuhan akan bimbingan terdiri kotak alternatif jawaban SL,JR dan TP dan kebutuhan panduan terdiri kotak alternatif butuh atau tidak butuh.

Angket ini diberikan kepada 50 siswa dari berbagai kelas sebagai sampel dari keseluruhan siswa di SMP NEGERI 1 MARIORIWAWO. Adapun hasil dari angket yang telah diberikan pada siswa meliputi sebagai berikut :

Hasil angket siswa (Inventori)

SL = 136/50 X 100 = 272

JR = 255/50 X 100 = 510

TP = 266/50 X 100 = 532

Dari hasil validitas pemberian angket kepada siswa dapat disimpulkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa sangat kurang. Hal ini dibuktikan dari tingginya persentase siswa yang yang menjawab keterlaksanaan pelayanan bimbingan konseling  kurang maksimal dan hampir semua siswa membutuhkan akan layanan bimbingan konseling

.

 

 

 

Melihat dari proses pengumpulan data itu dapat dipahami bahwa Salah Satu Fakta menarik yang didapatkan di sekolah tersebut yaitu kekurangannya tenaga Guru Pembimbing yang hanya berjumlah satu orang dan harus menangani sekitar    siswa. Dan Belum adanya jam khusus untuk guru Bimbingan disekolah tersebut lagi-lagi dengan alasan kurangnya tenaga pendidik di sekolah tersebut. selain itu tidak adanya dana khusus yang disediakan oleh kepala sekolah untuk menunjang kegiatan bimbingan di sekolah tersebut. Faktor sarana dan prasarana yang juga tidak memadai. Tidak adanya ruangan khusus tersendiri untuk guru bk disekolah.

Fakta selanjutnya yang kami temukan waktu observasi di SMP 1 MARIORIWAWO  adalah tidak adanya kerja sama yang efektif antara guru BK dan guru mata pelajaran contohnya saja ketika ada masalah yang di hadapi siswa yang dianggap masih bisa diselsaikan oleh guru mata pelajaran maka diselesaikan langsung oleh guru yang bersangkutan tanpa campur tangan guru BK , namun ketika ada masalah besar yang dihadapi oleh siswa maka langsung di limpahkan atau di alih tangankan kasuskan masalah tersebut ke guru BK.

Kemudian fakta selanjutnya yang kami temukan di sekolah SMP 1 MARIORIWAWO adalah program layanan yang digunakan dalam proses konseling masih menggunakan pola 17 bukan pola layanan 17 plus sahingga mengakibatkan penggunaan layanan tersebut sering kali tidak tepat dalam proses bimbingan dan penyelesaian masalah siswa

 

 

BAB V

PENUTUP

 

 

  1. A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas  dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling di SMPN 1 Marioriwawo sangat kurang dalam berbagai hal baik itu mengenai fasilitas-fasilitas,tenaga guru BK dan Biaya khusus untuk pelaksanaan program BK di sekolah. Jadi sebagai kesimpulan seharusnya pada setiap sekolah mempunyai program pelayanan BK dan mempunya guru BK yang sesuai dengan jumlah siswa di setiap sekolah.

 

  1. B.     Saran

Gunakanlah laporan ini dengan sebaik-baiknya dan jadikanlah laporan ini sebagai bahan referensi untuk laporan yang sejenis.

 

  1.  

DAFTAR PUSTAKA

 

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN

Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole

Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.

Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,

Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi,

Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL,

 

 

Lampiran Angket untuk Siswa

 

INVENTORI SISWA

                                                                                   

                                                                                                                                                                                                    No. Urut

        Nama SMA: _­­__________________________________ [___|___]___|­

                       

                                     

 

WAKTU PELAKSANAAN

 

 

Hari/Tanggal Pengisian

 

 

 

 

 

 

 

IDENTITAS SURVEYOR

 

 

Nama Surveyor

 

TTD Surveyor

 

 

Pekerjaan

 

 

 

Alamat

 

 

 

Telepon untuk Recek

 

 

 

IDENTITAS RESPONDEN

 

 

Nama

 

TTD Responden

 

 

Sekolah

 

 

 

Kelas

 

 

 

Jenis Kelamin

 

 

 

Tempat/Tgl Lahir

 

 

 

Alamat

 

 

 

Telepon untuk Recek

 

 

 

 

 

KEBUTUHAN TERHADAP BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

                Berikt dikemukakan sejumlah bentuk pelayanan bantuan dalam rangka membantu siswa membuat perencanaan Bimbingan dan Konseling.. Anda diminta memberi informasi mengenai dua hal, yaitu:

  1. Keterlaksanaan bimbingan, yaitu terlaksana-tidaknya setiap butir kegiatan bimbingan yang dimaksud di sekolah anda. Ini dijawab dengan memberi tanda silang ( X ) kotak alternatif jawaban SL  (Selalu), JR (jarang), atau TP  pada kolom sisi kiri
  2. Kebutuhan akan  bimbingan, yaitu butuh atau  tidaknya anda mendapatkan bentuk bimbingan yang dimaksud. Ini dijawab dengan memberi tanda silang ( X ) kotak alternatif  B (butuh)  atau T (tidak butuh)  pada kolom sisi kanan.

SL

JR

TP

Pelayanan Bimbingan dan Konseling

B

T

     

Mendapatkan informasi dari guru pembimbing tentang Bimbingan dan Konseling

   
     

Mendapatkan layanan informasi dari guru pembimbing tentang seluk beluk Bimbingan dan Konseling

   
     

Mengikuti psikotes atau tes psikologis untuk mengetahui bakat dan kemampuan saya

   
     

Dibantu untuk mengetahui kekuatan dan potensi saya untuk studi lanjut

   
     

Dibantu untuk mengetahui kekuatan dan potensi saya untuk memasuki dunia kerja

   
     

Dibantu untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan yang perlu saya atasi untuk mengkuti studi lanjut

   
     

Dibantu untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan yang perlu saya atasi untuk memasuki dunia kerja

   
     

Dibimbing untuk memilih jurusan di SMA yang sesuai potensi bakat dan kemampuan saya

   
     
  1. Dibimbing untuk memilih aktivitas ekstrakurikuler yan sesuai karateristik pribadi serta bakat dan minat saya.
   
     
  1. Dibimbing untuk memilih jurusan/program studi  perguruan tinggi sesuai bakat dan minat saya
   
     
  1. Mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh guru pembimbing
   
     
  1. Mengikuti ceramah narasumber luar sekolah dalam rangka pemberian informasi karier dan pendidikan lanjut.
   
     
  1. Mendapatkan bimbingan-konseling  pribadi untuk mengatasi kebingungan dan problem saya terhadap masa depan
   
     
  1. Dibimbing untuk mengembangkan sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk bekerja
   

Lampiran Pokok Wawancara

POKOK PERTANYAAN UNTUK SISWA

Petunjuk

  • Gunakan teknik wawancara mendalam (pertanyaan-pertanyayan grandtour, terbuka, dan probing)
  • Gunakan tape-recorder, namun tetap menyiapkan catatan (guna mengantisipasi kemacetan tape-recorder)
  • Catat identitas penting responden (nama, jenis kelamin, serta nama dan lokasi sekolah) dan tanggal pelaksanaan wawancara.
 
  1. 1.      Pandangan Siswa tentang BK
    1. Apa yang mereka pahami tentang BK?
    2. Bagaimana sikapnya jika dipanggil ke Ruang BK?
    3. Bagaimana Pengalaman berkonsultasi atau mendapatkan layanan? seperti apa?
    4. Apakah pernah diberikan pemahaman tentang BK? Dan bagaimana?
    5. Bagaimana menurut anda pekerjaan atau profesi guru BK?
    6. 2.      Pandangan siswa tentang Guru BK
      1. Bagaimana Penampilan Guru BK anda?
      2. Bagaimana  guru BK anda menerima siswa bila siswa itu ke ruang bk?
      3. Apa yang dilakukan guru BK anda di sekolah? Dan bagaimana ia melakukannya?
      4. Bagaimana hubungan siswa dengan guru BK?
      5. 3.      Pelaksanaan bimbingan klasikal
        1. Adakah jam khusus Pemberian layanan BK?
        2. Seberapa sering guru BK mengisi jam-jam yang kosong?
        3. Materi dan Bentuk layanan BK apa yang diberikan?
        4. Bagaimana pandangan siswa tentang pekerjaan/Profesi Guru BK?
        5. Bagaimana Pelaksanaan Profesi BK?
        6. Adakah jam khusus guru BK Melaksanakan Bimbingan?
        7. Jelaskan kekurangan guru BK di sekolah?
        8. Apa manfaat pekerjaan/profesi BK menurut siswa dan jelaskan?

POKOK-POKOK PERTANYAAN UNTUK GURU  BK

Petunjuk

  • Gunakan teknik wawancara mendalam (pertanyaan-pertanyayan grandtour, terbuka, dan probing)
  • Gunakan tape-recorder, namun tetap menyiapkan catatan (guna mengantisipasi kemacetan tape-recorder)
  • Catat identitas penting responden (nama, jenis kelamin, serta nama dan lokasi sekolah) dan tanggal pelaksanaan wawancara.
 

 

  1. 1.      Pandangan Tentang  Program
    1. Apakah Ada program Layanan BK yang diberikan?
    2. Bagaimana Pelaksanaan Layanan Itu?
    3. Bagaimana perkembangan siswa?
    4. Masalah apa yang sering dialami siswa di sekolah ?

 

  1. 2.      Sarana dan Prasarana
    1. Apa saja fasilitas pendukung dalam melaksanakan program BK di sekolah?
    2. Apa saja sarana & prasarana yang tersedia? Sebutkan dan Jelaskan kegunaanya?
    3. Apakah ada anggaran khusus guru  BK dari kepala sekolah? Dan berapa?

 

  1. 3.      Pelaksanaan Program
    1. Apakah kendala-kendala dalam melakukan setiap layanan BK? Sebutkan dan jelaskan?
    2. Bagaimana hubungan anda dengan orang tua siswa?
    3. Apakah guru bk punya database siswa? Dan bagaimana cara menghimpunnya?
    4. Berapa jumlah guru BK? Dan siapa namax?

 

 

 

POKOK-POKOK PERTANYAAN UNTUK GURU MATA PELAJARAN

Petunjuk

  • Gunakan teknik wawancara mendalam (pertanyaan-pertanyayan grandtour, terbuka, dan probing)
  • Gunakan tape-recorder, namun tetap menyiapkan catatan (guna mengantisipasi kemacetan tape-recorder)
  • Catat identitas penting responden (nama, jenis kelamin, serta nama dan lokasi sekolah) dan tanggal pelaksanaan wawancara.
 

 

Pandangan Tentang Kerja sama

 

  1. Bagaimana Pandangan Guru Mata pelajaran tentang Guru BK?
  2. Bagaimana hubungan antara guru BK & Guru mata pelajaran?
  3. Bagaimana perkembangan siswa?
  4. Apakah Bapak/Ibu pernah mengkonsultasikan kepada guru BK tentang siswa yang bermasalah dalam mata pelajaran bapak/ibu? Tindak lanjut
  5. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang kinerja guru BK Selama ini?
  6. Apa saran Bapak/Ibu agar kinerja antara Guru Mata pelajaran & Guru BK Berjalan dengan baik?

 

 

POKOK-POKOK PERTANYAAN UNTUK  KEPALA SEKOLAH

Petunjuk

  • Gunakan teknik wawancara mendalam (pertanyaan-pertanyayan grandtour, terbuka, dan probing)
  • Gunakan tape-recorder, namun tetap menyiapkan catatan (guna mengantisipasi kemacetan tape-recorder)
  • Catat identitas penting responden (nama, jenis kelamin, serta nama dan lokasi sekolah) dan tanggal pelaksanaan wawancara.
 

 

Pandangan Tentang BK dan Guru BK

 

  1. Bagaimana pandangan tentang BK?
  2. Bagaimana  Pandangan tentang Guru BK?
  3. Bagaimana kinerja guRU BK  selama ini?
  4. Berapa banyak guru BK Yang anda disekolah anda?
  5. Hal seperti apa yang Bapak instruksikan kepada mereka?
  6. Apakah ada jam khusus yang bapak alokasikan untuk mereka?
  7. Menurut bapak bagaimana kinerja guru BK selama ini?
  8. Apakah Bapak menyediakan sarana & prasarana untuk proses BK?

 

 

 

Lampiran-lampiran

                                                                                                                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                               

 

                Pembagian Angket  Siswa di Kelas VIII.4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      

 

 

 

 

 

 

 

 

      

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      

       Pembagian Angket  Siswa di Kelas VIII.2 khusus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

               

      Sarana dan prasarana untuk mendukung program Bimbingan dan konseling

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           Wawancara

 

 

 

 

 

                          

          Wawancara dengan Guru BK                                            Wawancara dengan kepala sekolah        

 

 

 

             Wawancara dengan siswa                                        Wawancara dengan guru Mata pelajaran

 

 

 

 

About these ads
 
4 Comments

Posted by on April 1, 2012 in Tentang saya

 

4 responses to “LAPORAN MANAJEMEN BK Pelaksanaan bimbingan dan Konseling Di sekolah SMPN 1 Marioriwawo Soppeng

  1. rachmat

    July 2, 2012 at 3:41 pm

    sangat bagus materinya.
    terima kasih

     
  2. pay

    September 1, 2012 at 8:39 pm

    itu yang saya inginkan materinya.salam konseling semoga citra BK ke depan diinstitusi pendidikan tambah lebih baik.

     
    • bukunnq

      September 10, 2012 at 9:56 pm

      ok maksih…. citra bk insya ALLAH akan bAIK jika kita mw mengubah citr itu…

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,847 other followers

%d bloggers like this: